Black Star, Bakal Lebih Gelap di Album Kedua

Mengawali karir musikalnya di panggung-panggung indie di awal tahun 2000an, lalu menjajal berbagai kompetisi seperti “Festival Indie Depok 2006” dan  “LA Lights Indiefest 2008”, hingga akhirnya merilis album perdana “Self-titled” melalui jalur distrubusi Fiasco Records tahun 2009 silam. Itulah perjalanan panjang yang diarungi  Black Star, band berkontur britrock yang digawangi Emir (vokal), Alul (gitar), Yudi  (gitar), Q-nos (bass), Ine (kibord) dan Roby (dram). Kini, mereka tetap konsisten meluncur di jalur indie dan siap kembali ke studio untuk memulai proses rekaman album penuh keduanya.

Sebenarnya, apa sih yang membuat mereka tetap memilih jalur independen? “Musik itu pekerjaan hati, kami hanya memilih jalur yang bisa mendukung karya yang sesuai hati kami, kebetulan di Negara ini yang bisa mengakomodir itu hanyalah jalur indie,”  tutur Emir kepada inrocknesia.com. “Kompetisi band-band indie memang diperlukan untuk mewadahi dan mensupport eksistensi band seperti kami di tengah gempuran band-band berlabel dan bermodal besar.”

Tujuan awal mereka mengikuti kompetisi-kompetisi tersebut sebenarnya cukup sederhana, yakni ingin memperkenalkan musik Black Star ke khalayak luas. “Lagu yang kami ikutkan dalam kompetisi itu sebagian besar adalah lagu yang tidak masuk di dalam album pertama kami. Jadi itu adalah wujud kecintaan kami dengan karya kami sendiri sekaligus mengukur sejauh mana masyarakat bisa menerima musik yang kami buat dengan idealisme kami sendiri,” Emir menambahkan.

Tak sampai di situ, Emir dkk juga kerap kali menyumbangkan lagunya untuk sejumlah album kompilasi amal seperti “We Are All Palestinian” (2001) yang didedikasikan untuk korban perang Palestina dan “Not By Yourself” (2009) untuk korban bencana gempa bumi dan tsunami Jepang. Hal ini mereka lakukan semata-mata sebagai ungkapan rasa perduli terhadap mereka yang sedang tertimpa musibah. “Kami juga ingin menunjukkan bahwa dengan musik kita bisa menghibur dan juga mempersatukan orang-orang untuk memberikan kontribusi dalam bentuk penggalangan dana dengan musik sebagai alat penghibur dan pemersatunya,” timpal Ine.

Mengenai album keduanya, saat ini mereka sudah menyiapkan sekitar 16 lagu dan baru akan memulai proses rekaman di akhir tahun 2012 nanti. Kesibukan kerja para personelnya memang membuat mereka harus pintar-pintar memilih waktu. Sejauh ini mereka telah mendapuk nomor berjudul “Penuh Diksi” sebagi singel andalannya dan sudah menerobos beberapa tangga lagu di stasiun radio.

Untuk urusan tema,  kali ini Black Star berkutat pada hal yang berbeda dengan album pertama. Di samping isu politik dan sedikti tema cinta, fenomena aneh dalam kehidupan sosial lebih mendominasi barisan liriknya. Konsep musik yang ditawarkan juga lebih ringan. Beberapa trek bahkan bernuansa akustik. “Lebih easy listening dan minimalis aransemennya tetapi tetap bernuansa aneh, sakit, gelap dan gloomy,”  Emir kembali berujar. “Benang merahnya masih britrock. Tapi tekstur dan warna lagunya akan berbeda.”

Tapi Ine berkilah, menurutnya, musik yang bersemayam dalam album kedua mereka tidak lagi berpatokan kepada musik-musik luar yang awalnya menjadi kiblat dari masing-masing personel. “Lebih ke suasana hati dan chemistry dari para personelnya. Lagu-lagu tersebut dibuat dengan jati diri Black Star”. Dan melalui album ini Black Star berharap pendengar bisa merasakan kesedihan, kesakitan dan kemarahan yang mereka tuangkan dalam karya-karyanya. “Semoga menjadi sound theme dalam hidup mereka,” pungkas Ine.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s