Richie Rich

Awal Berdiri
Cerita berawal saat Riki menyerahkan semua lagu yang ia buat pada Tmon, sahabatnya. Tmon salah satu gitaris berbakat di Leuwiliang yang juga pengelola studio recording sederhana dengan antusias mengaransemen semua komposisi. Awal tahun 2008, proses recording mulai berjalan.

Siang malam Tmon menuangkan semua ide dalam pikirannya demi hasil terbaik dari lagu-lagu tersebut. Tak jarang pula Riki menemaninya di studio. Hingga akhirnya ada kecocokan di antara mereka, baik dalam hal selera maupun ambisi. Hal yang mendorong Tmon mengajak Riki membentuk sebuah band. Tujuannya sangat jelas, membawakan lagu karya sendiri dan mempublikasikan pada masyarakat. Dengan harapan mencapai satu tujuan yang dicari kebanyakan band pada umumnya, dilirik perusahaan rekaman.

Gayung pun bersambut, Riki mengamini keinginan Tmon dengan semangat. Maklum saja, vokalis yang mengidolakan Axl Rose (Guns N’ Roses) dan Sebastian Bach (Skid Row) ini sudah tak pernah latihan band selama setahun. Jadi bisa dibilang ajakan Tmon ini mengobati rasa kangen Riki.

Dan bagi mereka berdua memilih bassis serta drummer yang cocok dalam semua aspek tidaklah membutuhkan waktu lama. Mengingat sudah ada dua nama yang mereka kenal luar dalam. Nama itu adalah Iwock dan Acel.
Kebetulan juga selera musik mereka memang terbilang sama, classic rock. Bahkan sejak pertama kali mereka bermain dengan band-nya masing-masing keempat anak muda ini sangat identik dengan suasana rock 80an. Inilah yang coba mereka pertahankan.

Tanpa buang waktu Tmon (gitar), Riki (vokal), Iwock (bas), Acel (drum) melakukan pemanasan di studio dengan membawakan lagu-lagu Megadeth seperti Dread And Fugitive Mind, Never Walk Alone…A Call To Arms, Angry Again dan Blood of Heroes. Ditambah lagu-lagu God Bless dan Gong 2000 semisal ‘Menjilat Matahari’, ‘Bla bla bla’, ‘Maret 1989’ dan ‘Kepada Perang’ lambat laun chemistry mulai tercipta. 26 April 2008, mereka mendeklarasikan berdirinya sebuah band bernama Richie Rich.

Sejak saat itu Richie Rich bukan saja dikenal sebagai band yang membawakan lagu dari band-band favorit yang mempengaruhi selera musik mereka, tapi lagu-lagu karya sendiri pun mulai berkumandang di studio LP yang bermarkas di Pamagersari Leuwimekar ini.

Asal Usul Nama Band
Tak ada arti atau filosofi khusus atas pemilihan nama Richie Rich. Nama ini diambil dari judul film kartun kesukaan Riki yang diputar TVRI sekitar pertengahan tahun 80an. Awalnya band ini bernama ‘Bumble Bee’ namun namanya berubah menjadi Richie Rich setelah mereka mendengar ada band lain dengan nama yang sama.

Meski tanpa filosofi khusus, pemilihan nama Richie Rich tidaklah asal comot. Proses pengundian yang lumayan alot telah dilakukan Tmon, Riki, Iwock, dan Acel. Hal ini dilakukan karena tiap personel memiliki nama pilihannya. Tapi mungkin sudah takdir akhirnya nama Richie Rich yang keluar saat pengundian. Nama yang sudah menjadi idaman Riki jauh sebelum band ini terbentuk.

Mungkin banyak orang menganggap band ini proyek solonya Riki, mengingat nama Richie Rich mirip dengan nama vokalis yang juga mengagumi Achmad Albar (God Bless) dan Eki Lamoh (eks Edane) ini. Namun dengan segera Riki menepis anggapan itu.

“Saya tegaskan Richie Rich adalah sebuah band baik di studio maupun di panggung, karena kami mengerjakan semua lagu bersama-sama. Jika di atas panggung saya melakukan sesuatu yang berbeda, saya rasa wajar karena saya adalah frontman. Jika banyak orang yang bilang Richie Rich seperti proyek solo, itu pendapat mereka, bukan kami,” tutur vokalis yang mengaku bangga memiliki teman seperti Tmon, Iwock, dan Acel ini.

