Flag Of Hate, Stimulator Kenyamanan Pendengar

“Genre bukan pilihan,” itulah yang dikatakan Flag Of Hate, band pengusung gothic metal berbasis Jakarta Selatan kepada Inrocknesia dalam sebuah wawancara via email. Selama ini, Wild (growl/scream), Adie (gitar), Mizthree (vokal/kibord), Jeppy (dram), Dodid (bass) dan Bay (gitar) mengaku hanya sekadar merefleksikan suasana hati dan tidak memilih genre gothic sebagai pilihan hidup. ”Kehidupanlah yang membawa kami ke arah sana,” tegas mereka.

Lalu apa yang menjadi keistimewaan band yang terbentuk sejak 2006 ini mengingat komposisi berkontur gothic cenderung sama dan kebanyakan hanya mengacu pada satu referensi, Evanescence?  “Memang sekilas sama, tapi di dalam lirik dan musik kami ada emosi intens di setiap nada yang membuat kami beda dengan yang lain. Susah untuk di jelaskan, kalian harus mendengarkannya!” dengan percaya diri mereka coba menjelaskan kelebihan musik yang mereka hidangkan.

Flag Of Hate pun terbilang cukup realistis dalam menjalani karir musiknya. Soal terkenal atau tidak bukanlah patokan, bagi mereka bisa membuat karya dengan menumpahkan seluruh emosi dan perasaan jauh lebih indah ketimbang terkenal. Bukan pula sekadar batu loncatan. ”Tujuan kami sejak awal adalah untuk berkarya, agar musik kami didengar dan dikenal orang,” mereka menambahkan.

Kendati demikian, mereka tak menampik jika dibilang ingin sukses. “Pasti ingin sukses, tapi jika nanti hasil akhirnya sukses atau tidak kami selalu memberikan seluruh jiwa dalam konteks berkarya. Tinggal Tuhan yang menentukan. Setiap manusia sudah tertulis jalan hidupnya masing- masing. Berusaha maksimal dengan apa yang kami jalani adalah nilai yang terpenting. Proses maksimal dalam pencapaian adalah bagian dari sensasi hidup bagaimanapun akhirnya nanti.”

Berbicara soal karya, Flag Of Hate pun siap merilis album mereka dalam waktu dekat. “Album sudah selesai digarap, tinggal tahap pengemasan,” tandas mereka. Dan salah satu singelnya, “Eternal Madness”, bahkan sudah mereka edarkan sebagai media promo. Lagu ini sendiri mengisahkan tentang ‘kemarahan seseorang yang mendalam sehingga membuatnya merasa terasing dan ingin segera lepas dari belenggu hitam yang membuatnya semakin terhanyut dalam kehampaan’.

Hanya saja ada yang mengganjal kuping saat kita mendengarkan lagu ini. Dengan titel berbahasa Inggris, tuturan liriknya justru dihidangkan dengan bahasa Indonesia. Dan saat dikonfirmasi tentang hal tersebut, para punggawa Flag Of Hate mencoba menjelaskannya. “Bahasa Inggris mempunyai arti yang lebih luas, secara pengucapan juga jadi lebih cool haha…. Namun secara keseluruhan lirik lagu-lagu kami memang menggunakan bahasa Indonesia dengan tujuan pendengar lebih cepat mengerti maksud dan isi dari pesan yang disampaikan.”

Dan yang paling penting, kendati iklim musik Tanah Air saat ini sedang tidak bersahabat dengan rock dan metal Flag Of Hate akan terus berusaha membuat karya musik dengan jujur dan mempelajari apa yang bisa menstimulasi titik kenyamanan pendengar terhadap musik mereka. Dan bijaknya, mereka tak menyalahkan salah satu pihak akan carut marutnya kondisi industri sekarang. “Tidak ada satu pun yang bisa diposisikan ke arah sana, selama cara pemikiran para petinggi -petinggi di luar sana mengorientasikan value di atas segalanya. Dan seni yang sesungguhnya akan terus terpendam di komunitas, di hati orang-orang yang memang musisi sejati.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s