Rhoma Irama, Simbol Revolusi dan Pemberontakan

Ibadah. Adalah filosofi bermusik Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama. Pasalnya, menurut Rhoma, “Musik adalah karya Allah SWT yang luar biasa. Bayangkan, dari 12 not bisa menciptakan 1440 akord dan menciptakan jutaan bahkan milyaran lagu. Semua lagu itu sebenarnya sudah ada, dan Allah lah yang menciptakan semuanya. Rangkaian notnya juga sudah ada. Kita tinggal menggapainya. Yang menghembuskan ilmu itu adalah Allah. Dalam surat Al Israa’ ayat 85 Allah berfirman: Dan tidaklah kamu diberi ilmu hanyalah sedikit.”

Filosofi itu memang begitu tertancap dalam diri pria bernama lengkap Raden Irama. Hingga ia pun rela mati di atas panggung demi memerjuangankan ‘ibadahnya’ tersebut. Apalagi sejak tahun 1973 Rhoma memutuskan Orkes Melayu Soneta yang dibentuknya pada Oktober 1970 harus membawa misi Islam. Atau istilah yang disebutnya saat itu, “The Voice of Islam” dimana setiap kali konser ia selalu membawakan pesan agama. Jihad pertamanya di Islam terjadi saat pertama kali ia mengucapkan ‘assalamualaikum’ di atas panggung, tahun 1975, di Ancol, saat perayaan tahun baru. Saat itu, mengucapkan salam bagi para musisi adalah hal tabu.

Alih-alih mendapat jawaban ‘wa’alaikum salam’ penonton malah marah dan melemparinya dengan batu. Bahkan ada yang sampai menghina agama Islam dengan kata-kata kotor, yang memaksa Rhoma melepas gitarnya dan melompat ke arah penonton itu. “Saya loncat, saya uber sampai kena tuh orang. Terus waktu saya nguber dia di belakang saya ada penonton lain yang udah ngayunin golok mau bacok saya, tapi pemaen mandolin saya, Haji Nasir langsung hantam dia pake stand mik. Saya dihina-hina orang nggak masalah. Tapi kalau yang dihina agama Islam, ya saya kejar,” kisahnya

Suka duka Rhoma sebagai seorang musisi tak sampai di situ. Di era yang sama, musik dangdut yang diusung Rhoma berkonfrontasi dengan musik rock yang saat itu tengah mewabah. Rolling Stones, Led Zeppelin, dan Deep Purple menjadi idola remaja dan membuat genre musik lain nyaris mati. Rhoma pun bersiasat, orkes Melayu ia tetesi dengan DNA hard rock, iramanya yang mendayu ia ganti dengan ketukan yang cepat, bebunyian tabla (instrumen khas India) tidak lagi mendominasi dan digantikan dengan instrumen dram. Semua demi bersaing dengan musik rock dimana hasilnya adalah sambutan luar biasa dari publik.

Namun tidak dengan para musisi rock. Mereka justru mencerca Rhoma. Bahkan meminta pemerintah melarang dangdut beredar. “Soneta itu musik perang. Saat itu saya menegaskan, Soneta siap mati! Dulu kalau manggung salah tempat, batu dan sendal melayang ke arah saya. Rocker-rocker kerap naik ke panggung mengganggu konser kami. Kontak fisik juga pernah terjadi. Di Bandung, di tempatnya Giant Step saya juga pernah dilemparin batu. Tapi the show must go on! Begitu juga dengan rock, saat maen disambitin batu sama dangduter.”

Gencatan senjata antara musisi dangdut dan rock baru benar-benar tercapai pada 1979. Pengacara Japto Soerjosoemarno menjadi penengah dengan menantang Rhoma berduel dengan Achmad Albar dan God Bless-nya, dalam sebuah konser di Senayan yang dihiasi dengan pelepasan merpati sebagai simbol perdamaian. Sejak itu, dangdut dan rock pun berdamai. Pada 1985 konser bersama dangdut dan rock bahkan kembali dihelat di tempat yang sama.

Berbicara soal dangdut, musisi yang sejak kecil akrab disapa Oma ini memang orang yang bertanggung jawab atas lahirnya genre itu. Ia merevolusi orkes Melayu menjadi dangdut dengan penambahan lead guitar dalam komposisi lagu-lagunya. Segala hal yang bernuansa akustik ia ganti menjadi elektrik. “Ingkar” misalnya, tanpa meninggalkan identitas dangdut itu sendiri lagu ini begitu lekat nuansa rocknya. Cita rasa gitar rock distorsif bahkan berhamburan di nomor-nomor semisal ”Begadang 2”, ”Takwa”, ”Judi” dan ”Kiamat”. Ya, sound gitar rock Rhoma Irama sejak itu menjadi unsur wajib dalam dangdut. “Dengan revolusi itu, Alhamdulillah di Indonesia dangdut bisa jadi tuan rumah. Jadi primadona…”

