Idealisme Kronis The Fly

Materi non mainstream yang terbentur stigma industri memaksa The Fly bercerai dengan Sony BMG dan memilih berjalan di jalur indie. Tapi apa lacur, Falcon Music lantas meminang mereka dengan segala konsekuensinya. Dilengkapi vokalis baru bernama Teddy Suryaman (vokal), Kin Aulia (gitar), Levi Santoso (bass) dan Adithya Nugraha (keyboard) kini siap menerjang pasar internasional dengan album anyar bertajuk “A New Beginning From Another Beginning’s End”.

Setelah merilis album “If Loving You is Wrong, I Don’t Wanna Be Right” empat tahun silam The Fly menemukan ketidakcocokan visi dengan Sony BMG untuk materi album berikutnya. Mereka pun cabut meski masih terikat kontrak dua album yang ironisnya disusul dengan kepergian vokalis jebolan Indonesian Idol Firman Siagian.

Butuh waktu dua tahun bagi The Fly untuk mendapatkan pengganti Gian, sapaan Firman. Adalah Teddy Suryaman, vokalis asal Bandung pemilik karakter suara ‘minor’ layaknya Thom Yorke (Radiohead), yang kemudian terpilih setelah menjalani proses audisi. Namun kedatangannya membawa dampak besar bagi The Fly. Seluruh materi yang sudah ada nyaris tak terpakai lantaran tak cocok dengan karakter vokalnya. The Fly lantas mengarap materi baru yang jauh berbeda namun tetap mempertahankan root sejati mereka.

“Cuma lagu “OMG” yang dipertahankan. Lagu ini paling beda nih, keliatan banget materi lama The Fly-nya. Teddy sendiri jujur aja nggak maksimal kalo bawain lagu ini mangkanya di lagu ini dia duet sama Ipang BIP. Itu pun gue aransemen lagi. Di album ini perubahan musik kami jauh banget karena harus disesuaikan dengan vokal Teddy,” kata gitaris Kin Aulia.

Tak hanya itu, lirik juga butuh penyesuaian. Ditambah dengan tujuan awal The Fly yang ingin menjamah pasar internasional maka semua lagu dibuat dalam lirik bahasa Inggris. Bahkan, mereka sempat menambahkan embel-embel ‘Project’ di depan nama The Fly lantaran merasa tak bakal lagi membawakan mater-materi lama mereka. “Tapi kemudian Falcon suka materi-materi kami. Gue nggak enak sama mereka. Akhirnya beberapa lagu gue terjemahin ke Bahasa Indonesia. Tapi nanti rencananya kami bakal bikin lagi yang full Inggris dan dilempar di luar negeri. Kami akan cari label di luar, di manapun itu,” tambah Kin.
Untuk itu, selain bekerjasama dengan Falcon, The Fly juga masih bergerilya demi memasarkan album ini di luar negeri. Sebagai langkah awal, mereka bekerja sama dengan Valleyarm, distributor musik digital untuk kawasan Asia-Pasifik yang berpusat di Australia, dalam mengedarkan lagu “Silenced” via iTunes awal September lalu. Lagu tersebut bahkan sudah masuk ke dalam dua kompilasi dan bakal menyusul hingga lima kompilasi.

Proses penggarapan album ini sendiri membutuhkan waktu lebih lama dibanding album-album sebelumnya, enam bulan. Selain disebabkan pergantian vokalis dan label tadi, pemilihan single juga menjadi peran utama yang membuat album ini terbengkalai. Label ingin lagu lama milik Bimbo, “Flamboyan” sebagai single, namun lantaran terbentur proses ijin yang rumit mereka pun memilih “Sang Penyelamat” dan merilisnya awal tahun 2011 lalu. “Lagu Bimbo itu bahkan nggak masuk di album ini karena ijinnya baru keluar beberapa saat sebelum album dirilis. Tapi rencananya lagu itu bakal kami masukan dicetakan berikutnya. Entah itu repackaged atau gimana bentuknya,” tandas Kin lagi.

Saat proses rekaman, Kin menggunakan gitar Gibson Firebird dan Gibson SG Special New Century dengan menggunakan fasilitas plug-in secara digital dari software. Sedangkan untuk beberapa sound yang tidak terpenuhi dilakukan dengan sistem todong dengan menggunakan ampli Mesa Boogie. Adapun saat tampil live pengagum Steve Vai ini kerap menggunakan efek Line6.

Khusus Gibson Firebird sendiri biasanya digunakan Kin untuk bagian rif-rif yang kuat karena sound yang dihasilkan, menurutnya, tidak ada duanya. Pick up mini humbucker yang dibuat khusus untuk tipe ini menghasilkan clean, crunch dan lead yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Sebagai eksekutor tunggal departemen lirik dan musik, Kin tetap mempertahankan sound gitar dan harmonisasi yang sudah menjadi merk dagangnya selama ini. Ia juga selalu bermain maksimal di sekujur lagu tanpa kecuali. Namun jika berbicara soal lagu favorit di album ini, Kin mengedepankan “Silenced” dan “Chronic”. Menurutnya kedua nomor itu mewakili idealisme kronisnya. “Secara keseluruhan gue suka “Silenced”. Di situ gue suka lead-nya, gue suka isian gue yang simple tapi unik. Tapi kalo yang njelimetnya gue suka “Chronic”. Chord-nya diminish-diminish gitu dan idealis gue banget,” tuturnya lagi.

Gitaris yang pernah menimba ilmu di GIT (Guitar Institute of Technology) ini memang menjadi tulang punggung The Fly sejak band ini ditinggal dua gitarisnya Iren (gitar elektrik), Kus (gitar akustik) pasca album perdana “Agustus 1997” dirilis tahun 1997 lalu. Namun belakangan, ia merasa kurang asik juga bermain gitar sendirian sehingga sejak album “If Loving You is Wrong, I Don’t Wanna Be Right” The Fly sering menggunakan additional saat tampil di atas panggung. “Tapi itu live doang yah, kalo recording sih sendiri. Itu pun kadang-kadang juga. Kalo cuma bawain satu lagu yah gue nggak perlu additional,” pungkas Kin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s