Pypa, Berangkat Dari Sebuah Kejenuhan

Sebuah band yang berdiri pada awal bulan Mei 2009. Dengan beranggotakan Azat (vokal), Pedet (bas), dan Pakot (gitar), band ini terbentuk karena sebuah kejenuhan yang luar biasa dari band sebelumnya. Ketiga personel ini memutuskan membentuk sebuah band sebagai wujud apresiasi mereka terhadap musik. Sebuah inisial dari keempat personel awal menjadi alasan pemilihan nama band yang bermarkas di Leuwiliang Bogor ini untuk melambangkan arti Pypa.

Awalnya Pypa dilengkapi Yudi sebagi penggebuk drum, namun tak berapa lama setelah band ini terbentuk, Yudi memutuskan mengundurkan diri demi pandangan serius pada kariernya. Meski begitu Pypa tidak segera mencari pengganti Yudi, dengan sabar dan terkesan hati-hati untuk sementara band ini memutuskan melanjutkan perjuangannya dengan additional player.

Walaupun masih terdengar baru namun tiga personel yang menjadi pendiri band ini adalah wajah-wajah lama di panggung-panggung festival Bogor dan sekitarnya. Mereka adalah pilar-pilar utama Barley, band cover Guns N’ Roses yang sudah sering menjajal panggung-panggung musik. Bedanya, Azat adalah seorang drummer saat di Barley. Mengaku terinspirasi oleh vokalis band-band pop rock tanah air seperti d’Masive, Seventeen, dan Kerispatih akhirnya Azat lebih memilih menjadi vokalis.

Pakot dan Pedet bisa memaklumi kemauan Azat. Bahkan mereka bertiga bertekad bersama-sama mencapai impian agar bisa terbang tinggi meraih kesuksesan di pentas musik tanah air. Pedet, basis yang mengidolakan John Myung (Dream Theater) ini rela meninggalkan band yang baru saja digaulinya, PM 100. Sedang Pakot, gitaris yang dipercaya Paint saat tampil di gelaran ‘Yamaha Funtastic Raja Motor 4tak’ akhir Mei lalu malah terang-terangan mengaku lebih serius di Pypa.

‘Band yang masih hijau’, adalah sebuah pengakuan tulus dari Pypa. Mereka pun mencari jam terbang lewat berbagai gigs di seputar Bogor agar nama Pypa semakin dikenal publik lebih luas. Dengan beberapa karya mereka yang mulai dipromosikan di radio lokal, makin terlihat keseriusan band ini. Dan hasilnya patut kita tunggu.

Lagu-lagu mereka masih seputar cinta. Dilatarbelakangi kisah pribadi dari sang vokalis, Azat, penggunaan lirik yang dipilih sangat menggambarkan kehidupan percintaan dalam kehidupan sehari-hari. “Tanpamu aku bisa” mengisahkan kekaguman akan seseorang yang sudah memiliki kekasih. “Menantimu” mewakili penikmat musik yang sedang patah hati, dan “Cintaku HanyaUuntukmu” mengungkapkan kebahagiaan karena memiliki kekasih yang sebenarnya sejak lama dikagumi. Lagu ini cocok bagi yang sedang kasmaran.

Walau tetap berakar pada musik pop yang terus membadai dari band-band serupa, tapi siapa tahu nasib baik bisa menghampiri band baru ini. Langkah Pypa baru setapak. Jalan panjang masing terbentang di depan. Semoga saja Pypa mampu bertahan dan bisa berkembang lewat kedewaasan mereka. Bukan hanya dalam bermusik, tapi juga dalam bersikap dan bertindak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s