Endah Widiastuti

Siapa yang tak kenal dengan Endah? Wanita kelahiran 1983 ini sudah malang melintang di industri musik Tanah Air sejak lebih dari 10 tahun silam. Sempat aktif di komunitas Bulungan dan Gang Potlot, hati Endah lantas tertambat di Endah N Rhesa, duo jazz yang dibentuknya bersama Rhesa, belahan hatinya. Pasangan ini bahkan telah menelurkan sejumlah album termasuk “Nowhere To Go” dan “Look What We’ve Found”.

Endah Widiastuti, begitu nama lengkapnya, sudah mengenal instrumen gitar sejak berusia lima tahun. Namun tingkat keseriusannya baru muncul saat ia duduk di bangku Sekolah Dasar, tepat setelah pihak sekolah memberikan ia dua pilihan program ekstrakulikuler, bermain gitar atau pramuka? “Tentu aja gue milih main gitar. Secara gue bukan orang lapangan,” kisahnya sambil tertawa. Menjelang masuk SMP, kakaknya kemudian mengenalkan Endah kepada gitar elektrik. “Di sini gue mulai mengenal lagu-lagu rock dan metal.”

Guns N’ Roses, Metallica, Mr. Big, Van Halen, Sepultura dan Kreator mulai dilahapnya. Lagu-lagu Dream Theater bahkan mulai diuliknya sambil belajar partitur dan tabulatur. Menginjak kelas 2 SMP Endah kemudian mengenal musik jazz sekaligus memutuskan untuk les musik, belajar teori-teori harmoni, belajar membentuk chord dan belajar lagu jazz standar.

Sekitar tahun 2003, Endah mulai mencoba mengarang lagu dan membentuk band bersama Rhesa yang kelak menjadi suaminya. Sayang, band ini tidak berjalan seperti yang ia harapkan sampai kemudian ia merasa memasuki titik terendah dalam hidupnya. “Gue menyerah ke industri karena nggak tahu gimana caranya mengeksekusi ide-ide gue. Saat itu gue sempat nggak mau lagi main gitar dan bikin lagu.”

Resha-lah yang akhirnya membangkitkan semangat bermusik Endah. Setelah memutuskan kuliah jurusan pendidikan musik di Universitas Pelita Harapan pada 2004, wanita yang pernah aktif di komunitas gitaris.com ini mulai kembali bermain gitar, membuat lagu dan bernyanyi dengan dorongan Resha. “Akhirnya gue ngerasa ketemu produser yang bikin gue comfortable dan bikin gue lebih percaya diri,” ucapnya. Pada fase ini, Endah juga memutuskan untuk meninggalkan gitar elektriknya dan fokus memainkan gitar akustik. Loh, apa alasannya?

“Gue akhirnya menemukan kelemahan gue selama main gitar elektrik, yaitu gue nggak tahu gimana bermain ritem yang baik. Kayak main ritem musik reggae dan lainnya…. Sampai sekarang gue memang masih sangat suka main dan dengerin gitar elektrik, cuma memang gue merasa lebih nyaman aja pas main akustik karena bisa mengakomodasi ekspresi gue. Kadang gue ngerasa gitar yang gue mainin itu bukan cuma sebagai instrumen tapi juga sebagai media pemikiran dan perasaan gue.”

Meski merasa memiliki kelemahan saat memainkan gitar elektrik, toh pengagum John Frusciante ini pernah menyabet gelar juara pertama ‘Fender Guitar Festival’ pada 1999 silam. Dari 100 gitaris yang terlibat, pengguna gitar Cole Clark ini berhasil menjadi satu-satunya gitaris perempuan yang masuk 20 besar hingga akhirnya menjadi yang terbaik. “Waktu itu jurinya Mas Ian Antono, Donny Suhendra dan Edo Widiz,” kenangnya.

Tapi, gelar tersebut tidak membuatnya jemawa. Endah bahkan tidak merasa peristiwa itu sebagai momen yang paling mengesankan. Masa-masa SMP-nya, menurut Endah, justru menjadi yang paling penuh dengan suka sekaligus duka. “Waktu itu gue bukanlah anak gaul, gue bukan cewek basket, gue bukan cewek cheerleader, gue bukan cewek yang penampilannya bisa bikin orang pengen bergaul ama gue, gue juga bukan dari kalangan yang wealthy… Itu yang bikin gue nggak mudah ng-blend sama kaum popular pada masa itu. Tapi, saat gue bisa main gitar semua orang itu justru pengen kenal sama gue. Sampai cowok-cowok yang ganteng pun pengen kenal bahkan ngeband bareng gue hahaha… Gitar adalah penyelamat gue,” sambil berkaca-kaca Endah bercerita.

Biarkan kisah tadi menjadi kenangan bagi Endah. Karena sekarang, wanita kelahiran Palembang itu telah memiliki banyak penggemar. Tak hanya lagu-lagunya yang disukai tetapi juga style permainan gitarnya yang listenable. “Karena gue main berdua sama Resha jadi gue cari yang banyak open string, wide range, kadang gue mempelajari voicing piano buat gue terjemahin di gitar dengan posisi yang lain. Dan yang gue suka dari gitar akustik itu adalah resonansi sound-nya lebih banyak pilihan. Unsur perkusif yang bisa digali itu lebih banyak.”

Selain menjalani karir sebagai musisi Endah juga memiliki manajemen sendiri, memproduksi merchandise, memproduseri salah satu talenta baru asal Tangerang Selatan dan mengelola cafe earHouse di kawasan Pamulang. Café ini kerap digunakan sebagai tempat berkumpulnya komunitas Gitaris Tangerang Selatan (GTS) setiap hari Selasa dimana Endah juga menjadi salah satu anggotanya. Lalu, seberapa penting tergabung dalam sebuah komunitas bagi Endah?

“Dulu, waktu gue gabung di gitaris.com kadang gue merasa komunitas itu ada yang punya standarisasi kalau ini gitaris, kalau itu bukan gitaris. Tapi saat gue gabung di GTS, apa yang dulu gue pikirin itu ilang seketika. Komunitas yang paling benar itu menurut gue adalah komunitas yang harus ketemu langsung, main dan tanpa ada tendensi show off. Ya seperti di GTS ini. Bukan yang cuma lewat dunia maya dan nggak kenal secara personal. Memang salah gue juga sih nggak pernah mencari komunitas kayak gini karena terlalu sibuk sama Endah N’ Rhesa.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s