Pengaruh sound gitar rock itu sendiri didapatkan Rhoma dari gitaris Deep Purple Ritchie Blackmore. Menurutnya, musik yang dikibarkan oleh Deep Purple adalah rock yang bisa dinikmati, soundnya sangat melodius dan cocok dengan dangdut. Namun ia menegaskan permainanannya tidak berkiblat kepada Ritchie Blackmore sepenuhnya. “Ritchie Blackmore dan Deep Purple hanya sebagai taste saja. Sekarang saya udah nggak pernah dengerin Ritchie. Dulu pun saya cuma dengerin album (Deep Purple) yang ada lagu “Smoke On the Water”-nya aja,” ucap Rhoma yang saat itu juga sempat menggunakan gitar Fender Stratocaster, merk yang sama dengan yang dipakai oleh Ritchie Blackmore.

Setelah Fender dan beberapa gitar merk lain, Rhoma lantas beralih ke Steinberger, sebuah gitar headless yang dibelinya di Hong Kong pada 1980, saat ia menjalani sebuah syuting film. Kala itu ia melihat gitar ini menggantung di sebuah etalase toko musik bernama Tom Lee Music Shop. Ia tertarik dan ingin membelinya, namun si penjual tidak melepasnya lantaran itu hanya prototype dan tidak dijual. Namun Rhoma tidak patah arang, selama tiga hari berturut-turut ia kembali mendatangi toko itu. Dan di hari ketiga, saat si penjual sedang membaca majalah Asiaweek dia langsung terkejut melihat ada Rhoma Irama yang dinobatkan sebagai ‘Southeast Asia Superstar’ oleh majalah tersebut.

”Ini kamu?!” tanya penjual gitar sambil menunjuk foto saya di dalam majalah,” kenang Rhoma. Saya jawab, “Iya.”

“Wah…kalau gitu saya harus telepon Ned Steinberger sekarang. Halo Tuan Steinberger, ini ada Southeast Asia Superstar minta gitar sampel yang ada di toko…” Hahaha…dan saya langsung dikasih dengan harga sekitar 20 jutaan rupiah waktu itu. Sampai sekarang gitar itu masih saya pake. Dan sekarang saya udah punya tiga gitar Steinberger; 2 warna hitam dan 1 warna putih. Saya juga pernah beli sepasang yang seri Spirit tapi kurang enak. Kalau yang sekarang saya pake enak banget, fretnya 24 lebih panjang dari Fender, necknya juga lebih kecil dan pas buat tangan saya. Dari segi sound juga lebih cocok,” Rhoma terus berkisah.

Lalu sejak kapankah Rhoma mengenal alat musik berdawai enam ini? “Sejak SD”, kata dia. “Waktu itu saya suka sama pemain gitar band Riama yang namanya Parlin Hutagalung. Kemudian saya belajar melodi lagu “Bengawan Solo”, itu jadi standar kalau orang bisa mainin lagu itu berarti dia jago main gitarnya. Waktu itu gitu hehehe…..”

Rhoma memiliki gitar akustik pertamanya, Rossini, dari ayahnya. Gitar itu selalu ia bawa setiap begadang di warung atau di rumah salah satu temannya sebelum akhirnya raib entah ke mana. “Padahal itu gitar kebanggan saya,” katanya. “Saya dibelikan gitar lagi sama Ayah tiri saya, merk Yamaha, tapi gitar itu hancur dilempar Ibu ke pohon jambu karena ketika saya disuruh jagain adik saya yang masih bayi, saya malah main gitar dan adik saya jatuh.”

Rhoma sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan musik formal. Seperti kebanyakan gitaris di jamannya, ia belajar secara otodidak dan tidak memahami partitur atau not balok. Suatu waktu ia pernah belajar musik, namun instrukturnya kemudian melarang Rhoma untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya berseberangan dengan dalil-dalil musik sesungguhnya. Merasa kebebasannya dibatasi oleh hukum itu, Rhoma pun berhenti belajar musik.

Pemberontakan Rhoma tidak terhenti sampai di situ. Ketika sesi rehearsal festival lagu terpopuler negara-negara Asean di Filipina yang diikutinya. Ia juga sempat bersitegang dengan salah satu juri yang mengatakan lagu “Kerudung Putih” dan “Haram” yang akan dibawakannya tidak bisa ditulis not baloknya dan harus diaransemen ulang. Jika tidak, kata Rhoma, ia akan didiskualifikasi dari kompetisi tersebut. “Saya bilang, ‘Silahkan diskualifiasi, toh nggak akan saya ubah! Saya tidak mau terikat sama hukum-hukum musik yang Anda buat. Musik adalah jiwa. Apa yang saya rasa asik itu yang saya buat. Mau ngelanggar apa nggak saya nggak perduli. Saya nggak pake hukum-hukum musik’.”

