Metamorfosa dan Modifikasi Genre After Season

Menyadari kontur musik melodic pop punk yang sekilas sama saja, After Season bereksperimen dengan memasukan unsur-unsur core berdistorsi tinggi ke dalam barisan komposisi lagu buatannya sehingga lahirlah nuansa baru dari genre yang diusungnya tersebut. “Kami merasa enjoy dan nyaman memainkan genre ini karena faktanya sudah lebih dari dua tahun kami menjalaninya,” tegas dramer Agus kepada Inrocknesia.

Namun jika ditengok ke belakang, apa sih tujuan awal Yulio Efendi (vokal, gitar), Ase (gitar), Chandra (bass) dan Agus (dram) membentuk After Season pada tahun 2007 lalu? “Target atau visi kami yang pertama pasti membawa band ini sukses dan lagu- lagu kami bisa diterima oleh kawan-kawan dan seluruh penikmat musik di dunia,” Agus menambahkan. Target standar anak band sebenarnya, namun mereka percaya pengalaman telah menjadikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang lebih baik.

“Pengalaman saling menghargai dan saling support antar band dan menjaga keharmonisan dalam tubuh band adalah pengalaman berharga bagi kami. Dan kesuksesan tidak bisa kami raih dengan mudah, butuh perjuangan… dan salah satu perjuangan kami adalah terus belajar dari kesalahan dan berlatih untuk menjadi baik dan lebih baik lagi,” Fendi menimpali.

Ya, awalnya band ini bernama D’Jail namun lantas berevolusi menjadi After Season akibat sering diterpa masalah. “Ada kesalahpahaman yang terus mendatangi tiap personel, ketidakharmonisan memainkan salah satu genre sebelum kami memutuskan mengusung genre melodic punk, dan ketidakcocokan karakter vokal dari vokalis kami… akhirnya kami memutuskan untuk mengubah nama band ini menjadi After Season dengan memulai semua dari nol dan berharap bisa lebih baik dari sebelumnya,” Agus berkisah

Itu berbicara tentang masa lalu, bagaimana dengan masa kini dan ke depannya, khususnya tentang album mereka? “Selama kami bernama D’Jail sudah memiliki dua lagu, dan kini dengan After Season sudah ada enam lagu. Rencananya target kami adalah membuat mini album lebih dahulu dan akan mulai menggarapnya sekitar awal tahun 2013 nanti,” lanjut Agus.

Proses penggarapan EP tersebut memang sedikit lambat dan tidak terlalu mulus, selain para personel After Season sulit mencari waktu luang akibat kesibukannya masing-masing juga adanya masalah klise yang kerap menjangkiti band-band yang berjalan dengan semangat DIY (Do It Yourself).  “Masalah lainnya adalah finansial. Kami adalah band yang masih merintis, dan untuk modal penggarapan album ini kami masih belum punya,” dengan polosnya Agus kembali bertutur.

Namun After Season tak mau menyerah begitu saja. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, dan pengalaman menghadapi rintangan dalam menjalani takdir sebagai anak band, mereka akan terus melaju apapun konsekuensinya. Hal itu pulalah yang mereka ungkapkan dalam lirik-lirik lagu yang kelak akan diceburkan ke dalam album mininya. “Lagu-lagu kami menyampaikan nilai-nilai persahabatan, saling support, dan saling menghargai, juga menerangkan tentang bagaimana seseorang berjuang dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah hidup,” Agus menyimpulkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s