Gigitan Taring Seringai

Setelah hanya merilis singel “Tragedi” pada April 2012, pasukan metal Seringai akhirnya melepas album baru bertajuk “Taring” (High Octane Production/Demajors) pada 11 Juli 2012 kemarin. Sesuai judulnya, album ini dilapisi komposisi menggigit yang bermuara pada riff-riff runcing gitaris Ricky Siahaan yang bersetubuh dengan cabikan tajam bassis Sammy, pukulan berbisa dramer Khemod, serta gelegar pedas vokalis Arian.

Proses penggarapan album ini memang memakan waktu hampir dua tahun lantaran para personelnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing serta sesaknya jadwal manggung di akhir pekan. “Sekalinya masuk studio kami menggarapnya juga sangat detail. Prosesnya didiskusikan. Kalau dulu kan lebih ke jamming, sekarang kami coba pake pola yang gue sebut ‘dibahas’ dan ternyata pitchingnya jauh lebih lama, nggak kayak jamming di studio. Inilah yang bikin agak molor perilisannya,” tutur Ricky.

Gitaris yang juga berperan sebagai produser ini menambahkan, meski didiskusikan namun saat menulis materi album mereka cenderung membiarkan semuanya mengalir begitu saja tanpa terpaku kepada salah satu pola –katakanlah harus tema atau musik lebih dulu. Di lagu “Tragedi” misalnya, ide awal yang muncul justru bentuk atau gimik lagu. “Kalau dibilang ngalir sih ngalir tapi yang jadi duluan menginspirasi yang berikutnya.”

Lalu apa bedanya dengan album sebelumnya “Serigala Militia” (2007)? “Di sini gue lebih memaksimalin alat yang gue punya. Alat yang dipake rekaman sama persis dengan yang dipake saat manggung. Gue pake semua alat itu supaya saat orang denger CD-nya sensasinya sama seperti orang liat waktu kami manggung.” Padahal, di album sebelumnya Ricky sampai harus pinjam beberapa alat ke sana- sini demi mengejar sound yang dibutuhkannya. “Soalnya percuma juga ngejar sesuatu yang nggak bisa ditiru saat live. Nggak memuaskan penonton.”

Style permainan gitar yang diterapkan juga lebih variatif. Ada pola-pola baru seperti nuansa western, bebunyian gitar akustik di tengah lagu distorsif, serta lead-lead gitar melodius ala Metallica. “Terlebih lagi di nomor instrumental “Gaza”. Secara style permainan lumayan banyak pengembangannya. Dan gue sangat puas di lagu ini. Walaupun nggak ada niat jadi shredder kayak siapa-siapa, gue bebas ngulik sound, riff-riff berat, dan hook-hooknya. Di lagu ini gue pengen apa aja boleh sama band. Gue mau masukin trompet boleh, gue main lead juga boleh.” Selain itu Ricky juga bereksperimen dengan tuning yang lebih berat, drop A di nomor “Lagu Lama”.

Ricky sendiri memang dikenal sebagai gitaris yang memiliki kekuatan riffing elegan dimana inspirasinya banyak diadopsi dari musik hardcore dan old school heavy metal. “Gue sukanya riff-riff kayak Black Fag, Metallica era “Kill ‘Em All” sama Black Sabbath. Gue suka teknik downstroke picking. Semakin capek tangan gue, semakin enak hahaha…” Namun demikian, khusus di nomor “Tragedi”, gitaris yang juga berprofesi sebagai jurnalis musik ini mengaku dirasuki virus NWBOHM (New Wave of British Heavy Metal), “Ada persilangan Motorhead dan punk ala Turbonegro di lagu ini. Rock n’ roll tapi berat, yang menurut gue jarang dilakukan oleh gitaris lain.” “.

Saat proses rekaman gitar, karena berperan sebagai gitaris tunggal Ricky berusaha membuat keseimbangan antara riff dan fill di sekujur trek agar tidak terdengar kosong dan demi menjaga keagresifan sound gitarnya. Terhitung hanya ada tiga trek yang benar-benar menampilkan solo gitar, yakni “Tragedi”, “Dischoteque”, dan “Serenada Membekukan Api” selebihnya hanya fill-fill yang tidak terlalu panjang. “Jujur, ini agak-agak PR buat gue. Secara ego ada keinginan gue buat main lead, tapi kalau gue nge-lead nanti malah kosong. Terus mau pake gitaris satu lagi ntar gajinya kemahalan hahaha…”

Filosofi Ricky dalam menulis part solo di ketiga lagu tadi adalah bagaimana membuat lead gitar bernyanyi. Dan uniknya, gitaris yang mempengaruhi departemen solo bukanlah dari ladang metal. “Billy Corgan (Smashing Pumpkins), dia yang mempengaruhi gue gimana caranya bikin lead gitar yang bernyanyi. Bukan buat membuktikan kalau gue bisa masukin sebanyak mungkin nada dalam satu bar. Atau main secepat mungkin. Lead di lagu “Tragedi” adalah lead yang paling bernyanyi yang pernah gue mainin untuk Seringai. Biasanya kalau gue bikin lead itu kan selalu blues aja. Kalau nggak pelan ya ngebut. Nah ini nggak terlalu ngeblues, tapi lebih melodius, lebih mayor, lebih ke feel.”

Berbicara tentang formula rekaman gitar, Ricky menggabungkan sistem todong dan direct dengan gear gitar Gibson SG dan Gibson Les Paul Custom untuk basic ritemnya, serta Gibson Explorer untuk leadnya yang lantas dikombinasikan dengan ampli Mesa Boogie dan Booster Xotic Effect. “Gue orangnya nggak ribet dan seperti yang gue bilang tadi apa yang gue punya itu yang gue pake.” Rekamannya sendiri dilakukan di Riverbrick Studio oleh engineer Satya Adi. Dan secara keseluruhan album ini dimixing oleh sound engineer mereka Miko Setiawan di Die By The Sword Studios dan dimastering oleh Indra Q di Iqala Mastering Studio.

Rencananya, setelah album ini Seringai akan menggelar launching sekaligus perayaan usia kesepuluh tahun mereka dalam waktu dekat. “Mungkin sekitar akhir tahun ini. Tapi sekarang gue juga sedang ngemastering vinyl 7″ yang bakal berisi dua atau tiga lagu outakes. Mudah-mudahan tahun depan bisa diedarkan,” Ricky mengakhiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s