Senjata Perang Arockguns

Sekelompok pria penghamba grunge bernama Arockguns siap bertempur di medan laga rock Tanah Air dengan senjata perang berjudul “Lagi Bokek”, sebuah rilisan berlirik ringan namun setiap treknya berselimutkan rif-rif elegan serta distorsi mengancam.

Meski terbilang masih hijau, berdiri Januari 2011, sepak terjang Arockguns di scene rock Tanah Air bisa dibilang melesat cepat. Berawal dari demo yang ditawarkan ke sejumlah stasiun radio, kesempatan bermain di panggung utama Pekan Raya Jakarta (PRJ) pun datang. Di sana, mereka berbagi panggung dengan jawara punk Indonesia asal Bali Superman Is Dead.

Dody (vokal), Agung (gitar) dan Lutfi (dram) lantas merilis album mini bertajuk “Lagi Bokek” melalui jalur independen. Album yang dirilis pada 11 November 2011 itu berisi lima trek berbalut musik grunge segar nan kekar dimana barisan liriknya cukup enteng sehingga mudah menembus kuping semua kalangan. Tak hanya dari sisi usia, tetapi juga dari sisi genre.

Terbukti. Saat mereka main di sebuah acara komunitas metal, para metalheads menunjukkan apresiasi tinggi meski jenis musik yang mereka bawakan sangat berbeda dengan kebanyakan band di acara tersebut. “Awalnya kami ngeri bakal ditimpukin, tapi ternyata mereka (metalhead) suka,” ungkap Agung.

Selain musik dan lirik, ada hal lain yang patut disorot dari Arockguns. Demi menghadirkan kesan unik dan aneh, Agung dan Lutfi kerap menggunakan topeng setiap kali tampil di atas panggung maupun di video klip. Tapi mereka tidak berniat mengekor band Kuburan, yang kini bertransformasi menjadi The Kubz. “Di wilayah rock belum ada band yang memakai topeng. Mereka (The Kubz) itu pake make-up, jadi beda sama kami. Lagipula gue dibiarkan apa adanya. Nggak pake topeng,” timpal Dody.

Tak hanya itu. Sejak awal terbentuk, pondasi Arockguns juga hanya diperkuat tiga orang. Mereka tak pernah menyertakan pemain bass permanen dalam formasinya. Di dalam studio maupun di atas panggung nama Randu kerap berperan sebagai additional player yang setia mendampingi mereka. “Chemistry kami bertiga udah dapet. Kalo kami tambah anggota lagi nanti kebanyakan ‘otak’ dan malah ribet,” vokalis bertato itu melanjutkan.

Berbicara komposisi musik, meski pattern dan rif-rif gitar yang dieksekusi Agung cenderung nge-grunge, nuansa band classic rock seperti ACDC dan Aerosmith tak kalah dominan menyelimuti aliran darah Arockguns. Agung menjelaskan, grunge adalah spirit permainan Arockguns yang dibiarkan berkoalisi dengan berbagai elemen rock lain supaya terdengar lebih jantan.

Saat proses rekaman di studio Starlight di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Agung termasuk gitaris yang tidak mau ribet. Gitar Kramer SF 0511 andalannya cukup ditodong langsung dengan ampli Mesa Boogie tanpa preamp di software. Hanya saja drive yang digunakan diperkecil demi membedakan karakter sound Arockguns yang nge-grunge dengan musik metal. “Gue sih main drive-nya crunch aja. Jadi gain-nya di posisi jam empat, treble-nya di jam enam, bass-nya di jam lima, sedangkan mid-nya di jam empat atau lima gitu,” katanya lagi.

Khusus tampil di atas panggung, pria yang berperan sebagai crew Aria Baron ini biasanya menggunakan Marshall JCM 900 dengan EP Booster. Adapun untuk urusan skill, meskipun dikenal memiliki teknik picking yang mumpuni ia tak suka mengumbar nafsunya di album perdana ini. Distorsi ringan namun tajam dengan rif-rif ala sang idola, Angus Young, gitaris ACDC lebih ditonjolkan.

Setelah ini, Arockguns berencana merambah major label. Proses rekaman pun sudah mereka lakukan meski promo album ini masih berjalan. Bahkan, lima lagu baru sudah hampir rampung. “Lagu baru itu bakal kami gabung dengan lima lagu di album “Lagi Bokek” biar jadi full album,” pungkas Dody.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s