Transformasi Harmoni Ligro

Memainkan musik dari hati yang ditransformasikan ke dalam komposisi dan harmoni tiada batas, itulah pencitraan band jazz Ligro yang digawangi Agam Hamzah (gitar), Adi Darmawan (bass) dan Gusti Hendy (dram). Pada 26 Januari 2012 kemarin, mereka kembali menawarkan energi tersebut dalam album kedua bertajuk “Dictionary 2” (PT. Sagatama) yang juga bakal dirilis di Amerika Serikat.

Album ini sebenarnya sudah rampung sejak tahun 2009 silam. Tapi karena adanya berbagai kendala teknis akhirnya baru dirilis tahun ini. “Saat itu kondisinya kurang memungkinkan. Tapi justru ada hikmahnya. Sekarang malah mau dirilis di Amerika,” kata Hendy yang lebih dikenal sebagai dramer band Gigi ini.
MoonJune Records lah yang kepincut dengan delapan komposisi unik Ligro. Mereka berencana merilis 1500 keping CD dan bahkan mempromosikannya bersamaan dengan album baru pahlawan gitar jazz fusion asal Inggris, Allan Holdsworth, yang juga bakal dirilis awal tahun ini.

Konsep musik yang ditawarkan Ligro, diakui gitaris Agam, memang lebih menampilkan kreativitas masing-masing personel tanpa terjebak dalam kubangan salah satu genre. “Kami tidak mengagungkan genre apapun, kalo kemudian ada persepsi lain dari pendengar atau media itu kami serahkan kepada mereka. Kami nggak ngonsep harus begini begitu…. Apa yang saya pengen, Adi dan Hendy pengen semuanya oke-oke aja, karena pikiran kami hampir sama,” cetusnya.

Untuk itu Ligro pun enggan terkunci oleh pengaruh idola mereka seperti Miles Davis misalnya. “Platform seperti itu hanya akan membatasi kreativitas kami,” timpal bassis Adi. “Kami lebih nyaman berinovasi dengan memasukan unsur-unsur budaya yang menjadi tradisi kami bertiga.”

Latar belakang Adi yang berasal dari Madura, Agam yang blesteran Aceh dan Sunda, serta Hendy yang asli Kalimantan berhasil membawa pengaruh besar dan memperkaya musik Ligro. Hendy bahkan mengganti tomtom dramnya dengan gondang, kendang Batak yang dimainkannya dengan gaya Kalimantan. “Di sini semua unsur melebur, nggak ada pantangan. Mau kurang jazz atau kurang rock juga nggak apa-apa. Mangkanya set dram gue juga dipakein gondang. Bunyinya kan nggak sebesar tomtom, jadi benturan bass dan gitarnya juga jadi beda,” jelas Hendy.

Secara struktur atau bentuk album ini juga lebih spontan dan mengalir dibanding album pertama, “Dictionary 1”. Seperti yang dibeberkan Agam, ide kreativitas mereka datang saat kumpul bersama meskipun ada beberapa nomor yang sudah disiapkan rancang bangunnya seperti “Paradox” dan “Bliker 3 Introduction Double (J.S Bach)”.

Saat proses pembuatan lagu mereka juga berusaha menahan emosi dalam memamerkan skill individu. Menurut Adi, meski semua personel memiliki karakter yang kuat tapi mereka harus bisa menyesuaikan dengan komposisi. Namun saat tampil di panggung dan melakukan improvisasi dan saling merespon, barulah skill itu lebih terlihat.

Lalu bagaimana dengan proses rekamannya? “Sejak album pertama kami rekamannya selalu live, dubbing itu sangat minim, paling ada dubbing gitar dikit-dikit buat ngeblok. Kami hanya membutuhkan 5 shift, dengan mixing total sepuluh hari kelar,” lanjut Agam.
“Kami suka hasil yang kasar, bukan hasil yang terlalu manis. Sekarang kan jaman computerized banget. Yang bocor-bocor hapusin…dirapihin… Kalo kami justru butuh yang seperti itu. Biar ada bocoran di bass dan gitar tapi justru banyak ide-ide spontan yang muncul dan kesan bandnya berasa banget. Kalo teknisnya sih layaknya rekaman seperti biasa,” tambah Hendy.

Saking ingin naturalnya, Ligro bahkan hanya sesekali mengunakan metronome. Jika hasilnya kurang memuaskan maka mereka akan mengulangnya dari awal sampai akhir. “Mau itu lagunya sebelas menit atau dua belas menit pokoknya kita ulang hahaha…,” Adi, bassis yang juga piawai memainkan gitar klasik, menimpali

Berbeda dengan band trio instrumental pada umumnya yang lebih menonjolkan intrumen gitar, Ligro lebih menyajikan satu jalinan harmoni kuat antar personel. Meski ada beberapa tema dimana gitar lebih menonjol tapi setelah musik berjalan semua saling memberikan respon yang seimbang. “Setiap personel memberikan ide. Munculnya bisa terjadi antara saya dengan Adi atau Adi dengan Hendy. MoonJune Records awalnya mau namain band ini Agam Hamzah And Ligro Trio tapi saya bilang nggak bisa gitu, saya bisa diclurit sama orang Madura nih (sambil menunjuk ke arah Adi, Red) hahaha…. Tapi beneran kok saya bisa main musik bener-bener ekspresif hanya dengan Adi dan Hendy. Saya itu sama Adi manusia jadul, beda dengan Hendy yang sangat memahami semua unsur teknis. Jadi kami saling melengkapi,” jelas Agam, instruktur gitar di Sekolah Musik Farabi.

Saat rekaman, Agam juga tetap mempertahankan semangat ‘jadulnya’. “Untuk gear saya tetep pake gitar custom saya (made by Ripto) model semi hollow yang mirip Ibanez Artist-nya John Scofield sama Gibson gitu. Terus ada juga Carvin AE 185. Kalo ampli yang standar juga yah… Mesa Boogie Dual Rectifier… asik banget. Karena ampli ini punya kemampuan yang luar biasa. Gitar saya yang semi hollow kan rawan distorsi banget dengan feedback tapi dengan ampli ini bisa ke-handle. Jadi saya nggak perlu kerja keras untuk mengontrol feedback ini. Saya juga pake Rolland Jazz Chorus Amp,” tutur Agam.

Khusus di lagu “Transparansi” dan “2nd Future” Agam menambahkan ampli Marshall demi menambah kesan ‘jadul’ itu. “Sangat 70an,” tegasnya. Sedangkan efek yang digunakan adalah Blues Driver, Chorus Ensamble, Digital Delay, Graphic Equalizer, dan Octaver (semuanya Boss) plus Rat Distortion dan TC Electronic Delay Nova. “Tapi untuk beberapa distorsi saya cukup ambil dari ampli,” pungkasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s