Saint Loco, Konsisten di Jalur Hiprock

Lama tak menelurkan album, serdadu hip rock Tanah Air Saint Loco bangkit lewat rilisan teranyar bertajuk “Momentum” (Nagaswara). Sesuai judulnya, album yang dirilis awal Maret 2012 ini merupakan titik balik perjalanan karir musik mereka yang sempat ‘mati suri’ selama nyaris enam tahun. Di sini, Joe Tirta-Saint Joe Loco (vokal), Beery Manoch-Bee (vokal), Iwan Hoediarto-Loco Boy (gitar), Gilbert Sannang-Gilz (bas), dan Nyong Webzter-Webzter (dram) bahkan mencoba sedikit berkompromi dengan kuping para penikmat musik. “Tak lagi segmented dan lebih dewasa,” papar Iwan saat ditemui GitarPlus di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dibanding dua album sebelumnya, konsep musik yang ditawarkan album ini memang lebih variatif dan dewasa dimana Saint Loco mulai berani melakukan berbagai eksperimen baik dari hal genre maupun instrumennya. “Benang merahnya sih tetep hip rock, tapi karena udah nggak ada DJ konsepnya lebih ke alternatif. Selain itu kami juga tampil lebih berwarna. Dalam satu lagu yang kenceng tiba-tiba bisa muncul musik reggae, atau tiba-tiba ada suara biola, dan ada choir anak kecil juga. Ini salah satu eksperimen baru di musik kami. Di album ini juga kami lebih banyak menggunakan lirik bahasa Indonesia.”

Untuk itu, selama proses pembuatan album ketiganya ini para punggawa Saint Loco kini lebih sering mendengarkan musik-musik mainstream yang bobotnya lebih ringan ketimbang musik keras dan berat. “Kalo gue sih banyak dengerin yang umum aja yah, lebih ke alternatif lah, kayak Foo Fighter…yang lebih enteng. Kalo waktu bikin album kedua kan gue lebih banyak dengerin musik metal. Saint Loco sekarang makin dewasa dan nggak segmented lagi, kami lebih punya skill dan lebih memikirkan para pendengar kami. Jadi kami berusaha membuat musik yang lebih diterima sama semua lapisan. Nggak mau dikotak-kotakin. Tapi tetep benang merahnya hip rock,” Iwan menjelaskan.

Kendati lebih lebih ringan, bukan berarti barisan komposisi yang ditawarkan Saint Loco tak lagi menawarkan skill di tiap aransemennya. Meski dengan cara yang berbeda, mereka tetap menyuguhkan skill tersebut. “Kami tetep nonjolin skill. Baik itu skill kord, skill lead, skill ritem, skill arasemen, maupun skill harmoni. Nggak hanya gitar, tapi bass, dram dan vokal juga. Tapi kami nggak mau nunjukin skill yang berlebihan yang akhirnya merusak lagu.”

Dan masih seperti sebelumnya, ide-ide musiknya pun lahir secara spontan di studio saat mereka melakukan jamming. “Basic musik Saint Loco itu selalu datang dari ngejam. Misalnya gue lagi bikin petikan ritem gitar tiba-tiba si Gilbert bilang ‘bagus tuh gue masukin bassnya begini yah’. Terus si Nyong nimpalin ‘gue beatnya begini’… jadilah lagu. Jadi bukan berupa materi atau lagu yang udah disiapin terus dibawa saat kumpul.”

Proses pembuatan album ini memang cukup lama lantaran banyaknya indisden yang menghiasi perjalanan mereka. Mulai dari kecelakaan yang menimpa dramer Nyong, cabutnya mereka dari manajemen dan label Sony Music, hingga keluar dan masuknya kembali Nyong ke dalam formasi band. Namun hal ini justru membuat mereka makin matang dalam mengeksekusi seluruh komposisi.

Sebenarnya mereka sempat merilis dua singel, “Santai Saja Kawan” (Sony Music) dan “Time To Rock n’ Roll” (Nagaswara), selama masa itu. Namun hal itu tak cukup menguatkan pondasi mereka lantaran Dj mereka Tius lantas cabut setelah berperan sebagi dramer pengganti Nyong yang cabut. Dan bagi mereka, “Momentum” adalah titik balik perjalanan karir musik mereka dengan segala liku-likunya. “Inilah kerja keras kami sesungguhnya,” Iwan membeberkan.

Khusus gitar, Iwan sendiri kini lebih banyak menonjolkan permainan ritem ketimbang mengumbar lead. “Leadnya hanya sebagai tema lagu sementara ritemnya juga merupakan pilihan nada yang sudah sangat dipilih sehingga menghasilkan chord yang membekas di kuping pendengar,” kata gitaris yang doyan menjajakan pattern Dorian nyaris di setiap lagu Saint Loco ini.
Hasilnya, Iwan mengaku cukup puas dengan lagu “Patience” yang menurutnya ‘kena’ secara emosi dan karakter gitar. “ Di sini gue main nyaman banget.
Lagu lain mungkin sama tapi di sini gregetnya kena banget. Tapi “Satoe” juga memiliki estetika sendiri lantaran lagu ini bener-bener ngitung ketukan. Ada 6/8, 2/4 sama 4/4. Metronom mesti gue ganti-ganti dan ini menantang banget,” cerita Iwan semangat.

Untuk proses rekamannya Iwan menggunakan dua sistem, yakni direct dan todong. Semua dilakukan sesuai kebutuhan lagu. “Selama rekaman gue selalu nyari enaknya dulu. Kalo enak todong, gue pake todong. Kalo nggak enak, gue pake direct, atau sebaliknya. Tapi kebanyakan sih pake todong, direct itu gue cuma ambil layer…kayak suara dobel clean gitu. Ritem sama lead full todong.”

Sementara senjata perang yang digunakan Iwan selama rekaman adalah gitar PRS Myra, Fender SRV Model Artist, Radix The Saint, Gibson SG, dan gitar akustik Taylor. “Gue sengaja pake banyak gitar karena ada gitar khusus buat lead, ada gitar khusus buat crunch, ataupun buat ritem,” kata Iwan lagi. Adapun amplinya Iwan memilih Marshal JCM 900 combo, Mesa Boggie Singel Rectifier, JMP 1 preamp, dan power Marshall 9200. “Nggak pake efek, semua gue ambil dari komputer biar ngeblend.“

Kini, setelah menghasilkan tiga album dengan Saint Loco, Iwan mengaku masih memiliki impian yang belum terwujud. Yakni merilis album solo berorientasi gitar layaknya gitaris-gitaris dunia kebanggaannya. “Gue pengen punya album solo kayak John 5, Steve Vai, atau Joe Satriani. Tapi itu mungkin cuman buat masterpiece gue aja kalo selama gue main gitar dan inilah yang terbaik. Tabungan materi udah ada tapi belum terlalu gue paksain. Tapi gue juga pengen Saint Loco itu konser di New York dan bikin New York macet. Itu ambisi gue!” Iwan mengakhiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s