Zi Factor Mencapai Klimaks

Zi Factor akan meluncurkan album terbaru mereka yang bertajuk “A Testament Of Rage” (Unsound Records) dalam waktu dekat. Di album ini duo gitaris Ezra dan Eddy Simanjuntak serta ketiga rekannya Tyo (vokal), Oleg Difva (bass) dan Nada (dram) masih menghidangkan barisan komposisi yang terdiri dari perpaduan skala etnik Indonesia dengan groove ritmik yang dilebur dalam komposisi metal berbahaya. Namun yang tak kalah penting, album ini merupakan pembuktian seorang Ezra Simanjuntak atas apa yang tidak dicapainya di album “Kill Paradigm” (2008). Ya, Ezra kini  jauh lebih puas dan mencapai klimaks!

Sebagai pembalasan akan ketidakpuasan tersebut, Zi Factor, khususnya Ezra dan Eddy, sampai memasukan kembali lagu “Kill Paradigm” di album ini. Namun,  dengan sentuhan yang berbeda tentunya. “Waktu album pertama dirilis itu kan gue pertama kali kembali lagi musik, dengan segala macam perasaan dan masalah. Ada satu dua lagu yang pengen gue bawain lebih dari itu sebenarnya. Salah satunya “Kill Paradigm” ini. Tapi karena adanya keterbatasan personel, kami aransemen seadanya biar pas manggung jangan sampai kerepotan. Dan sekarang, di album ini gue puas karena dari sisi feel dan untuk dimainkan  sesuai dengan  apa yang gue inginkan,” Ezra menjelaskan alasannya.

Kendati demikian, porsi gitar antara Ezra dan Eddy di lagu ini justru terbilang berimbang dan tidak menonjolkan Ezra seorang diri. Kontributor majalah GitarPlus tersebut malah nyaris tidak memainkan part solo sama sekali dan memberikan porsi lebih banyak kepada adiknya Eddy untuk memainkan pola permainan shredding. Hal ini bahkan berlaku hampir di semua trek, dimana semuanya dibiarkan mengalir apa adanya dan tergantung kebutuhan lagu serta feel.

Untuk part ritemnya, Ezra dan Eddy banyak menyuguhkan konsep melodi yang terdiri dari dua atau lebih line/suara yang disebut polyphony. “Kalau dari sisi ritem, kami banyak mainin harmonisasi. Ada yang kami mainnya sama, ada juga yang mainnya beda. Kalau didenger gitu aja memang nggak akan ‘ngeuh’, tapi sebenarnya ada banyak part yang bisa dibilang polyphony. Eddy main lain dari gue tapi saling mengisi, begitu pun bass dan dram tapi tetap ada benang merahnya secara groove sehingga loe mendengarnya sebagai satu kesatuan harmonisasi. Mainnya beda tapi nggak terdengar misah,” tambah Ezra.

Lalu apakah Ezra dan Eddy kerap duduk berdampingan, berdiskusi, dan saling mendengarkan opini satu sama lain sebelum merangkai part-part gitar tersebut? “Nggak pernah diskusi ya… Paling masukannya soal tema, idenya gimana, paling gambaran tapi nggak terlalu spesifik. Pas mau take-nya baru diimprove, kadang take beberapa kali, lalu kami ambil yang asik. Kadang ada yang mendokumentasikan pake video juga jadi saat gue pilih satu yang asik gue liat lagi videonya, karena kalau nggak begitu repot…gue lupa hahaha… jujur aja. Jadi lebih dari 50% part lead gitar gue improve. On the spot, cuma memang ada gambaran ide-idenya, jadi selalu ada variasi di tiap part,” ujar Eddy.

Eddy melanjutkan, saat mengeksekusi seluruh komposisi gitar ia juga tidak mengusung filosofi apapun. Karena semuanya tergantung tema lagu dan seluruh part solonya sudah disusun oleh Ezra sehingga ia hanya tinggal mengisi bagiannya dan langsung: “Babat aja!” ucapnya. Eddy, yang merupakan titpikal pemain gitar yang doyan ngebut, juga merasa tidak perlu membuktikan diri seperti Ezra karena dirinya lebih menempatkan diri sebagai ‘supporter’ kakaknya itu.

Selama proses rekaman gitar yang menggunakan sistem todong ini, Eddy mempersenjatai diri dengan gitar Jackson Pro Soloist USA, multi effect Zoom 9.2 TT, ampli Marshall JCM 2000 dengan 4×12 cab yang ditempatkan di ruang besar plus Vox AC30 combo di ruang kecil. Menggunakan 6 mic di dua ruangan berbeda (3 mic per amp/ruang) yang terdiri dari Beyerdynamic M88, AKG C414 XLS, Shure SM 57, Neumann U87, EV RE20 dan Seinnheiser MD 421.

Sementara Ezra menggunakan gitar Steinberger GS7 dan PRS CU24 USA Maple 10 Top, ampli Blackstar HT20 dengan cabinet 2×12 di ruangan besar dan HT5 dengan cabinet 1×8 di ruangan kecil. Tanpa penggunaan effect apapun karena untuk modulasi dan time based seperti delay, reverb, chorus dll ‘ditempelkan’ saat proses mixing. Sedangkan untuk distorsi ia langsung mengambil dari head ampli sementara Eddy memilih untuk mengkombinasikan effect Zoom 9.2 TT dengan ampli Marshall tadi.

“Jika dirinci, untuk 1 kali take direct dihitung jadi 7 tracks. Tiap rhythm sections dan bagian harmoni tertentu 2 kali take. Masing-masing gue sama Eddy begitu, total 28 rhythm tracks. Harmoninya juga segitu dan lead-nya masing-masing 6 tracks. Total lead tracks ya 12. Jadi total tracks gitarnya ya ada 68 tracks,” Ezra menjelaskan dengan detail.

Apakah dengan gear dan formula rekaman seperti ini sound khas Simanjuntak bersaudara terdengar menonjol? Apakah hasil akhir rekamannya juga sudah cukup memuaskan? “Ampli Blackstar gue itu kan ada tombol yang kalau ke kiri bunyinya American, kalau ke kanan bunyinya lebih British. Dan settingan gue memang American… mid gue biasanya di posisi 2-3, hi-nya di 4-5, distorsinya 6-7. Jadi bener-bener ngandelin dari jari dan main aja. Itu sound khas gue,” tutur Ezra lagi.

“Kalau dari sisi distorsi gue lebih play by ear jadi nggak terlalu kayak Ezra, karena belum nemu yang spesifiknya jadi ujung-ujungnya mengandalkan cara gue main yang membedakan dengan orang lain. Termasuk cara gue picking…. yang penting gue cenderung low, warm dan agak bright. Kalau part solo pengen ada sedikit mid-nya tapi nggak mau terlalu belang dengan ritem. Kalau dibilang puas pasti nggak ada puasnya. Tapi kemajuannya tentu ada,” Eddy mengakhiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s