Rafika Saleh

Rafika Saleh atau yang akrab disapa Ika merupakan gitaris band pop Summerlily yang sudah menggeluti gitar sejak lebih dari lima tahun lalu. Namun, proses perjalanan yang dilalui Ika terbilang cukup berliku lantaran tak satu pun anggota keluarga yang mendukungnya sehingga untuk bermain gitar saja ia harus meminjam kepada salah satu teman yang rumahnya cukup jauh dan mengembalikannya begitu gitar tersebut kelar digunakan.

Ika, baru memiliki gitar sendiri tak lama setelah ayahnya meninggal dunia. Itu pun hasil jerih payah sendiri. Tapi sebelum meninggal, ayahnya sempat menyampaikan sesuatu yang tidak pernah disangka oleh Ika sebelumnya. “Sebelum beliau meninggal, ada kata-kata yang bikin gue kaget. ‘Kalau emang kamu suka di sini (musik) kamu lanjutin aja,’ kata dia. Dan tiba-tiba dia juga mau dengerin lagu gue padahal dia sama sekali nggak dukung gue sebelumnya,” kisah Ika.

“Keluarga gue kan ada Arab-nya, jadi cenderung nggak mengenal musik alat musik. Dulu tuh nggak pernah ada anggota keluarga gue yang hadir tiap gue manggung. Itu yang bikin sedih. Gue kadang suka ngerasa gimana gitu ngeliat orang yang disupport sama keluarganya, suka terharu.” Ya, Ika semakin termotivasi dengan peristiwa itu dimana ia terus mengasah kemampuan bermain gitarnya demi membuktikan bahwa jalan yang dipilihnya tidaklah keliru.

Kali pertama ia memutuskan menjadi gitaris terhitung sejak band metalnya Zala bermasalah dengan salah satu gitarisnya. Ika, yang kala itu berperan sebagai pembetot bass akhirnya banting gitar menjadi gitaris setelah diminta rekan-rekannya yang langsung menugasinya dengan banyak lagu. “Ternyata pas nyentuh gitar dan ngulik lagu gue suka banget. Bahkan sehari gue bisa sampai 7-10 jam bermain gitar. Gue ketagihan hahaha…”

Ika tidak pernah mengenyam pendidikan khusus untuk mengembangkan skill bermain gitarnya. Sebagai gitaris otodidak yang mengandalkan pendengaran dan perasaan Ika mengaku permainannya tidak rapi dan cenderung terlalu powerful. Ia juga tidak pernah mengkotak-kotakan genre yang dimainkannya, karena itulah ia mengidolakan dua gitaris dari dua genre dan style yang berbeda, Mark Morton (Lamb of God) dan Billie Joe Armstrong (Green Day).

Lalu, apa tipe permainan yang menjadi ciri dari Ika? “Dulu waktu awal-awal pegang gitar kayaknya gue lebih mikirin soal speed dan segala macam. Tapi kalau sekarang gue lebih berusaha untuk bermain indah, bermain bagus…soul-nya harus dapet. Gue nggak cuma pengen diliat bagus hanya karena gue cewek yang bisa main gitar, tapi nyari rasa juga. Dan cara gue nyari rasa itu awalnya nyoba-nyoba dulu sambil dapetin yang paling nyaman sambil sedikit-sedikit nyari referensi di YouTube.”

Sedangkan untuk gear, Gitaris yang pernah bekerja sama dengan Denada, Tere dan Anji ini mengaku banyak mengoptimalkan gitar Jackson DX10D Dinky yang disandingkan dengan Delay TC Electronic Flashback, Distorsi/Overdrive JHS Angry Charlie, Xotic Effect USA, Xotic Effects USA BBP Comp, Power Supply dan Voodoo lab.

Sebagai gitaris perempuan yang jumlahnya jauh di bawah gitaris pria Ika juga merasa tidak minder atau bahkan terintimidasi saat harus tampil di antara atau bersama mereka. Wanita yang juga berperan sebagai gitaris band metal Ivy ini malah akan sangat senang, memuji bahkan menghormati siapa saja yang mengajaknya bermain. Pasalnya, lanjut Ika, jalan hidup di musik yang mereka jalani tidak sesulit yang dijalaninya selama ini. “Mereka beruntung dan gue suka itu.”

Berbicara soal tampil di atas panggung, Ika memiliki pengalaman yang tidak terlupakan. “Waktu gue main di Kemang, lupa tepatnya kapan. Dulu kan gue sempet latah dan orangnya suka cengar-cengir gitu. Temen gue bilang kalau mau naik panggung jangan cengar-cengir mulu tapi harus diserem-seremin. Nah, pas naik panggung gue serem-seremin deh tampang gue… tapi di situ ada kabel yang nggak keliatan dan gue pun nyangkut. Di situ spontan gue bilang, ‘Eh monyet monyet…!’ Hahaha…. itu kocak banget semua orang yang ada di situ ketawa,”

Di luar musik dan gitar, Ika pernah menjalani profesi sebagai pekerja kantoran, Mulai dari pegawai asuransi, karyawan stasiun radio dan pengusaha distro. Kini, ia bahkan berencana membuka tempat makan berkonsep gerobak yang dikelolanya sendiri. Namun Ika mengakui, musik adalah segala-galanya sehingga tak heran jika kegiatan lainnya tidak pernah jauh dari dunia musik. Seperti mengisi gitar di film “Me and You Versus The World” dan rencananya membuat soundtrack untuk salah satu film produksi Star Vision.

Saat ini Ika sendiri tidak tergabung ke dalam komunitas gitar apapun. Namun bukan berarti Ika tidak memiliki alasan akan hal itu. “Sebenarnya gini, kalau gue mikirnya… bergabung itu buat apa dulu. Karena bergabung dengan komunitas atau organisasi apapun gue harus tahu batasannya, karena ada hal lain yang lain yang harus gue lakukan. Gue takut nggak bisa total di situ. Kemarin-kemarin juga gue pernah bilang ke pihak GitarPlus pas diajak main di mana gitu, tapi selalu nggak pas waktunya, tapi di sisi lain gue juga nggak mau dibilang sok sibuk. Sebenernya gue juga mau…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s