Geliat Menohok Bromocorah

Scene metal Kota Kembang, Bandung kembali menggeliat kala salah satu ambasadornya, Bromocorah, merilis full album perdana bertajuk “Men666anas” (Pacucepat Records/Demajors) awal Februari 2012 lalu. Di album ini, kuartet thrash metal Danu Nasmita (vokal), Achmad “Chino” Triadjie (gitar/vokal), Deny “Ipink” Rizki (bass/vokal) dan Satria “Sabit” Sastra memuntahkan karakter mereka yang sesungguhnya; agresif, menohok, sekaligus ganas.

Dari sembilan trek yang berbaring di dalamnya, empat trek merupakan comotan dari dua EP terdahulu, “Sub-Urban Thrash Attack” (2007) dan “Serangan Thrash Pinggiran” (2009) dimana sebagian besar liriknya bercerita tentang kondisi sub-urban yang panas dan sumpek. Dengan lumuran bahan bakar berupa riff-riff cepat dan rapat, vokal serak, dan sound padat, album ini nyaris tak memberikan kesempatan relaks sedikit pun bagi para pendengarnya.

Konsep musik yang mereka tebarkan cenderung berhembus ke arah old school thrash metal dengan balutan sound yang bermuara pada karakter asli Bay Area 90an. “Sebenarnya semua unsur thrash kami campurin. Old school thrash kami ambil, death thrash juga kami ambil. Tapi karena kami dibesarkan dengan sound-sound di era thrash 80-90an, kami merasa sangat layak mengangkat kembali sound jenis itu,” ujar Chino kepada Metalpit saat diwawancara via telepon.

Pengaruh old school thrash memang begitu lekat dalam tubuh band yang terbentuk tahun 2007 ini. Khusus Chino, selama proses penggarapan album ia bahkan banyak melahap materi-materi milik Slayer demi mendapatkan riff-riff gitar seimbang dan menyatu dengan instrumen lainnya. “Permainan gitar Kerry King dan Jeff Hanneman sangat mempengaruhi gue dalam menggarap album ini,” tambahnya.

Metode penggarapannya, kata Chino lagi, selalu berawal dari gitar yang lantas dibawa ke studio setelah direkam secara sederhana. ”Ide awalnya selalu dari gitar, setelah itu gue rekam pake software rumahan. Pas latihan gue share sama temen-temen, lirik menyusul dan disesuaikan dengan karakter lagunya,” imbuhnya lagi. Chino sendiri menerapkan tuning drop D pada gitarnya demi menambah kedalaman emosi tiap treknya. “Gue sengaja main di drop D biar sound low-nya dapet dan keluarnya tight. Jadi emosinya juga dapet,” bebernya.

Proses pembuatan album ini membutuhkan waktu hingga 1,5 tahun dan harus dilakukan di dua studio berbeda. Selain masalah finansial, Danu yang harus bolak balik dari tempat tinggalnya di Jambi ke Bandung serta Chino yang mengejar kelulusan kuliahnya di tahun yang sama menjadi penyebab yang tak kalah berperan. “Waktu rekaman di studio pertama, dana kami benar-benar terkuras. Akhirnya kami memutuskan pindah ke studio lain yang kebetulan operatornya teman kami. Jadi kami bisa menghemat dana,” Chino kembali menjelaskan.

Dengan alasan uang pulalah, launching album ini baru akan digelar jika dana dari hasil penjualan CD sudah terkumpul. Bahkan rencananya, mereka juga akan menggelar tur promo. “Kalo semua laporan penjualan CD udah masuk, ditambah hasil dari penjualan kaos terus kami dapet budget yang pas, kami akan menggelar launching dan juga tur. Mungkin tur Jawa dulu, atau mungkin juga beberapa kota di Sumatera. Kebetulan vokalis kami berasal dari sana,” ujarnya lagi.

Albumnya sendiri diedarkan sebanyak 1000 keping dengan dua proses distribusi; 500 keping dititipkan ke Demajors, sementara sisanya mereka jual sendiri dengan lingkup penyebaran di seluruh pulau Jawa hingga Sumatera. Untuk wilayah Jakarta, angka penjualannya terbilang cukup tinggi. Meski belum ada angka pasti, namun pihak demajors mengklaim, “Men666anas” telah menempati posisi ke-3 best seller penjualan di bulan pertama perilisannya. Sementara laporan resminya baru akan mereka dapatkan pada bulan Mei besok.

Di luar album, Bromocorah juga merilis singel berjudul “Seberangi Ranah Neraka” yang disertakan ke dalam album kompilasi bertajuk “Konspirasi Thrash” gagasan Indonesian Thrashedhead yang dirilis tanggal 31 Maret kemarin. “Di album ini kami harus menyertakan lagu yang benar-benar gres, yang belum dimuat di album manapun. Jadi, kami buat satu lagu baru,” Chino mengakhiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s