Berondongan Mau Cranium

Gerombolan death metal asal Medan, Sumatera Utara, Cranium, merilis album ketiga bertajuk ”Perintah Dunia Baru” (Rottrevore Records) pada 9 Januari 2012 kemarin. Dalam album ini Nanda (vokal), Dede (gitar), Denni (bass), dan Faisal (dram) menerjang buas dengan garukan riff-riff gitar berdistorsi rapat, betotan bass dahsyat, berondongan dram galak, plus lumuran growl berat. Seluruh materi yang mereka sajikan dijamin memutus urat saraf.

Jarak waktu rilis antara album ini dengan album sebelumnya “Rotten in Nocturnal Aggression” memang terpisah 11 tahun. Wafatnya vokalis Windy akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2006 silam, yang disertai musnahnya sejumlah lirik karya Windy akibat belum diarsipkan menjadi hal yang paling berperan di samping kesibukan pribadi para punggawa Cranium. Padahal setahun sebelumnya mereka sudah siap masuk dapur rekaman dengan modal sembilan lagu. “Di antara sembilan lagu itu, yang kami punya liriknya cuma enam. Sisanya Windy yang nyimpen dan kami tak tahu di mana,” beber Dede.

Belum lagi proses pencarian vokalis pengganti yang memakan waktu hingga dua tahun. Karakter vokal growl dan scream Windy yang sudah melekat dalam aliran darah Cranium membuat para personel tersisa sempat tak sudi menggantinya. Namun akhirnya Nanda terpilih sebagai frontman anyar. Karakter vokalnya yang lebih lebar dan powerful mau tak mau membuat Dede cs merombak sebagian pondasi aransemen yang sudah ditata sekaligus menciptakan rangka musik yang lebih fresh. “Kami nyaris depresi. Kesabaran kami diuji. Tapi untung Nanda datang. Meski ada perubahan feel tapi perlahan kami bisa berbaur dan solid,” Dede menambahkan.

Nanda memang dikenal sebagai vokalis dan juga eksekutor lirik yang lugas dan tak bertele-tele. Artikulasi dan intonasinya juga lebih jelas dibanding Windy sehingga memungkinkan para pendengarnya memahami celotehan perang, pembunuhan, depresi, tradisi budaya politik dan upaya pembodohan rakyat yang disampaikan Cranium. Lirik bahasa Indonesia yang kini mereka pilih juga semakin mendukung hal tersebut. “Kita ini telah ditakdirkan menjadi pion-pion yang harus mati,dan dikendalikan oleh sesuatu. Di album ini kami serukan bahwa kita harus membuat satu pembaharuan untuk menentukan takdir kita sendiri dan dunia kita sendiri.”

Sementara secara musikal, karakter sound gitar dalam album ini sedikit berbeda dibanding album sebelumnya. Di sini mereka tak lagi menerapkan konsep dobel gitaris, setelah Avec cabut pascaperilisan “Rotten in Nocturnal Aggression” Dede telah menjelma sebagai gitaris tunggal yang melahap seluruh part gitar tanpa kecuali. “Dulu Avec lebih nge-grind mainnya dan konsen di sound-sound yang mid-high, sementara gue lebih ke harmonic dan fokus di mid-low. Tapi sekarang gue ganti suasananya. Pemilihan nadanya gue bikin biar nggak ngebosenin,” mantan gitaris Immortal kembali menjelaskan

Untuk kebutuhan panggung, Cranium sempat menambahkan nama Eko di posisi gitaris kedua untuk mendampingi Dede. Sayang, akibat sibuk dengan pekerjaan dan tak memiliki waktu luang untuk berlatih Eko kembali mundur. “Eko itu temen sekantor gue dan kebetulan pernah bareng gue juga di Immortal. Gue sih ngerasa klop ama dia tapi karena sibuk yah mau gimana lagi,” kata Dede lagi. Salah satu kontribusi Eko terjadi saat Cranium membuka konser Obscura di Medan pada 1 Oktober 2011 silam.

Saat proses penggarapan album, para punggawa Cranium banyak melahap karakterisitik materi dari sejumlah band metal old school seperti Suffocation, Kreator, dan Pantera. Namun mereka tak menampik jika dianggap terjangkit virus Dying Fetus dan Misery Index. Proses penggarapannya sendiri diakui Dede tak membutuhkan waktu lama. Hanya tiga bulan. Ini karena mereka hanya tinggal menggarap 4 lagu untuk melengkapi enam lagu yang sudah rampung. “Alhamdullilah kami tidak mengalami kesulitan-kesulitan berarti dalam mengerjakan album ini. Didasari kebersamaan, disiplin dan saling pengertian, semuanya beres.”

Dari 10 lagu tersebut, salah satunya adalah lagu milik Kreator berjudul “Extreme Agression” yang mereka bawakan tanpa aransemen baru kecuali karakter gitar dan vokal yang dibiarkan meluncur sesuai karakter mereka. “Ini adalah permintaan khusus mendiang Rio Rottrevore, dan kebetulan juga kami mengagumi Kreator. Liriknya sangat inspiratif. Secara emosional lagu ini membuat kami geram dan marah akan keadaan saat ini. Semakin kami mendengar, semakin kami marah,” tukas Dede.

Permintaan Rio bukan tanpa alasan. Pasalnya Cranium bernaung di bawah label Rottrevore Records miliknya. Dan uniknya, kerja sama tersebut terjalin secara tak terduga. Awalnya, label penghasil band-band metal lokal ganas itu hanya melakukan obrolan ringan dengan Dede sambil meminta sample sample lagu milik. Beberapa hari berselang, mereka menawarkan kerjasama rekaman full album. “Satu kejutan dan kebanggaan buat kami, nggak nyangka kalo Rottrevore tertarik dengan konsep musik yang kami buat,” ungkap Dede. Pada pertengahan 2010, mereka pun resmi bergabung dengan Rottrevore Records. “Ini merupakan salah satu wujud mimpi dari Cranium.”

Saat ini band yang terbentuk tahun 1997 ini sedang mempersiapkan segala bentuk promo dan tur untuk album ini dan siap memutus urat saraf para metalhead lewat berondongan materi mautnya. Ya, selama 14 tahun menjejakkan kakinya di jagat metal Tanah Air dengan rilisan tiga album, Cranium memang tak pernah habis dilindas jaman meski bongkar pasang personel kerap terjadi. “Cranium bukan hanya sekedar teman bermusik. Cranium adalah bagian dari keluarga. Persaudaraan yang terbentuk dari hasil suka dan duka selama ini membuat kami tetap mempertahankan band ini, “ pungkas Dede.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s