Ein Fuhrer, Penantang Musik Cengeng

Dari Bogor, empat anak muda ini menyengat lewat musik bertegangan tinggi. Tmon dikenal lewat skill dan eksplorasi sound gitar-nya, Malik menebar gaya khas di atas panggung, Yoga menerapkan permainan gitar lead pada bas, serta Ebo yang kalem begitu powerful di balik drum kit. Laksana dinamit, setiap aksi panggung Ein Fuhrer dijamin menimbulkan ledakan keras.

Lembaran Awal
Ein Fuhrer mulai menggelinding sekitar tahun 1999 lewat mimpi Bokir (gitar), Pie (bas), Ebo (drum), dan Malik (vokal) saat membentuk band bernama Dick Head, band yang sering membawakan lagu-lagu Nirvana, Offspring, dan Puppen di setiap pentasnya. Pada tahun 2002 band ini akhirnya berganti nama menjadi Ein Fuhrer. Tapi ironisnya, satu persatu personel malah angkat kaki.

Pie yang memilih menjalankan bisnisnya lebih dulu mengundurkan diri dan digantikan Adit. Tapi sayang, Adit tidak bertahan lama. Ia memutuskan mendirikan band sendiri bernama Sandi Band. Bukannya mendapatkan pengganti Adit, Bokir malah menyusul keluar dari band dan memutuskan bekerja di luar kota. Hal yang menyebabkan Ein Fuhrer mati suri untuk beberapa saat.
Tapi bukan Ein Fuhrer namanya kalau mati begitu saja. Sesuai dengan namanya yang diartikan ‘setaraf dewa’, band ini terus bertahan biarpun ditinggal kedua pendirinya. Ebo (drum) dan Malik (vokal), dua personel yang tersisa begitu ngotot mempertahankan band yang perlahan mulai mendapat pengakuan masyarakat ini. Hingga akhirnya masuklah Tmon (gitar), Aki (gitar), dan Yoga (bas) mengisi posisi yang kosong. Namun lagi-lagi Aki (gitar) pun meninggalkan band tanpa alasan jelas. Tanpa Aki, mereka berempat akhirnya sepakat membangkitkan kembali Ein Fuhrer dari tidurnya panjangnya.

Line-up
Formasi setengah baru ini bisa dianggap formasi yang paling ideal dan menjanjikan sepanjang perjalanan Ein Fuhrer di dunia panggung musik Bogor.

Ebo, anak muda kelahiran tahun 1982 yang mengidolakan John Otto (Limp Bizkit) dan Abe Cunningham (Deftones) ini dikenal dengan gayanya yang kalem. Tapi jangan salah, gaya kalemnya akan hilang seketika jika sudah duduk di balik drum kit. Pukulannya begitu rapih dan kuat, sekuat niatnya mempertahankan Ein Fuhrer hingga kini. Meski sempat pula bergabung dengan beberapa band lokal, hatinya telah tertambat di Ein Fuhrer.

Malik, lahir di Komplek IPB Cikarawang Dramaga, Bogor, tahun 1983. Aksi panggungnya yang khas dan eksplosif menjadi suguhan unik di setiap penampilannya. Karakter vokalnya yang terlalu tipis untuk ukuran band metal berhasil dikombinasikan dengan kepiawaian nge-rap ala Zack Della Rocha (Rage Against The Machine). Sedikit sekali vokalis asal Bogor barat yang tampil menggigit seperti anak muda yang uniknya justru mengidolakan Lionel Richie dan Eminem ini.

Tmon, yang lahir tahun 1983, adalah mantan gitaris salah satu band underground, Aureola. Sebelum bergabung dengan Ein Fuhrer, ia sempat wara- wiri di beberapa band lokal seperti Baraya, Walawuluwala, dan Alexander The Great. Ia dikenal sebagai seorang multi-instrumentalis. Bukan hanya gitar yang dikuasainya, tapi juga bas, drum, dan kibord. Cinta matinya pada John Petrucci, gitaris Dream Theater, berhasil mewarnai konsep musik Ein Fuhrer dengan unsur progressive metal.

Yoga, adalah mantan gitaris 4 Double yang disulap Ein Fuhrer menjadi basis. Anak muda kelahiran tahun 1985 ini untungnya nggak keberatan atas pergantian posisi itu, mengingat ia juga adalah pengagum Billy Sheehan (Mr. Big) dan Fieldy (Korn). Lewat permainannya, konsep musik Ein Fuhrer justru menjadi lebih kaya dibanding sebelumnya. Karena ia mencoba menerapkan teknik gitar pada permainan bas-nya.

Prestasi
Bicara mengenai apa saja resepnya hingga Ein Fuhrer bisa bertahan, rasanya terlalu elementer. Karena bagi Ein Fuhrer, resep yang dipakai adalah satu kata yang gampang diucapkan namun paling sulit direalisasikan. Itulah: Cinta.

Kalau cinta dibarengi loyalitas dan totalitas, mungkin hasilnya juga akan maksimal. Kira-kira itulah yang ada di benak keempat personel Ein Fuhrer. Kecintaan mereka pada musik berhasil menempatkan band ini sebagai salah satu band yang cukup disegani di kawasan Bogor lewat prestasi yang ditorehkan dan karya-karya yang dilahirkan. Juara II Festival Gumati 2003, Juara II Festival Musik Bone II 2004, Juara I Festival Musik Bondes 2005, Finalis Bogor Music Competition 2005, serta Juara III Freedom Music Action 2007 dan 2008 adalah prestasi yang berhasil mereka raih. Tmon, sang gitaris, bahkan dianugerahi ‘Best Player’ pada Freedom Music Action 2007.

Nggak hanya sampai di situ, Ein Fuhrer pun mulai mencoba memainkan lagu-lagu karya mereka sendiri. Mungkin sejujurnya kita semua nggak mengerti mengapa banyak orang mengatakan Ein Fuhrer lebih bagus membawakan lagu-lagu Limp Bizkit, Deftones, Rage Against The Machine, atau Slipknot seperti saat awal band ini berganti nama menjadi Ein Fuhrer. Padahal faktanya mereka pun punya formulasi musik sendiri. “Maafkan Aku….(Dulu)”, “Kita Hanya Manusia”, “Titik Arah”, “Asa Semu”, “God Loves You All The Time”, “Bendera Putih”, dan “Kaboem” adalah karya-karya yang memiliki karakter kuat dan kepercayaan ‘as long as I play rock n’ roll, I’m forever young’. Setua apapun orang yang mendengarkan lagu-lagu Ein Fuhrer dijamin akan merasa tetap muda. Kalau kata majalah Kerrang!: ‘if it’s too loud, you are too old’. Nggak percaya? buktikan saja sendiri!

Lewat konsep musik yang cenderung idealis Ein Fuhrer cukup tahu diri dan sabar dalam mengarungi lautan industri musik Indonesia. Maklumlah, saat ini band-band yang lebih memilih uang dan popularitas secara instan dibanding bermain musik sesuai hati nurani bertebaran di tanah air. Meski demikian, sesuai lagunya yang bertajuk, “God Loves You All The Time”,  Ein Fuhrer percaya Tuhan mencintai musik mereka sepanjang waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s