Duplikat Yang Tak Asal Jiplak

Berlebihankan jika The Beatles dianggap sebagai agama kedua para personel G-Pluck? Sepertinya tidak. Pasalnya, mereka tak asal menjiplak The Beatles. Selain mampu memainkan lagu-lagu dari band legendaris asal Liverpool, Inggris itu secara kaffah, busana dan instrumen yang digunakan Adnan Sigit (gitar ritem, vokal), Awan Garnida (bass, vokal), Wawan HID (gitar melodi, vokal), dan Beni Pratama (dram, perkusi, vokal) pun sama persis dengan John Lennon cs di masa lalu. Kurang apa lagi?

Nama G-Puck sendiri mulai melejit sekitar periode awal sampai pertengahan tahun 2000an saat mereka secara reguler menggelar sejumlah pertunjukan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Namun namanya baru benar-benar menggaung di seantero Negeri ketika mereka terpilih mewakili Asia Tenggara di ajang “Beatles Week Festival” di Liverpool pada Agustus 2008 silam.

Dan menyebut nama band cover version sebesar G-Pluck jelas tak bisa melepas sosok Wawan. Di tangan pria yang berperan sebagai George Harrison inilah embrio band yang bakal menggelar tur Asia dan Australia dalam waktu dekat ini kali pertama terbentuk. Kala itu, tahun 1999, Wawan yang jenuh memainkan lagu-lagu The Beatles dengan kadar ‘standar’ bersama Bharata, yang juga dihuni dramer Jelly Tobing, memilih untuk membentuk band baru bersama rekan sehatinya, Sigit. “Segitu lamanya sama Bharata, 15 tahun… tapi mainnya nggak mirip-mirip The Beatles. Tidak enak!  Hahaha… Padahal saya percaya bisa lebih dari itu,” kisah Wawan.

Dari sini Wawan dan Sigit lantas bertemu Awan, seorang bassis yang memiliki karakter seperti Paul McCartney. Selain bisa bernyanyi, juga mampu memainkan bass dengan tangan kiri. Dan setelah dilengkapi dramer Beni, mereka mengkarantina diri selama dua tahun penuh di Bandung. “Di sini kami memulai semuanya dari nol. Aransemennya, pecahan suaranya, sampai aksen British-nya. Di sini juga kami saling mengenal satu sama lain. Pokoknya selama dua tahun latihan terus…nggak pernah manggung,”  Wawan menambahkan.

Di masa karantina itu pulalah  Awan berlatih memainkan bass dengan tangan kiri layaknya Paul McCartney. Meski sebelum bergabung dengan G-Pluck sudah dikenal sebagai pemain kidal namun pada dasarnya kedua tangan pria bertubuh gempal ini berfungsi sama baiknya sehingga dibutuhkan sedikit latihan ekstra untuk membuat salah satu tangannya lebih dominan. “Selain latihan 6 jam sehari, saya juga tidur sama bass waktu itu hahaha…,” timpal Awan.

Setelah segala aspek dikuasai dan melanglangbuana dari panggung ke panggung, berburu berbagai atribut The Beatles merupakan menu wajib G-Pluck tiap kali bepergian ke luar negeri. Untuk pakaian misalnya, mereka memesannya langsung di Liverpool, Inggris dan Maryland, Amerika Serikat.  “Di sana itu ada tukang jahit fans The Beatles yang punya semua baju dan jaket personel The Beatles… dia memproduksi ulang dan kami memesannya di sana. Sekarang kami udah punya semua model… udah lengkap. Dari Hardest Night Suit sampai Hamburg Suit kami punya. Nah, di London ada satu penjahit lagi…dia itu anaknya penjahit baju-baju The Beatles yang asli, Douglas Millings. Semasa hidupnya, si Doug ini udah bikin ratusan kostum The Beatles, semua desain dia bisa bikin dan turun ke anaknya… tapi  sampai sekarang toko anaknya itu masih belum jelas di mana. Itulah yang lagi kami buru sekarang. Pokoknya kami harus dapetin toko sekaligus orangnya,” Awan kembali menjelaskan.

Sementara untuk mendapatkan sepatu seperti Cavern Zip Boots dan Cavern Cuban Heels, mereka langsung bertandang ke toko bernama Anello & Davide di London tempat dimana para personel The Beatles membuatnya dulu. “Selain The Beatles, Ratu Inggris dan keluarga kerajaan Inggris juga ngukurnya di sana. Harganya sekitar 15-20 juta sepasang. Dan itu harus bikin perjanjian dulu, nggak bisa datang tiba-tiba dan langsung jadi. Di sana itu bukan cuma diukur tapi dipelajari juga kaki kita biar nyaman pakenya. Alhamdulillah kami udah komplit juga,” katanya lagi.

