Bukan Band Rock Stereotype

Kuintet veteran indie lintas genre yang tergabung dalam Raksasa, vokalis Fable Adi Cumi, gitaris solo delta blues Adrian Adioetomo, gitaris Zeke And The Popo Iman Fattah, bassis Deadsquad Bonny Sidharta, dan dramer Naif Franki Indrasmoro alias Pepeng, merilis album debut Self-titled (Demajors) pada 26 November 2011 kemarin. Dalam album ini tersaji sembilan trek rock n’ roll pembakar adrenalin yang lahir dari hasil jam session tanpa konsep.

Kali pertama menggoreskan tapaknya di blantika musik Tanah Air pada Agustus 2008 silam, Raksasa sempat bingung dalam menyatukan berbagai karakter dan latar belakang pengaruh musik yang bersemayam dalam diri para personelnya. Namun kini mereka konsisten meluncur di sirkuit rock berbalut elemen blues hingga psychedelic yang menohok.

Proses perkenalan Raksasa dengan khalayak rock sendiri diawali dengan dilemparnya singel “Pesawatku Delay” pada 2010 silam. Setelah otak kelima personelnya terpacu untuk mencurahkan ide-ide musikal lain, studio pun jadi tempat persinggahan berikutnya. Di sini mereka melakukan jam session tanpa membuat konsep musik lebih dulu.

“Apa yang keluar waktu jamming itulah yang kami rekam. Nggak ada aransemen dan tinggal nambahin ini itu kalo ada kekurangan. Jadi kami nggak pernah kepikiran buat lagu komersil,” tutur Adrian. Sementara untuk mencocokan musik hasil jamming dengan vokalis Cumi mereka tinggal mengarahkan pattern-nya. “Kami cuma minta Cumi supaya nggak terlalu panjang dan sebagainya kalo nyanyi,” tambahnya.

Meski seratus persen lahir dari jamming bukan berarti mereka tak melakukan evaluasi saat rekaman rampung. Dalam kamus mereka, ‘puas’ merupakan kata haram untuk diucapkan. Namun dengan segala kekurangan itu, mereka tetap memiliki lagu yang memuaskan. “Insomnia. Secara pribadi maupun saat dengerin isian anak-anak yang lain gue cukup puas sama lagu ini,” tandas Bonny.

Lain lagi dengan Iman, gitaris putra bassis band rock legenda Indonesia God Bless ini menunjukan kepuasaan dari sisi berbeda. “Secara teknis, saat rekaman dengan Zeke And The Popo ada engineer yang bantuin gue. Kalo di sini gue malah lebih eksplor karena segalanya gue lakukan sendiri. Dan pas gue dengerin ternyata oke juga. Gue banyak belajar dan dapet ilmu baru,” papar Iman.

Proses pembuatan albumnya sendiri meski hanya membutuhkan waktu lima bulan tapi uniknya justru direkam di enam studio berbeda. Hal ini terjadi karena keterbatasan budget yang mereka miliki serta sulitnya mencocokan jadwal. Beruntung, mereka tak menemui kendala berarti saat melakukan proses mixing dan mastering. “Frekuensi ataupun isian yang kami buat udah dipikirin secara matang sehingga tidak tabrakan satu sama lain,” Bonny menambahkan.

Arah musikal yang dibentangkan Raksasa condong bertiup ke nuansa old school rock n’ roll yang sebenarnya selalu mereka hindari saat proses pembuatan keseluruhan trek. “Kami sebenernya mau rock yang nggak stereotype. Nggak mau ada tipikal 70, 80, atau 90an. Sekeluarnya aja. Karena di album ini juga ada unsur jazz-nya. Kalo emang lagunya jadinya ke situ yah nggak tau. Salahin tangan aja hahaha…,” Bonny berkelakar.

Dari segi pembagian porsi gitar, Iman lebih memilih bergelut dengan ritem plus sedikit tambahan solo di beberapa trek, sementara Adrian berperan sebagai eksekutor mutlak departemen solo. “Gue banyak nempel sama Bonny dan Pepeng. Karena ternyata emang gue harus ngisi di situ. Setelah banyak jamming gue jadi tau harus gimana dan Adrian main di mana. Jadi ngak ada yang tabrakan,” Iman menuturkan. Selain itu ia juga banyak bereksplorasi dengan instrumen lain seperti synthesizers dan Hammond organ.

Saat proses rekaman, meski butuh sedikit penyesuaian akibat berpindah-pindah studio dan perbedaan software yang digunakan, mereka toh mereka tetap mampu mengatasinya. Khusus Adrian, yang rekaman di studio pribadi milik Kartika Jahja (Tika And The Dissidents) berhasil melakukannya dengan software Logic Pro 9 dengan Focusrite Saffire Pro 14 sebagai audio interface-nya setelah lebih dulu membuat guide dram dan ritem. Adapun Iman yang melakukan rekaman di Bee Sound Studio di Condet melakukannya dengan Pro Tools HD.

Untuk gearnya, Adrian menggunakan gitar Gibson Les Paul Classic tahun. 1995 dan Custom Duo-sonic dengan Chambered-body/neck by Secco/Tropical dengan Vintage Telecaster pickups, ampli Matchless Lightning 15, pedal efek Electro Harmonix Double Muff Drive, Electro Harmonix Memory Boy dan Boss V-Wah. Sedangkan Iman, mempersenjatai diri dengan Fender Stratocaster tahun 1960, ampli Mesa Boogie Studio Caliber 25 watt, preamp Soldano, Cabinet Marshal, efek Memory Boy dan Double Muff.

Proses mixing dan mastering album ini dilakukan di Blessing Studio lewat sentuhan tangan dingin ‘peracik’ sound handal bernama Joseph Manurung yang pernah menimba ilmu kepada Michael Brauer di Perancis. Artinya, disamping kenyamanan pribadi dalam bermain musik, Raksasa juga mementingkan kenyamanan kuping pendengar saat menikmati musik mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s