Namun pengamat musik asal Jepang yang berada di sana saat itu kemudian mengijinkan Rhoma untuk terus berpartisipasi. Ia membela Rhoma seraya berkata, “Rhoma ini betul. Manusia harus tunduk kepada jiwanya bukan kepada hukum-hukum (musik) ini. Lanjut! Kamu (juri) yang harus menyesuaikan dan harus bisa menulis not balok lagu-lagu ini. Jangan paksa dia menyesuaikan dengan tulisan kamu.” Rhoma pun tak jadi didiskualifikai. “Itulah kenapa saya nggak mau belajar musik. Ini saya punya soul,” tandasnya.

Masih ada cerita lainnya. Yakni saat Rhoma dan Soneta-nya berkolaborasi dengan musisi jazz senior Idang Rasjidi di salah satu program televisi lokal membawakan lagu ”Ghibah”. “Aku gimana bisa ngikutin lagu ini? Berantakan begini… Nggak bisa ditulis nih Bang Haji,” kata Idang yang langsung ditanggapi Rhoma dengan santai. “Loe mau maen maen, kalau nggak nggak hahaha…”. Itulah Rhoma Irama, musisi yang membuat lagu sesuai hati nuraninya. Karena baginya mematuhi hukum-hukum musik tertulis adalah bagian dari gerakan memperkosa kreativitas.

Buktinya, kendati dianggap menyimpang dari kaidah ilmu musik, lagu-lagunya sangat diapresiasi banyak orang. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Saat tampil di University of Pittsburg, Amerika Serikat, salah satu profesor kebudayaan universitas tersebut mengatakan bahwa lagu-lagu Soneta telah dipelajari di ratusan universitas di Amerika. Saat itu Rhoma juga diperlihatkan 6 buah buku berhalaman tebal yang mengupas tentang lagu-lagunya. Artinya, jika kita berbicara tentang Indonesia di universitas-universitas tersebut, pasti nama Rhoma Irama ikut muncul ke permukaan.

Lagu “Stop” bahkan dianggap salah satu pengamat musik luar negeri sebagai lagu pop terkaya di dunia. Terkaya dalam hal imajinasinya, kreativitasnya, dan aransemennya. Jelas sekali kan? Andai Rhoma Irama mengikuti aturan musik yang baku maka lagu-lagu seperti “Stop” tidak mungkin tercipta. Apalagi jika dihitung-hitung Rhoma telah menciptakan hampir seribu buah lagu, baik yang dibawakan dirinya sendiri maupun oleh artis-artis lain. Sayang, Rhoma tidak mengarsipkan karya-karyanya tersebut lantaran beberapa masternya telah terbakar di rumahnya.

Lagu-lagu tersebut terkumpul dalam beberapa album seperti “OM Soneta (Volume I)” yang dirilis pertama pada 1975, kemudian “Penasaran” (1976), “Rupiah” (1976), “Darah Muda” (1977), “135 Juta” (1978), “Santai” (1979), “Hak Azasi” (1980), “Begadang II” (1981), “Sahabat” (1982), dan “Indonesia” (1983). Semuanya diproduksi Yukawi Corporation, yang belakangan menjadi Soneta Records, milik Rhoma. Dan hingga kini, ia pun telah menyabet lebih dari sepuluh Golden Plate Awards.

Proses pembuatan lagu-lagu tersebut selalu diawali dengan bersenandung dengan gitar di pangkuannya dan direkam dengan gaya konservatif. “Pake tape recorder. Jadul punya lah….” ucapnya. Untuk inspirasinya ada yang berdasarkan kisah nyata, fiksi, sampai pengalaman orang lain. Sedangkan untuk aransemennya dieksekusi sendiri dan hanya memberikan sedikit ruang bagi para anggota Soneta lainnya untuk memberi masukan. “Mereka boleh ngasih masukan, tapi decision maker-nya saya. Kalau bagus lanjut, kalau nggak ya nggak.”

Tak hanya dalam urusan mengeksekusi aransemen lagu. Persoalan sound check sebelum manggung pun Rhoma tidak pernah melibatkan orang lain. Dari mulai rhythm section, ekualisasi gendang, hingga balancing seluruh instrumen dilakukan tanpa crew. “Feel kita nggak bisa diwakilkan kepada orang lain. Saya sangat terganggu kalau itu tidak sesuai dengan keinginan saya. Tidak pernah dan tidak akan pernah didelegasikan. Karena saya lah yang menyebarkan energi di situ.”

