Adenium, Penuh Siasat dan Tipu Daya

Mempertahankan usia band hingga lebih dari satu dekade bukanlah perkara mudah. Apalagi jika sering dihiasi keluar masuknya personel. Namun berbekal visi dan misi yang sama, Adenium sukses membangun konsistensi paten dalam tubuh mereka. Genre rock modern yang  dihidangkan memiliki keunikan tersendiri dengan tuturan vokal yang tak sekadar berteriak.

Hanya saja, konsistensi itu memang tidak dibarengi produktivitas yang seimbang. Sejak kali pertama terbentuk tahun 1999 silam band yang diawaki Bayu (vokal), Didot (gitar), Riyo (gitar), Arie (bass) dan Aldi (dram) ini baru menelurkan satu EP (Unsolved-2003), satu singel yang dilibatkan dalam album kompilasi,”Save Our Community Vol.2″ (2007) dan satu album penuh “Self-titled” yang dirilis 2011 lalu via Good Record/Real Music.

“Seperti band-band indie pada umumnya, masalah keterbatasan dana dan kesibukan masing-masing personel menjadi penghambat. Tapi untuk album penuh pertama kami  memang memikirkan konsepnya secara matang,” ujar Arie perihal terbendungnya proses kreatif mereka. “Mulai dari pembuatan musik, recording, mixing, mastering hingga distribusi semuanya dilakukan secara  D.I.Y (Do It Yourself).”

Namun hasil akhir dari penggarapan album perdana mereka tersebut terbilang cukup memuaskan. Selain kontur-kontur musiknya variatif, lirik yang dituturkan pun lebih banyak bertema tentang kondisi sosial dan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta ketimbang kisah cinta gombal seperti kebanyakan band-band boneka industri sekarang ini.

Adenium mengaku, saat memutuskan masuk industri mereka memang harus sedikit berkompromi dengan pasar. Namun bukan berarti harus melacurkan diri dan mengebiri ego rock yang sudah menjadi merk dagang mereka. Dengan segala siasat dan tipu daya dalam setiap treknya, mereka mampu menyuguhkan barisan komposisi yang memikat.

“Pada intro singel “Seharusnya” kami suguhkan musik yang easy listening dan menghanyutkan, tetapi pada klimaksnya warna musik rock begitu mendominasi. Bisa dibilang, kami melakukan penipuan.  Keunikan juga terdapat pada lagu “September”, yang menyelipkan puisi kecil sebagai penggoda yang menggelitik gendang telinga,” beber Riyo

Selain piawai di studio, Adenium juga kerap tampil di sejumlah gigs mulai dari yang sekelas pensi hingga festival bertaraf  nasional. Yang terakhir adalah event ‘Djarum Super Rock Fest 2012’ dimana  mereka berbagi hari dengan band-band semisal The Painkiller, RI1, Sinclarity dan Sepultura.

“Gila! Bayangin aja bisa main di salah satu event rock terbesar di Indonesia yang notabene ada Sepultura di situ. Gueudah nggak tau mesti bilang apa. Yang jelas bisa bermain di situ adalah sebuah pengalaman paling yang paling hebat buat gue dan Adenium”, ade mengungkapkan perasaan bahagianya bermain di event rock tahunan yang digelar di Lapangan D Senayan, Jakarta pada 10-11 November 2012 kemarin..

Meski belum merasa menjadi magnet bagi industri musik indonesia, dengan segala bekal yang sudah mereka kantongi Adenium berharap bisa mengubah musik Indonesia yang cenderung seragam dan itu-itu saja. Tugas yang tidak mudah memang, namun bukan tidak mungkin bisa diwujudkan. Dan yang paling penting adalah bagaimana Adenium menjaga konsistensi dan denyut jantung mereka di scene musik rock Tanah Air.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s