Aray Daulay Makin Nyaman dengan Ray D’ Sky

Menyusul ketidakjelasan nasib grup musik reggae Steven and Coconut Treez yang digawanginya sejak 2005 silam, gitaris Aray Daulay kembali merilis album anyar bersama band besutannya Ray D’ Sky. “Dreaming Dreams”, demikian tajuknya. Sudah beredar melalui Demajors sejak 24 September 2012 lalu.

Dari segi gaya permainan gitar dan struktur lagu, di album keduanya ini Aray lebih menekankan sisi minimalis dan acoustic oriented. Titel trek “Dreaming Dreams” misalnya, meski hanya menampilkan instrumen guitalele namun komposisinya terdengar begitu penuh harmonisasi. “Semakin ke sini gue semakin sadar kalau gue nggak harus ngumbar skill atau gimana. Di sini bahkan lebih kental kadar folknya dibanding album pertama. Gue full main gitar akustik,” beber Aray.

Kendati minimalis bukan berarti unsur-unsur elektrik dihilangkan begitu saja. Buktinya, Didit Saad yang kembali didaulat sebagai produser dan gitaris pendamping Aray masih menyuguhkan bebunyian gitar elektrik dengan porsi yang tidak sedikit. “Tapi kalau Didit nggak bisa ikut manggung karena sibuk, mau nggak mau gue ganti aransemennya biar nggak terkesan kosong. Tapi gue nggak berpatokan sama yang Didit mainin. Karena gue kan sambil nyanyi, jadi nggak mungkin ngejar apa yang dia lakukan.”

Saat rekaman gitar, Aray menggunakan sistem direct lewat gitar akustik Cole Clark Fat Lady series yang dilengkapi dengan pickup Piezzo dan condenser mic inside body yang kemudian dihubungkan ke preamp Universal Audio LA610. “Gitar ini makin jadi kayunya, soundnya enak banget,” tutur Aray. Sementara Didit, yang secara umum menggunakan sistem todong, mempersenjatai diri dengan empat gitar, yakni; 1994 Fender Stratocaster 40th Anniversary, 2002 Gibson Les Paul Standard, 2007 Fender Telecaster, dan Yamaha Guitalele yang dilengkapi dengan ampli 30 watt 1994 Fender Blues Junior dan head 15 watt 2011 Vox Night Train plus efek Seymour Duncan Pickup Booster, Cry Baby dan RAT Deucetone Distortion.

Fender Blues Junior-nya sendiri merupakan tipe combo dan half open back yang ditodong depan tepat di center cone dengan menggunakan Shure SM57, kemudian dihubungkan ke Universal Audio LA610 preamp. Sementara bagian belakangnya ditodong dengan menggunakan condenser mic Behringer yang dicolokan ke TF Pro preamp. Guitalele-nya ditodong body hole dengan memakai Rode NTK yang dicolokan ke Universal Audio LA610, neck gitarnya ditodong SM57 dan TF Pro preamp. Untuk head Vox Night Train-nya dikombinasikan dengan cabinet Marshall 2×12 close back dimana speaker kirinya ditodong dengan menggunakan mik Rode NTK dan Universal Audio preamp sedangkan speaker kanannya memakai SM57 dan TF Pro preamp. Keduanya ditodong depan on axis.

Seperti kebanyakan band yang baru merilis album baru, saat ini Ray D’ Sky juga tengah sibuk memromosikan albumnya. Tapi sebagai mastermind band yang masih menampilkan bassis Bongky BIP dan kibordis/perkusionis Iwanouz ini, Aray dengan lantang memberikan gambaran tentang konsep album mereka berikutnya. “Album tersebut nantinya bakal lebih menampilkan sisi gitar. Bukan dalam hal permainan solo melainkan dalam hal peralatan pendukung. Tetap simpel seperti album ini tapi tanpa dram dan tanpa kibord. Misalnya, pure akustik yang cuma ditemenin bebunyian slide guitar atau guitalele,” tutupnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s