The Panic, Konseptual dan Penuh Enigma

Enigmatic Rock With Harmony, demikian band asal Bandung The Panic mengkategorikan genre yang mereka usung. Unik, namun tak sedikit pula yang menganggapnya aneh. Dengan latar belakang varian selera musik yang menghinggapi aliran darah setiap personelnya, plus tuturan lirik yang berkisah seputar kehidupan manusia dan alam semesta yang dituangkan secara abstrak, The Panic memang penuh teka teki.

Kadar rock yang bersimpuh dalam setiap komposisi yang dibuat Akis (vokal, gitar), Eko (gitar), Domi (bass) dan Agi (dram) sendiri cukup mendominasi. “Namun situasi dan suasana yang dibuat itu tujuannya untuk menciptakan halusinasi dengan memadukan efek gitar dan suara vokal yang merenung. Singkatnya, kadar rock pada musik The Panic merupakan perpaduan antara grunge, postrock, dan shogaze,” beber Akis kepada Inrocknesia.

“Musik kami merupakan percampuran unsur punk, grunge, postrock, metal dan experimental hingga tercipta sebuah genre yang kami mainkan sekarang. Penuh teka-teki dan tidak bersifat konstan. Alurnya pun mengikuti suasana yang tercipta saat musik kami dibuat. Hingga ke depan mungkin saja ada perpaduan warna musik tambahan dari yang sudah ada,” Akis menambahkan

Dari sisi lirik, Akis dkk memang mencoba merangkai sebuah kisah konseptual tentang bumi dan manusia ke dalam album trilogi yang secara berurutan bertema ‘cipta, pelihara dan binasa’. Untuk tema tentang ‘cipta’, The Panic sudah menuturkannya di album penuh pertama mereka, “All Human Talk” yang dirilis sejak Desember 2011 lalu. Sementara album kedua, yang bertema ‘pelihara’ baru akan dirilis tahun 2013 mendatang.

Rencananya, untuk album kedua ini mereka akan merilisnya dalam dua format. Selain CD tunggal standar, juga akan tersedia edisi terbatas berformat dobel CD dimana kepingan keduanya merupakan versi repackage dari album sebelumnya, “All Human Talk”. Mungkin, inilah yang mereka sebut dengan karakteristik sebuah band, bukan pengekor atau penghamba mode dan tren semata.

Lalu, apa yang membuat mereka begitu nyaman memainkan genre enigmatic rock dan berkutat di area lirik tentang alam? “Tidak ada fanatisme dalam bermusik, semua mengalir bagaikan air. Musik itu sebenarnya berbisik di telinga setiap manusia hanya saja butuh ditangkap oleh kepala dan dicerna/diproses oleh hati lalu kita keluarkan kembali melalui seluruh inti tubuh kita,” Akis coba berfilosofi.

Kini, kendati mereka sudah menjerumuskan diri ke dalam industri musik Indonesia namun sesungguhnya Akis dkk tidak pernah membayangkan bagaimana industri itu sebelumnya. “Misi kami (sejak awal) sebenarnya menciptakan industri tersendiri, masa bodoh dengan industri yang ada saat ini,” pungkas Akis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s