Gebrakan Alone At Last

Album baru pasukan post hardcore Alone At Last, “Integriti”, memang baru dirilis Oktober 2012 lalu via Lonely End Records. Namun hanya dalam waktu tiga pekan album penuh kedua band asal Bandung ini langsung sold out dan harus dirilis ulang. Sejumlah pemesan dari mancanegara seperti Australia, Jepang dan Uni Emirat Arab kini bahkan rela melakukan pre-order via online demi mendapatkan album tersebut.

“Kami juga nggak nyangka album ini bakal habis secepat itu. Padahal distribusinya hanya via online order. Album ini memang sangat diantisipasi para simpatisan kami. Apalagi proses penggarapannya terhitung lama, sekitar satu setengah tahun. Tak heran 1000 keping langsung ludes,” kata manajer band Ikrar Hasibuan kepada Metalpit.

Materi yang terkandung dalam album ini sendiri memang jauh berbeda dengan dua album sebelumnya, “Sendiri Vs Dunia” (EP, 2004) dan “Jiwa” (album penuh, 2008). “Sebelumnya banyak yang mengira album ini bakal menghadirkan perpaduan dua album itu. Tapi nyatanya nggak,” tambah Ikrar. Barisan nada dan lirik dalam batang tubuh album ini mengalir lebih dewasa, khususnya dalam mengartikukalikan emosi dan kritik terhadap kemapanan sosial yang ada.

“Sebagaimana judul albumnya, pesan utama yang ingin disampaikan dalam album ini menekankan pentingnya integritas sosial: agar masing-masing dari diri kita dapat terus semangat, tetap bersama dan bersatu melawan proses alienasi yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari,” demikan penuturan band menurut siaran pers yang diterima Metalpit.

Salah satu singelnya, “Classis War is a Modern Wars”, bahkan menyuguhkan distorsi berat dan tebal dengan beat dram ganjil, bebunyian efek modul dan penuh dengan vokal scream. Lagu ini sendiri mengisahkan tentang perang, kemerdekaan, kehancuran, dan sejarah. Sementara dalam nomor lainnya seperti “Saat Dunia Tak Menatap Ke Arahmu” dan “Cinta”, nuansa glamrock, rock, pop, emo dan shoegaze bercampur apik hingga melahirkan kekuatan musikal yang elegan.

Sejak terbentuk di Bandung pada 2002 silam band yang digawangi Yas (vokal), Ubey (bass), Athink (dram), Ucay (gitar) dan Papap (gitar) ini memang selalu berada di garda depan genre musik emo. Dan hingga detik ini, Yas dkk bahkan mampu menyedot ribuan simpatisan yang dinamakan Stand Alone Crew (SAC) yang tersebar hampir di seluruh penjuru Tanah Air.

Kendati tak pernah membatasi diri dalam salah satu jeratan genre musik dan hanya mengklaim sebagai band pengusung musik rock yang biasa-biasa saja. Namun, banyak pihak justru menganggap mereka sebagai band pengusung emo atau post-hardcore yang memiliki posisi penting di scene emo Tanah Air. Di setiap penampilan panggungnya, Yas dkk bahkan kerap menghadirkan sing-along dan moshing dari para audiens.

Selama lebih dari satu dekade Alone At Last telah merilis satu EP “Sendiri Vs. Dunia” (2004), dua album penuh “Jiwa” (2008, Absolute Records) dan “Integriti” (2012) serta sejumlah singel; “No More Worries” (2002), “No Feeling” (2003), dan “Takkan Terhenti Disini” (2010). Khusus nomor yang terakhir, bahkan sukses menerbangkan mereka ke posisi puncak tangga lagu PureVolume selama satu pekan berturut-turut di tahun 2010.

Tak sampai di situ. Menurut survey ReverbNation pada 2012 Alone At Last juga menempati posisi terdepan di spektrum lokal dan ke-12 di level nasional, dan tentu saja akan terus merangkak naik. Dengan dirilis ulangnya album “Integriti” ini bukan tidak mungkin Alone At Last bakal menebarkan virus musiknya lebih jauh lagi dan menggebrak lebih sadis lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s