Dede Aldrian, “Voice of Ethnic”

“Voice of Ethnic” merupakan bukti absolut dari sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Melalui album perdananya ini, gitaris asal Bogor Dede Aldrian tak hanya merealisasikan bunga-bunga tidurnya, tetapi juga membuktikan kepiawaiannya dalam meramu komposisi instrumental sekaligus menggoreskan stigma ‘etnik’ pada dirinya sendiri. Ya, nuansa etnik Sunda yang dikawinkan dengan polesan rock modern hasil eksekusi Dede benar-benar menghasilkan barisan komposisi unik, identik sekaligus ciamik.

Bagi gitaris yang memiliki tipe permainan shredding seperti Dede, apalagi telah memiliki lebih dari 150 lagu sendiri yang sebagian besar di antaranya bercorak neo-classical metal, berpartisipasi dalam gerakan pengabadian musik etnik tentu merupakan hal yang wajib diapresiasi. Di usia yang masih sangat muda, 20 tahun, Dede tidak berusaha mencari jati diri melalui jalur ‘mainstream’ ala kebanyakan gitaris metal. Sebaliknya, ia fokus menggaungkan musik ‘tak lazim’ asal daerah kelahirannya, Bogor, Jawa Barat, dengan segala tingkat keunikannya yang tinggi.

“Sebetulnya saya ingin eksplor semua musik etnik Indonesia termasuk Sumatera (Padang), Kalimantan, Bali, dan lain-lain. Tetapi dikarenakan banyak dan bermacam-macam jenisnya, akhirnya saya putuskan di album ini hanya fokus ke daerah dimana saya berasal, yakni Jawa Barat. Tapi jangan salah, musik Sunda dan Bali memiliki banyak kesamaan. Sama-sama ada gamelannya, gendangnya, sulingnya, dan lainnya,” ujar Dede.

“Voice of Ethnic” sendiri dirilis pada 3 Mei 2015 atau bertepatan dengan hari ulang tahun Dede yang ke-20 dimana menurut dirinya, kehidupan seseorang akan mengalami banyak perubahan setelah melewati fase usia kepala satu menuju kepala dua. Perubahan itu mencakup pola pikir dan pendewasaan diri dimana semuanya tak akan pernah terwujud tanpa campur tangan Tuhan YME. “Mungkin ini petunjuk dari Allah SWT yang menggerakkan hati kami, entah kenapa berkeinginan menyelesaikan album ini bertepatan dengan hari kelahiran Dede,” Fosil Haris, produser album sekaligus ayah Dede menjelaskan.

Dari 11 trek yang bersemayam di dalamnya, tujuh lagu merupakan lagu lama yang sering dipublikasikan Dede di media sosial maupun di atas panggung. Sedangkan empat lainnya sengaja dibuat di tahun 2015 untuk melengkapi album ini, yakni “Sundanese Funky”, “Gitar Suling”, “Jurig Awewe (Santet)” dan “Sabilulungan Rock II”. Khusus “Jurig Awewe (Santet)”, menampilkan gitaris band Kesna Shena Ariyandi yang kebetulan berada di bawah naungan komunitas gitar yang sama dengan Dede, Bogor Guitar Funatics (BGF). Tipe permainan gitar Shena yang jazzy menjadi alasan utama Dede melibatkan gitaris berkaca mata itu.

Contact (interview, booking, etc): 0813 1976 4080, 0857 1418 7579 (Fosil Haris)
Email: dedealdrian@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s