The Men Behind The Gun
‘The men behind the gun’ demikian istilah yang sering kita dengar untuk menjuluki orang-orang di balik berdirinya serta sukses tidaknya sebuah band, team, atau perusahaan. Tak terkecuali bagi Richie Rich, band ini memiliki the men behind the gun yang siap menarik pelatuk pistol itu kapan saja. inilah mereka!

Di antara empat personel Richie Rich, rasanya hanya Tmon yang paling pendiam. Bisa juga dibilang misterius, lantaran sifatnya yang agak tertutup pada orang lain. Meski begitu, Tmon seperti merelakan mati hidupnya untuk Richie Rich. Buktinya, ia rela menelantarkan Ein Fuhrer, bandnya saat ini.

Gitaris kelahiran 30 Desember 1983 ini terjun ke dunia musik sejak duduk di bangku sekolah. Ia rajin latihan dengan band sekolah bersama kawan-kawannya. Tmon sangat menikmati itu dan sejak awal dia menempati posisi gitar. Kepiawaiannya sebagai pemain gitar dimulai sejak bergabung dengan Aureola, band underground asal BTN Leuwiliang. Meski begitu sempat pula ia bermain bass saat tergabung dalam Baraya.

Kemampuan memetik gitar sepertinya merupakan bakat pemberian alam. Tanpa harus mengikuti sekolah musik yang mahal pengagum John Petrucci (Dream Theater) dan Mark Tremonti (Alter Bridge) ini telah memenangkan berbagai festival band. Juara III Freedom Music Action 2007 sekaligus gelar ‘Gitaris Terbaik’ adalah prestasi yang berhasil Tmon raih bareng bandnya, Ein Fuhrer. Ditambah gelar Juara III di gelaran yang sama setahun berikutnya, nampaknya Tmon memang gitaris yang patut diperhitungkan.

Agak berbeda dengan Tmon, Riki dikenal meledak-ledak dan lebih terbuka pada orang. Ia pun memiliki selera musik yang terbilang rakus sejak kecil. Nyaris semua jenis musik ia dengar. Namun saat menginjak remaja seleranya mulai mengkerucut pada satu titik, ia cinta mati dengan band-band old school glam seperti Guns N’ Roses, Motley Crue, Slaughter, dan Poison. Jenis musik ini sedikit banyak jadi pengaruh saat ia ngotot punya band rock.

Band pertamanya yang bernama Snyper dibentuk tahun 1993. Dua tahun merasakan bulan madu bareng Snyper, akhirnya band ini bubar tahun 1995. Setelah itu Riki dikenal punya konsep ‘bentuk, main, bubar’ di setiap band yang ia pimpin. Tak kurang sepuluh band telah ia bentuk dan semuanya hanya seumur jagung. Meski demikian, vokalis kelahiran 13 Nopember 1978 ini pernah meraih gelar Juara I Kla Project Official Fans Club Festival 2001 saat tergabung dalam RDA Band, dan Juara III Festival Musik Bone ketika memimpin Saderek bareng Iwock.

Selain Tmon dan Riki, nama Iwock juga tak bisa dilepaskan begitu saja dari Richie Rich. Meski bukanlah pendiri band, namun di tangan pengagum Billy Sheehan (Mr. Big) dan Thomas Ramdhan (Gigi) inilah denyut jantung band ini terus berdenyut.

Iwock merupakan pendentum bass gitar yang memiliki pengaruh dan sarat prestasi. Ia cukup mengkilat saat merebut gelar ‘Bassis Terbaik’ Festival Band Gelar Kreasi 3 tahun 1999 saat tergabung dalam April Plus. Band-nya sendiri merebut Juara 3 saat itu. Tak sampai disitu saja, di tahun yang sama April Plus lagi-lagi meraih Juara 3 di Festival Kreasi Anak Bangsa.

Dilengkapi gelar ‘Band Terbaik se-Bogor Barat 2001’ saat membentuk band Simple X serta Juara 3 Festival Musik Bone tahun 2004 saat menggawangi Saderek bareng Riki, sepertinya bassis kelahiran 20 Juli 1978 ini memang bakal menelurkan sesuatu yang baru bagi Richie Rich lewat sentuhan musiknya.

