Thrashline, Bangkit Dari Kubur

Gerombolan thrash metal berbasis Jakarta Thrashline siap melempar album penuh perdananya pada Agustus 2013 mendatang. Album tersebut bertajuk “Bangkit Dari Kubur” dimana di dalamnya terkapar satu lagu yang sempat mengangkasa lebih dari satu dekade silam. “Bendera Kuning”, yang pernah dikumandangkan band Betrayer lewat album kompilasi “Metalik Klinik I”.

Disertakannya “Bendera Kuning” bukanlah tanpa alasan. Pasalnya frontman Thrashline Ndaru merupakan mantan personel Betrayer yang memiliki peran penting baik sebagai pendiri, pencipta musik, eksekutor lirik maupun manajer band. Dan untuk versi barunya ini, Thrashline menambahkan bebunyian sirene mobil jenazah sebagai penguat tema lirik.

Tak hanya itu, aransemen yang ditawarkan Thrashline juga sangat jauh berbeda dengan apa yang pernah disuguhkan Betrayer. Intinya, lebih agresif! “Intro bassnya pake distorsi, temponya lebih cepat, beat dramnya ada yang sampai 1/16 dan leadnya juga lebih harmonis…ada suara 1 dan suara 2,” jelas gitaris Aria saat ditemui Metalpit di acara audisi tur Jasad “Bhinneka Tunggal Ika” beberapa waktu lalu.

Namun secara keseluruhan, konsep musik yang ditawarkan Thrashline di albumnya nanti bakal menampilkan persilangan antara musik thrash metal old school dengan musik etnik Indonesia. “Dari riff-riff gitarnya akan sangat kentara unsur etnik itu. Tapi kami juga tidak menghilangkan kaidah-kaidah dari musik thrash metal itu sendiri,” tambah Aria.

Gitaris yang permainannya banyak dipengaruhi oleh Kirk Hammet, Scott Ian, Dave Mustaine dan Jeff Hanneman itu kembali berujar. Menurutnya, saat proses penggarapan album ini, para personel Thrashline juga tidak mengikat diri dengan hanya melahap musik metal semata tetapi juga mendengarkan musik-musik dari genre lain seperti lagu daerah dan lagu anak-anak.”

Sementara dari sisi lirik, Thrashline – dalam hal ini Ndaru – lebih banyak mengangkat tema sosial yang dialami umat manusia yang berhubungan dengan situasi bangsa Indonesia saat ini. “Intinya, kita mau ngapain sih hidup?” kata vokalis/gitaris Ndaru yang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia di keseluruhan lagu demi menyampaikan pesan yang dikumandangkannya.

Selain ingin menyinggung kehidupan sosial, Thrashline juga memiliki tujuan lain dengan album ini. “Kami ingin mendedikasikan album ini buat orang-orang yang banyak membantu Thrashline sejak kali pertama berdiri hingga album ini rampung. Kami juga pengen ngasih tahu sama semua orang, terhitung album ini dirilis nanti kami akan benar-benar bangkit,” Ndaru menambahkan.

Album ini sendiri rencananya bakal berisi delapan hingga sembilan lagu dimana enam diantaranya merupakan versi baru dari seluruh materi dari album mini “Kontrol Sosial” (2004). “Untuk lagu-lagu lama kami aransemen lagi musiknya. Ditreking ulang, dimixing dan dimastering ulang. Tetap old school tapi dengan sentuhan sound yang lebih modern. Jadi bisa dibilang ini adalah repackaged dari album mini “Kontrol  Sosial,” tanda Erik.

“Waktu EP itu dirilis  kan masih dalam bentuk kaset. Kondisinya juga banyak kekurangan terutama soal budget dan alat yang seadanya. Dan kami udah berpikir album itu harus dirilis ulang. Tapi karena waktunya nggak ada dan mood-nya juga berubah-ubah, apalagi sekalinya kami rekam ulang masternya malah terbakar dan kami pun harus ngulang dari awal, akhirnya  baru tahun 2012 lalu selesai digarap,” Ndaru kembali menimpali.

Sedangkan untuk lagu-lagu baru, proses penggarapannya selalu diawali oleh ide lirik dan musik dasar dari Ndaru yang kemudian diracik oleh ketiga personel lainnya demi menghasilkan komposisi yang sesuai dengan karakter musik Thrashline. “Setelah jadi satu lagu baru kami melakukan jamming dan brainstorming. Mana yang enak dan mana yang kurang enak,” Erik, bassis yang mengidolakan Jason Newstead berujar lagi.

Singel jagoan dari album “Bangkit Dari Kubur” tentu saja “Bendera Kuning”. Karena dengan lagu ini Thrashline bertekad membalikan persepsi masyarakat Indonesia tentang makna dari bendera berwarna kuning tersebut. Ya, bagi Ndaru (vokal, gitar), Aria (gitar), Erik (bass), dan Akbar (dram) bendera kuning tidaklah bermakna kematian, tetapi justru simbol kebangkitan!

Sejarah musikal Thrashline sendiri kali pertama tergurat pada tahun 2000 atau tepat setelah Ndaru terlibat konfik dengan para personel band yang dibentuk sebelumnya, Betrayer. Dengan mengibarkan bendera ‘Betrayer Ndaru’, frontman ini kerap menghiasi panggung-panggung underground di Jakarta mengumandangkan  lagu-lagu Betrayer seperti “Pasukan Berani Mati”, “Kontrol Sosial” dan “Bendera Kuning” bersama sejumlah line-up.

Setahun berselang Betrayer Ndaru berubah nama menjadi Thrashline. Hal ini dilakukan demi menghindari kebingungan metalhead akan perbedaan mereka dengan Betrayer. Namun hingga kini Ndaru mengkalim kalau dia adalah pemilik sejati nama Betrayer serta lagu-lagu di album “Pasukan Berani Mati” dan lagu “Bendera Kuning”. “Betrayer itu gue yang konsep, sebelum ada band konsep itu udah gue setting. Sama seperti sekarang di Thrashline juga begitu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s