Saderek, Guratan Kecil Sejarah Musik Bogor

Proses instan hasil maksimal, demikian pencitraan band yang berumur singkat ini. Saderek terbentuk atas dasar keinginan Riki membuat demo lagu bersama sahabatnya, Ali. Namun pemilihan drummer yang cukup alot membuat Saderek memutar haluan mereka. Dari niatan membuat demo menjadi keinginan mengikuti sebuah festival.

Riki yang saat itu hasrat bermusiknya masih menggebu, mulai berpikir membentuk band baru dan membuat lagu. Maka, pada malam bulan puasa di tahun 2003, ia menyusun sebuah pertemuan dengan sobat lamanya, Ali Syam, di Kelapa Dua Depok. Sebuah rumah di perumahan Taman Puspa yang dihuni kakaknya pun menjadi saksi pertemuan dua orang sahabat yang menghasilkan sebuah perdebatan kecil seputar pemilihan personel untuk melengkapi band baru mereka.

Untuk pemain bas, nama Perry Bewok memang sudah menjadi jaminan bakal memberi warna bagi band baru ini. Namun untuk urusan drummer, Riki seakan tak rela meninggalkan cinta sejatinya dalam urusan nge-band, Iwan Dado. Sedangkan Ali bersikeras lebih memilih Depol, eks Double A, yang menjadi penggebuk drum. Keduanya memiliki alasan yang masuk akal. Riki, merasa sudah cocok luar dalam dengan Iwan Dado lantaran mereka sudah nge-band bareng sejak tahun 1993. Sedangkan Ali lebih mempertimbangkan hasil akhir dalam proses pembuatan demo. Untuk hal ini, Depol memang lebih unggul dibanding Iwan Dado, tapi tidak dari segi jam terbang.

Akhirnya diambil jalan tengah. Gatot, mantan drummer No Limits, menjadi pilihan terakhir mereka demi menghilangkan konflik pra-pembentukan band. Namun sayang nama Gatot nggak juga menjamin band ini otomatis berdiri tegak. Hati kecil Riki yang masih nggak rela membiarkan kursi kecil di balik drum kit diberikan begitu saja pada Gatot membuat proyek ini tertunda berbulan-bulan. Dan membuat Ali bertanya-tanya dalam hati.

21 April 2004, jawaban atas semua pertanyaan dalam diri Ali akhirnya terkuak. Telepon genggamnya berdering, saat dilihat nama Riki yang muncul ia pun menjawab sambil mengabulkan permintaan pertemuan kedua dari Riki. Kali ini di tukang nasi goreng depan mesjid Al-Awalien. Pertemuan kali ini terlihat lebih santai, Riki pun membawa agenda lama namun dengan tujuan yang sedikit berbeda. Kali ini isu berlangsungnya sebuah festival band menjadi tema yang coba Riki angkat. Ali yang sepertinya lebih lunak kali ini nggak banyak memberi argumen. Bahkan saat Riki rela melanjutkan rencana formasi band 3 bulan sebelumnya, Ali malah menolak dengan alasan Gatot sedang berkabung. Alhasil, akhirnya mereka pilih Iwan Dado juga.

Band anyar yang awalnya dinamai Abstrak ini berlatih untuk pertama kalinya pada 29 Februari 2004. “Fortune Faded” dari Red Hot Chili Peppers dan “Like A Stone” milik Audioslave menjadi santapan pembuka mereka. Sayang, vokal Riki yang keteteran di lagu “Like A Stone” memaksa mereka melakukan briefing kilat di rumah Dado. Hasil briefing memutuskan lagu Deep Purple, “Smoke On The Water” menjadi pengganti “Like A Stone”, sekaligus nama Abstrak berubah menjadi Saderek. Seminggu berselang Saderek melakukan latihan terakhir sebelum pentas. Latihan kali ini berjalan agak lama, lantaran mereka mencoba mengaransemen ulang lagu “Smoke On The Water” dengan versi sendiri. Jual beli solo gitar dan solo bas coba mereka tawarkan di lagu ini.

Keesokan harinya Saderek siap bertempur dengan band-band lain yang bisa dianggap lebih siap. Baru sampai di lokasi sekitar 20 menit mereka langsung tampil. Penampilan yang bisa dibilang nggak mengecewakan ini makin terasa spesial dengan pertempuran solo gitar Ali dan solo bas Bewok, serta aksi atraktif Riki yang turun dari panggung. Iwan Dado yang posisi drum kit-nya terkesan bersembunyi lebih berkonsentrasi menjaga ritme dan ketukan ketimbang bergaya berlebihan. Meski sound gitar sering mati ternyata tak mengubah keputusan juri memilih Saderek sebagai salah satu penampil terbaik. Di ujung perhelatan, Saderek terpilih sebagai pemenang ketiga.

Enam hari pascapementasan, Saderek melangsungkan syukuran atas kemenangan mereka. Sebuah acara kecil dilangsungkan di rumah mertua Dado. Dihadiri beberapa rekan seperti Cepi, Goplak dan Dephil, plus istri Riki yang saat itu masih menjadi kekasihnya, Meifi. Sayangnya, Bewok nggak hadir pada malam itu lantaran bekerja di Bandung dan diberitakan bakal berada di Kota Kembang itu hingga dua tahun mendatang.

Riki seperti mendapatkan ‘talak 3’ atas berita itu. Sedih sekaligus kecewa, karena band yang baru saja dibentuknya terancam bubar lagi. Tapi Riki tetap mengumpulkan materi yang bakal mereka bawakan kelak dan mulai membuat lagu sendiri. Sampai akhirnya berita baik iti muncul, Bewok diberitakan batal tinggal di Bandung dan siap bahu-membahu mempertahankan Saderek bareng Riki. Namun sayang, kali ini Ali yang memutuskan pindah ke Jakarta dan Iwan Dado yang lebih memilih konsentrasi pada toko hape-nya.

Saderek pun makin tanpa juntrungan. Hingga akhirnya Riki memutuskan membubarkan band diusianya yang hanya 4 bulan! Meski demikian, Saderek telah menjadi bagian kisah panjang sejarah musik di Leuwiliang Bogor. Dengan proses yang relatif instan, Saderek telah menancapkan tajinya di ranah musik rock n’ roll Bogor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s