Transformasi Musikal 60 Hours

60 Hours, tengah mendekam di dalam studio menyiapkan album mini perdana mereka. Sejauh ini sudah lima lagu yang mereka rekam yang di dalamnya bersemayam persilangan berbagai genre musik mulai dari southern rock, stoner, post hardcore, punk dan chaotic mathcore. Sementara liriknya, banyak bercerita tentang para koruptor dan sekelompok Organisasi Massa (Ormas) yang merasa dirinya paling benar.

Awalnya, band yang digawangi dua bersaudara Dhemo Anugerah Putra (gitar, vokal) dan Dimas Pramuda Putra (dram), plus Racka Wibawa (vokal) dan Rama Rullyan (bass) ini mengusung genre metalcore yang sering membawakan lagu-lagu milik As I Lay Dying, Atreyu, Alexisonfire, Avenged Sevenfold, Step Forward, Killswitch Engage, dan sejenisnya. Namun karena terinsipirasi Accidental Hero – band bentukan saudara kandung Dimas dan Dhemo – pada tahun 2011 mereka mengubah haluan musiknya menjadi chaotic mathcore dan southern rock.

“Kebetulan kami juga banyak terinspirasi dari band band mathcore seperti Everytime I Die, The Number 12 Looks Like You, Gallows, The Jonbenet, Converge, Architects dan Dillinger Escape Plan. Itulah hal lain yang mendasari perubahan genre dari band ini,” ungkap 60 Hours seperti ditulis dalam siaran pers yang diterima Metalpit.

Namun saat dianggap sebagai band yang terkontaminasi budaya ‘ikut-ikutan’ tren semata yang di saat tren tersebut berubah mereka juga akan kembali mengubah konsep musiknya, Dhemo langsung menepisnya. “Kami bukan band tren! Kami memang dari dulu ingin mengubah genre dan sudah nggak betah dengan genre metalcore. Tapi dulu mungkin kemampuan para personelnya sangat terbatas, jadi baru bisa terealisasi tahun 2011. Dan sekarang, kami sudah nyaman dengan genre yang kami usung ini.”

60 Hours sendiri terbentuk bulan Juni 2006 dengan personel dua bersaudara Dhemo Anugerah Putra (gitar, vokal) dan Dimas Pramuda Putra (dram) yang dilengkapi Yudi Rian Saputra (gitar) dan Anggi (bass). Nama band ini terinspirasi dari salah satu judul lagu As I Lay Dying, “94 Hours”, yang saat itu amat mereka gandrungi. Namun sayang, setelah Anggi hengkang pada 2007, 60 Hours malah vakum setahun berikutnya menyusul pindahnya tempat tinggal Dimas dan Dhemo.

Berselang setahun band ini kembali terbentuk dengan personel Dhemo Anugerah Putra (gitar, vokal), Dimas Pramuda Putra (dram), Yoga (gitar), dan Hilman (bass). Dengan line-up ini mereka mulai membuat karya sendiri bertajuk “Get Up Scream” dan sempat manggung di berbagai gigs lokal. Namun apa lacur, 60 Hours kemudian kembali ditinggal personelnya. Kali ini bassis Hilman keluar dan digantikan Ridwan yang ironinya hanya bertahan selama sebulan. Hal ini  membuat 60 Hours berjalan tanpa seorang pembetot bass sebelum kemudian mereka bertemu Danny Rezky Ramadhan. Pada periode ini 60 Hours kembali membuat beberapa lagu, di antaranya adalah “Come With My Bitch” dan “Emosi Raga”.

Memasuki tahun 2010, giliran Yoga yang dikeluarkan dari band lantaran bermasalah dan 60 Hours langsung menggantinya dengan Yudi yang juga mantan gitaris kedua mereka di era awal. Namun karena komposisi musik yang mereka bawakan terbilang makin kompleks, Dhemo juga mulai kesulitan membagi konsentrasi antara bermain gitar dengan bernyanyi dan mengharuskan 60 Hours mencari vokalis utama. Tak lama, mereka merekrut Racka Wibawa yang masih memiliki ikatan darah dengan Dhemo dan Dimas. Namun di sini mereka lagi-lagi harus kehilangan salah satu personelnya, dimana bassis Danny cabut dan digantikan Rama Rullyan. Formasi ini bertahan hingga sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s