Tak jauh berbeda dengan pakaian dan sepatu, instrumen yang mereka miliki juga kebanyakan didapat secara langsung di luar negeri meski beberapa ada yang mereka pesan lewat internet. Instrumen terakhir (setidaknya sampai wawancara ini dilakukan, Red) yang mereka dapatkan adalah Hofner Violin Bass Cavern yang merupakan bass pertama milik Paul McCartney pada 1961.
“Beruntung sekali saya bisa dapet barang itu di Belanda. Bass ini kan asalnya dari Jerman, tapi kalo saya pesen dari Jerman ongkos kirimnya lumayan juga kan ke Belanda… dari pada ribet dan nunggu lama lagi akhirnya saya langsung beli aja. Apalagi ini bass edisi  “125 Anniversary”-nya Hofner. Terus kalo instrumen yang pertama kami beli itu adalah Hofner Violin Bass 500/1 tahun 1963,”  Awan melanjutkan ceritanya.

Dan ternyata, banyak cerita unik ketika mereka membeli instrumen-instumen tersebut. Salah satunya saat membeli bass Rickenbacker 4001C64, yang digunakan Paul di periode album “Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band”, dari Amerika. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta petugas bea cukai sempat mengira bass itu barang peninggalan sejarah dan langsung menahannya. Tapi, setelah Awan, yang merupakan perogoh kocek tunggal untuk pembelian semua atribut ini, menjelaskan dan menunjukkan surat-surat bukti pembelian, akhirnya bass itu selamat.

Dari sekian banyaknya instrumen yang sudah mereka dapatkan. Awan mengakui bahwa gitar Gretsch Country Gentleman-nya George Harrison merupakan barang termahal. “Harganya sekitar 200 juta rupiah, ada pick orijinal George Harrison juga. Kebetulan ini belinya lewat pos jadi belum termasuk ongkos kirim dan biaya bea cukai yang 55% dari harga itu.”

Sampai saat ini, seluruh instrumen dan atribut lain yang dibeli masih disimpan rapi di rumah bassis yang juga tergabung dalam band chamber pop/jazz Sore ini, di Jl. Kramat Lontar, Jakarta Pusat. Tapi rencananya, mereka bakal membuat sejenis museum untuk barang-barang tersebut. Dan meski instrumennya sudah cukup banyak, untuk kebutuhan panggung tiap personel, kecuali dramer, mereka cukup menggunakan dua instrumen. Untuk Sigit, dia hanya membawa gitar Rickenbacker 325C64 dan Epiphone Sunburst Casino, sementara Wawan lebih sering memakai gitar Gretsch Country Gentleman dan Rocky Fender Stratocaster, sedangkan Awan lebih nyaman menggauli bass Hofner Violin Bass Cavern dan Rickenbacker 4001C64. “Kalau amplinya udah pasti pake VOX AC 30, dan saya pake VOX T 60,” lagi-lagi Awan mengimbuhi.

G-Pluck sendiri, sampai detik ini sudah menguasai  75 lagu The Beatles dan pantang membuat setlist saat membawakannya di atas panggung. Namun jika penonton meminta lagu yang belum dikuasai, mereka akan menyiasatinya dengan cara-cara unik. “Sebisa mungkin kami alihkan perhatian mereka. Bawain lagu lain dulu… lama-lama kan mereka lupa hehehe… karena memang nggak semua lagu The Beatles bisa dibawain berempat. Tapi tergantung acaranya juga sih. Kalau nggak resmi….santai,  kami bawain pake satu gitar aja udah cukup,” kata Awan lagi.

Lalu sampai kapan mereka bakal menjiplak The Beatles? “Saya sih cari makan di sini,  jadi mau seterusnya aja. Band ini udah keliatan menghasilkan, nggak bikin jenuh juga, tapi tambah bikin  nyaman. Yang kami pikirin sekarang bukanlah membuat band lain atau malah hengkang dari sini tapi gimana memainkan lagu-lagu The Beatles sebaik mungkin, atau bagi saya…bagaimana menjadi John Lennon sebaik mungkin,” ujar Sigit dengan logat Sundanya yang kental.

Kendati mencap diri mereka sebagai band entertainmen yang kerap membawakan lagu-lagu orang lain sejak awal berdiri. G-Pluck ternyata juga tengah menyiapkan album debut berisi 10 trek yang bakal direkam di Abbey Road dan dirilis tahun depan. “Tahun ini kami mau tur dulu ke Amerika, Jepang, Cina, India, Australia juga… Pulang dari sana rencananya ke Inggris lagi, main di Liverpool sekalian rekaman di Abbey Road. Materinya udah ada… empat lagu bikinan G-Pluck, sisanya lagu-lagu kolaborasi yang dibuat dan dibawakan bareng musisi-musisi legenda seperti Achmad Albar dan Jelly Tobing. Genrenya juga variatif…..,” tutup Awan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s