Nama terakhir yang juga tak bisa dilupakan adalah Acel. Sebagai pemain drum Acel kagum berat sama Ian Paice (Deep Purple), Jon Bonham (Led Zeppelin), dan Rere (eks Grass Rock). Saking kagum, sampai gaya permainan ketiga nama itu akhirnya sangat mempengaruhi permainan Acel. Tapi perlahan ia mulai berusaha menemukan karakternya sendiri.

Ketika berusia 19 tahun, Acel sempat tergabung dalam band Nocturnal. Melalui band inilah Acel mulai menapaki karir musiknya. Namun setelah band yang sering membawakan lagu-lagu Metallica ini bubar, Acel seperti tak memiliki band yang pasti. April Plus, Simple X, Oktav, dan Alexander The Great sempat ia singgahi sebelum bergabung dengan Richie Rich.
Prestasi terbaik drummer kelahiran 16 Maret 1974 ini adalah gelar ‘Band Terbaik se-Bogor Barat’ di tahun 2001 saat tergabung di Simple X bersama Iwock.

The Ocean49, Proyek Reuni Nial Bunga

Nial, bassis band Bunga (yang beken di era ’90-an) kini tengah sibuk menggarap materi baru bersama The Ocean49, sebuah band bentukannya yang pernah malang melintang di awal tahun 1990-an. Selain Nial, band reuni yang mengusung genre alternatif/grunge ini menampilkan dua bersaudara gitaris Arie Joesoef dan dramer Fahd Joeseof.

Ari sendiri merupakan direktur PT. Adedanmas – Mercedes-Benz Indonesia (baca juga berita utama majalah ini: For The Love of Guitar, Red) yang juga pernah berposisi sebagai addition guitarist Bunga dan proyek Nial lainnya, Uploaded. Style permainannya, menurut Nial, sangat beraroma Seattle dan mempunyai karakter unik dimana ia sering bermain gitar tanpa pick (pemetik gitar) dan doyan membuat riff-riff yang tidak lazim.

Saat ini, The Ocean49 sudah mengantongi 10 materi demo yang sudah diserahkan kepada Didit Saad (Daddy and the Hot Tea, eks Plastik) yang telah ditunjuk sebagai arranger sekaligus addition guitarist. Dan dalam waktu dekat, Arie akan memulai proses tracking gitar di home recording milik Didit di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan dimana album tersebut diharapkan rilis akhir tahun 2014 mendatang. “Semuanya kami serahin sama Didit. Karena dia yang lebih tahu, termasuk penggunaan instrumen kami (bass, gitar dan ampli, Red). Mana yang lebih cocok untuk lagu mana,” bassis yang kerap mengenakan kaca mata hitam itu mengungkapkan kepada GitarPlus.

Konsep band ini lebih mengarah kepada proyek kolaborasi layaknya ‘Seattle Sound’ dimana untuk posisi vokal akan diisi keroyokan oleh Tony Viali (Bunga), Anda Perdana (Mata Jiwa, eks Bunga), Amank Syamsu (Omni) dan Doddy Katamsi (Seven Years Later). “Bukan cuma vokalis, ada kemungkinan satu atau dua gitaris lagi juga ikutan di sini. Tapi belum bisa gue sebutin siapa,” lanjut Nial yang juga menjelaskan bahwa untuk proses rekaman bass akan dilakukan setelah sesi rekaman gitar.

Lalu apa yang membedakan The Ocean49 dengan Bunga? “Dari isian bass aja otomatis berbeda karena spirit player-nya juga beda-beda. Dengan sendirinya nggak sama dengan di Bunga walapun yang nyanyi Tony juga. Pokoknya memang kami bedain deh sama Bunga. Walaupun nggak secara langsung dikonsepin tapi kedengarannya nggak sama. Begitu pun Anda, cara nyanyinya bakal beda!” Nial menyimpulkan.

Suguhan Spesial Total Tragedy

Seperti martabak, selalu saja ada perbedaan antara yang spesial dengan yang tidak. Begitu pun dengan sebuah band. Total Tragedy, band  asal Surabaya ini terasa spesial dengan suguhan “gothic/doom metal” yang ditawarkan. Perpaduan vokal growl dan female voice yang mereka ramu merupakan kombinasi keren dalam sebuah komposisi musik.

