Polka Wars Konsisten dengan Karya Sendiri

Sejak kali pertama terbentuk tahun 2010 silam Polka Wars seperti alergi membawakan lagu-lagu dari band idolanya saat tampil live. Bagi Karaeng Raja (gitar,vokal), Billy Saleh (gitar), Xandega Tahajuansya (bass) dan Giovanni Rahmadeva (dram, vokal) menulis lagu sendiri dan membawakannya di atas panggung sangat menyenangkan sekaligus melahirkan sensasi luar biasa. “Biarkan saja mengalir natural. Lagi pula sebelum band ini terbentuk, masing-masing personel sudah melakukannya di band sebelumnya,” ujar dramer Deva kepada inrocknesia.com.

Namun saat ditanya jenis musik apa yang dihidangkan melalui karya-karyanya tersebut, Deva cenderung tidak mau terjerat dalam satu genre. “Biarkan pendengar yang menilai. Dua lagu yang kami ciptakan, “Caroline” dan “Horse Hooves” sejujurnya belum bisa mendeskripsikan jenis musik kami secara keseluruhan. Kami melabeli ‘alternatif’ saja, karena memang ini sebuah alternatif baru bagi para pendengar di Indonesia.”

Album debut Polka Wars sendiri rencananya akan dirilis pertengahan tahun 2013 dan saat ini mereka masih mendekam dalam studio menggarap sejumlah materi yang baru rampung sekitar 50%. Sebagian personel Polka Wars mengaku terlalu perfeksionis dalam urusan aransemen dan pemilihan karakter sound. Mereka cenderung mempelajarinya secara detail sambil melakukan aktivitas masing-masing dan juga manggung.

“Album masih dalam penggarapan. Rencananya Juni akan rilis. Tapi kami tidak
tahu entah ada apa di tengah jalan nanti. Dari jumlah materi sejujurnya sudah banyak, tapi bagian terberatnya justru memilah materi yang akan dimasukan ke dalam album dan merangkainya dalam satu kesatuan. Me-manage mood juga merupakan hal yang paling susah. Bahkan lebih susah dari mengatur waktu dan finansial,” Deva dan Karaeng sama-sama menjelaskan.

Uniknya, dalam tubuh Polka Wars muncul dua sosok  vokalis,  Giovanni dan Karaeng. Namun peran Giovanni hanya sebatas membawakan lagu-lagu karyanya sendiri, sementara Karaeng memegang porsi yang lebih banyak. Dan bagi mereka, setiap personel berhak mengekspresikan dirinya melalui apapun dan tidak pernah ada niatan untuk merekrut vokalis utama karena secara estetika seorang vokalis yang tidak memegang instrumen tidaklah keren.

Dalam proses penggarapan album Polka Wars juga kerap dibantu sejumlah musisi pendukung seperti pemain trumpet, saxofone dan kibord yang tugasnya memberi masukan perihal karakteristik sound. Dan jika salah satu dari mereka tidak bisa berpartisipasi saat  tampil live, maka akan diganti oleh musisi lainnya “Kalau berhalangan ya bisa disubstitusikan oleh pemain cadangan. Justru dengan bergonta-ganti pemain, penonton tidak akan bosan dan kami juga bisa selalu bereksperimen dengan berbagai musisi pendukung,” tandas Karaeng.

Berbicara tentang eksperimen, para punggawa Polka Wars mengaku sangat mengagumi sosok band Sore dan banyak belajar dari band ini. Saat ini mereka bahkan sering mendengarkan musik-musik dari musisi kawakan seperti January Kristy, Ermy Kulit, Dian PP, Fariz RM hingga Caetano Veloso dan George Duke. Bukan tidak mungkin, tanpa harus mengekor, di albumnya nanti musik mereka bakal banyak terinspirasi dari musisi/band ini.

Lalu seberapa besar keyakinan mereka dalam mengarungi industri musik Tanah Air yang kian berombak ini? “Kami belum bisa bilang yakin atau tidak, berhubung industri musiknya belum terpetakan sama sekali di kepala kami. Yang paling penting kami dapat melakukan yang kami suka. Semoga sampai kapan pun akan terus bisa,” Xandega mengakhiri dengan tegas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s