Divine, Kembali ke Akar

Dalam waktu dekat, pasukan thrash metal Tanah Air Divine akan melepas album penuh kedua mereka yang berlabel self-titled. Band yang kini digawangi Aji Kurnia Nugroho (vokal), Ucokkk Tampubolon (gitar), Muhammad Heyckel (gitar),  Ben Alif Gunawi (bass), dan Erlangga (dram) ini siap menghidangkan barisan komposisi old school thrash metal yang lebih raw, lebih harmonik, sekaligus lebih kencang dan cepat dibanding album sebelumnya.

Menurut Ucokkk, dengan masuknya Heyckel sebagai gitaris kedua sejak sekitar tiga tahun lalu memang membuat arah musikal Divine kembali ke akar sejati musik metal. Dengan konsep dobel gitar, pembagian keduanya pun jelas sekali dimana Ucokkk bertugas sebagai eksekutor komposisi lagu yang difokuskan pada pembuatan riff-riff yang catchy,  sementara Heyckel lebih fokus mengeksekusi part-part lead dengan gaya permainannya  sambil sesekali menghidangkan unisound dengan Ucokkk.

Lalu apa yang menjadi tantangan Heyckel dengan tugasnya tersebut? “Saat Bang Ucokkk bilang gue harus bikin lead yang bisa diulang persis sama saat rekaman dan di saat panggung,” ucap Heyckel saat menyambangi markas GitarPlus beberapa waktu lalu. “Karena memang yang dilupain dalam musik metal itu kebanyakan adalah bikin part solo di album dan di panggung itu beda. Gue sendiri memang bikin beberapa lead yang udah paten dan nggak berubah, tapi ada juga yang akan gue ubah saat di atas panggung. Karena kan mood di panggung itu beda-beda.”

Ya, kendati menahbiskan diri sebagai band pengusung bendera thrash metal, namun untuk urusan penyajian komposisi, Divine, khususnya Ucokkk, memegang teguh spirit band-band rock klasik yang dipujanya. “Divine itu mengacu pada sistem Michael Schencker Group (MSG) dan Van Halen, dimana part-part lead saat recording dan live harus sama!” tandas Ucokkk, gitaris yang pernah membentuk Brain The Machine dan bergabung dengan Rotor.

Saat menyusun seluruh part gitar, Ucokkk dan Heyckel juga mengaku sering berkomunikasi dimana semua selalu diawali oleh ide-ide awal riff dari Ucokkk yang kemudian mereka garap bersama di dalam studio. Sementara untuk part solonya, keduanya juga sama-sama tidak pernah mengonsepnya terlalu dalam, namun mereka teteap membuat beberapa opsi dari part tersebut dan memilih yang dirasa paling cocok. “Tapi setelah di-take itu kan gue selalu denger-denger ulang lagi. Kalau norak, gue ganti sampai  nemu yang paling asik,” Heyckel menambahkan.

Dari sisi sound, Ucokkk lebih mengedepankan semangat ‘jadul’-nya dengan mencoba membentuk karakter distorsi ala idolanya, Gary Holt (Exodus, Slayer). Sementara Heyckel tidak memiliki referensi khusus, namun yang paling penting baginya adalah bagaimana membuat aksen gitarnya terdengar jelas.“Kalau gue, baik di album ataupun di panggung kan nggak pernah pake efek yang aneh-aneh dan selalu colok langsung. Gue juga nggak butuh distorsi yang berlebihan. Jadi yang penting orang tahu gue main apa,” ungkapnya.

Teknis rekaman gitar di album ini menggunakan sistem micing dengan mengoptimalkan gitar LTD dan Ibanez SZ320MH bagi Ucokkk dan Schecter B-2 Stealth untuk Heyckel. Keduanya sama-sama mengandalkan ampli Marshall JCM 800 2203KK Kerry King Signature dan Line 6 tanpa penggunaaan efek-efek khusus. Proses rekamannya sendiri sudah  mereka lakukan di studio Gaza kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, sejak November 2011 lalu. Salah satu penyebab lamanya proses tersebut lantaran Ucokkk pernah mengalami sakit dan hengkangnya vokalis Divine sebelumnya Indra Prambudi.

Untuk referensi, Ucokkk dan dan Heyckel masih banyak melahap band-band cadas semisal Slayer dan Testament. Tapi Heyckel menegaskan, album Testament yang banyak dilahapnya saat itu justru album “First Strike Still Deadly” yang dirilis tahun 2001 silam, bukan album-album klasik mereka semisal “The Legacy”, “The New Order”, atau “Practice What You Preach”. Alasannya?  “Ini adalah album rekam ulang dari beberapa lagu lama Testament. Secara komposisi lagu dan cara nge-leadnya Alex Scolnick di album ini gue demen banget. Saat gue cari influence yang gue suka dan related sama musiknya Divine, akhirnya gue menemukan album ini.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s