Berawal saat membawakan lagu-lagu Within Temptation dan Theater of Tragedy pada sebuah event pensi di Surabaya, Harru TT (Vocal/growl), Martha (female vocal), Samsul (Guitar), Wisnu (Gitar), Richard (Bass), Taufany (Keyboard) dan Eko (Drum)  kini makin manancapkan kukunya dengan mengikuti event-event dalam scene Underground di seputar Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Dengan sedikit pergantian formasi pada gitar dan keyboard, “Every Story Has A Glory” yang dirilis tahun 2001 merupakan album perdana yang menjadi modal utama Total Tragedy untuk melakukan promo dan konser. Termasuk akhirnya menyumbang lagu ‘Tenggelam Ditelan Duka’ dalam kompilasi “Legion Timur” dan lagu ‘Hampa Ku Menanti’ dalam kompilasi “Metalik Klinik 5”. Kedua kompilasi yang dirilis oleh Rotocorp, label indie underground dan didistribusikan secara nasional oleh Musica Studio.

Tahun 2002 mereka merekam album kedua “Heaven”. Sebuah album yang menerbangkan mereka menuju panggung-pangung akbar sekaliber “Hitam-Hitam on Stage” di Jakarta, Monster of Rock” di Jawa Tengah serta “Sounderground” di Bali. Namun begitu ada kala dimana sebuah band mengalami fase kritis, begitu pun dengan pasukan gothic dari Surabaya ini. Tiga personelnya Martha (female vocal), Adi (keyboard), dan Eko (drum) hengkang dari line-up.

Namun kondisi ini tak menyurutkan geliat Total Tragedy dalam berkarya. Harru TT (vocal/growl) dan Adi (gitar) adalah dua sosok spesial yang paling bertanggung jawab  dalam menulis lirik, membuat lagu, serta mengaransemen semua musik hingga album ketiga “Labyrinth” kelar. Malah SonnenGott Musik, label dan manajemen sejak mereka terbentuk  mulai memperluas market dengan mendistribusikan album digitalnya lewat internet (apple/iTunes).

Dengan bantuan Ani (female vocal), Marchell (keyboard), Agro (drum) dalam melakukan setiap aktivitasnya Total Tragedy  melakukan sebuah perjudian berani dengan melakukan perubahan dalam konsep musiknya. Mereka merekam single “Red Atmosphere’ dan “Morning Sun” dalam format akustik pada bulan Agustus 2008. Sebuah “enriched” CD bertajuk ‘gothcoustic’ yang dikemas spesial dalam sebuah “bag pack”. Terasa spesial karena selain memuat lagu CD ini disertai Ringtones, Alertones, Pictures, dan Lyrics. Bukankah itu lagi-lagi sebuah hal spesial?

Polka Wars Konsisten dengan Karya Sendiri

Sejak kali pertama terbentuk tahun 2010 silam Polka Wars seperti alergi membawakan lagu-lagu dari band idolanya saat tampil live. Bagi Karaeng Raja (gitar,vokal), Billy Saleh (gitar), Xandega Tahajuansya (bass) dan Giovanni Rahmadeva (dram, vokal) menulis lagu sendiri dan membawakannya di atas panggung sangat menyenangkan sekaligus melahirkan sensasi luar biasa. “Biarkan saja mengalir natural. Lagi pula sebelum band ini terbentuk, masing-masing personel sudah melakukannya di band sebelumnya,” ujar dramer Deva kepada inrocknesia.com.

Namun saat ditanya jenis musik apa yang dihidangkan melalui karya-karyanya tersebut, Deva cenderung tidak mau terjerat dalam satu genre. “Biarkan pendengar yang menilai. Dua lagu yang kami ciptakan, “Caroline” dan “Horse Hooves” sejujurnya belum bisa mendeskripsikan jenis musik kami secara keseluruhan. Kami melabeli ‘alternatif’ saja, karena memang ini sebuah alternatif baru bagi para pendengar di Indonesia.”

Album debut Polka Wars sendiri rencananya akan dirilis pertengahan tahun 2013 dan saat ini mereka masih mendekam dalam studio menggarap sejumlah materi yang baru rampung sekitar 50%. Sebagian personel Polka Wars mengaku terlalu perfeksionis dalam urusan aransemen dan pemilihan karakter sound. Mereka cenderung mempelajarinya secara detail sambil melakukan aktivitas masing-masing dan juga manggung.