Sementara untuk gear, selain gitar Steinberger berwarna hitam dan putih yang selalu menemaninya. Rhoma juga begitu fanatik dengan ampli Roland Jazz Chorus-120 dan Boss HM-2 Heavy Metal Pedal. “Saya nggak suka pake efek macem-macem. Dari dulu saya cuma pake efek heavy metal ini dan sekarang efek yang karakternya sama kayak itu nggak ada. Saya nggak nemu. Di amplinya, saya juga hanya menggunakan chorus dan sedikit reverb. Dan saya tidak berniat untuk berekpslorasi lagi.” musisi yang pernah membawakan 80 lagu dalam satu hari ini menegaskan.

Sedikit menengok ke belakang. Rhoma Irama lahir dari pasangan Kapten Raden Burda Anggawirja, Komandan Batalion Garuda Putih di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Tuti Djuariah pada 11 Desember 1946. Raden adalah gelar, karena ayah dan ibunya berdarah ningrat. Sementara Oma adalah panggilan sayang ibunya untuk Rhoma yang belakangan setelah naik haji, anak kedua dari 12 bersaudara ini dikenal sebagai Rhoma Irama: Raden Haji Oma Irama.

Awal 1960-an, Rhoma membentuk band Gayhand, Tornado dan Varia Irama Melody. Namun saat itu juga ia bergabung di sebuah grup orkes Melayu sehingga setiap malam Minggu ia bisa bermain band dalam pesta orang kaya dan juga bermain orkes Melayu di kampung di hadapan orang biasa. Rhoma memang hidup di antara dua kutub musik yang berbeda. Di satu sisi ia sangat menggemari lagu-lagu Pat Boone, Elvis Presley, Tom Jones, Everly Brothers, dan Paul Anka. Di sisi lain ia juga mengagumi Lata Mangeshkar, penyanyi asal India yang pernah berduet dengannya.

“Jadi pas di sekolah dulu saya suka nyanyi di depan kelas. Kadang lagu barat, kadang lagu India. Saya juga pernah juara festival Pop Singer se-Asia Tenggara, waktu itu bawain lagu Tom Jones “I (Who Have Nothing)”. Jadi darah India saja mengalir ke Ridho, darah barat saya ngalir ke Fikri,” ucapnya seraya menyebut nama dua puteranya. Ya, semua itu terjadi sebelum Rhoma membentuk Orkes Melayu Soneta (13 Oktober 1970) yang ia kawinkan dengan musik rock dan melahirkan genre baru bernama dangdut!

Keberhasilan di dunia musik mengantarkan Rhoma ke dunia akting. Sekitar 20 judul film bertema dangdut dan dakwah telah ia bintangi. Dari “Begadang” (1978), “Raja Dangdut” (1978), “Cinta Segitiga” (1979), “Camelia” (1979), “Perjuangan dan Doa” (1980), “Melodi Cinta Rhoma Irama” (1980), “Badai di Awal Bahagia” (1981), “Satria Bergitar” (1984), “Bunga Desa” (1988), “Jaka Swara” (1990), “Nada dan Dakwah” (1991), hingga “Tabir Biru” (1994). Film “Satria Bergitar” bahkan menelan biaya hingga Rp. 750 juta. Sebuah biaya yang cukup tinggi pada masa itu.

Meski di dunia musik sudah meraih banyak hal terhormat, namun ternyata masih ada impian Rhoma yang belum tercapai. Atau malah tak akan mungkin bisa terealisasi. Salah satunya adalah tampil satu panggung dengan musisi atau band kelas dunia. “Saya pengen tampil bareng Michael Jackson, tapi nggak kesampaian. Dan tahun 1984 saya juga pernah kedatangan manajer Mick Jagger, dia merencanakan Giant Road Tour Rolling Stones sama Soneta. Tapi karena waktu itu saya oposisi pemerintah, saya dibanned dan tidak diijinkan,” pungkas Rhoma yang pada periode itu telah berkiprah di dunia politik dengan menjadi anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kala itu, dukungannya terhadap PPP berbuah prasangka bagi penguasa. Mereka menerjemahkan dukungan tersebut sebagai bentuk pemberontakan. Apalagi lagu-lagunya seperti “Judi”, “Rupiah”, “Ada udang di Balik Batu”, dan “Hak Azasi Manusia” berisi barisan lirik yang menyindir pemerintah. Alhasil sejak 1977 sampai 1988, video klipnya dicekal oleh pemerintah. Rhoma bahkan tidak hanya dilarang menyanyi atau sekadar muncul di TVRI, satu-satunya televisi di Indonesia waktu itu, tetapi juga susah mendapat izin untuk pentas. Itulah Rhoma Irama, simbol revolusi sekaligus pemberontakan terhadap musik dan politik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s