“Album masih dalam penggarapan. Rencananya Juni akan rilis. Tapi kami tidak
tahu entah ada apa di tengah jalan nanti. Dari jumlah materi sejujurnya sudah banyak, tapi bagian terberatnya justru memilah materi yang akan dimasukan ke dalam album dan merangkainya dalam satu kesatuan. Me-manage mood juga merupakan hal yang paling susah. Bahkan lebih susah dari mengatur waktu dan finansial,” Deva dan Karaeng sama-sama menjelaskan.

Uniknya, dalam tubuh Polka Wars muncul dua sosok  vokalis,  Giovanni dan Karaeng. Namun peran Giovanni hanya sebatas membawakan lagu-lagu karyanya sendiri, sementara Karaeng memegang porsi yang lebih banyak. Dan bagi mereka, setiap personel berhak mengekspresikan dirinya melalui apapun dan tidak pernah ada niatan untuk merekrut vokalis utama karena secara estetika seorang vokalis yang tidak memegang instrumen tidaklah keren.

Dalam proses penggarapan album Polka Wars juga kerap dibantu sejumlah musisi pendukung seperti pemain trumpet, saxofone dan kibord yang tugasnya memberi masukan perihal karakteristik sound. Dan jika salah satu dari mereka tidak bisa berpartisipasi saat  tampil live, maka akan diganti oleh musisi lainnya “Kalau berhalangan ya bisa disubstitusikan oleh pemain cadangan. Justru dengan bergonta-ganti pemain, penonton tidak akan bosan dan kami juga bisa selalu bereksperimen dengan berbagai musisi pendukung,” tandas Karaeng.

Berbicara tentang eksperimen, para punggawa Polka Wars mengaku sangat mengagumi sosok band Sore dan banyak belajar dari band ini. Saat ini mereka bahkan sering mendengarkan musik-musik dari musisi kawakan seperti January Kristy, Ermy Kulit, Dian PP, Fariz RM hingga Caetano Veloso dan George Duke. Bukan tidak mungkin, tanpa harus mengekor, di albumnya nanti musik mereka bakal banyak terinspirasi dari musisi/band ini.

Lalu seberapa besar keyakinan mereka dalam mengarungi industri musik Tanah Air yang kian berombak ini? “Kami belum bisa bilang yakin atau tidak, berhubung industri musiknya belum terpetakan sama sekali di kepala kami. Yang paling penting kami dapat melakukan yang kami suka. Semoga sampai kapan pun akan terus bisa,” Xandega mengakhiri dengan tegas.

Adenium, Penuh Siasat dan Tipu Daya

Mempertahankan usia band hingga lebih dari satu dekade bukanlah perkara mudah. Apalagi jika sering dihiasi keluar masuknya personel. Namun berbekal visi dan misi yang sama, Adenium sukses membangun konsistensi paten dalam tubuh mereka. Genre rock modern yang  dihidangkan memiliki keunikan tersendiri dengan tuturan vokal yang tak sekadar berteriak.

Hanya saja, konsistensi itu memang tidak dibarengi produktivitas yang seimbang. Sejak kali pertama terbentuk tahun 1999 silam band yang diawaki Bayu (vokal), Didot (gitar), Riyo (gitar), Arie (bass) dan Aldi (dram) ini baru menelurkan satu EP (Unsolved-2003), satu singel yang dilibatkan dalam album kompilasi,”Save Our Community Vol.2″ (2007) dan satu album penuh “Self-titled” yang dirilis 2011 lalu via Good Record/Real Music.

“Seperti band-band indie pada umumnya, masalah keterbatasan dana dan kesibukan masing-masing personel menjadi penghambat. Tapi untuk album penuh pertama kami  memang memikirkan konsepnya secara matang,” ujar Arie perihal terbendungnya proses kreatif mereka. “Mulai dari pembuatan musik, recording, mixing, mastering hingga distribusi semuanya dilakukan secara  D.I.Y (Do It Yourself).”

Namun hasil akhir dari penggarapan album perdana mereka tersebut terbilang cukup memuaskan. Selain kontur-kontur musiknya variatif, lirik yang dituturkan pun lebih banyak bertema tentang kondisi sosial dan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta ketimbang kisah cinta gombal seperti kebanyakan band-band boneka industri sekarang ini.

Adenium mengaku, saat memutuskan masuk industri mereka memang harus sedikit berkompromi dengan pasar. Namun bukan berarti harus melacurkan diri dan mengebiri ego rock yang sudah menjadi merk dagang mereka. Dengan segala siasat dan tipu daya dalam setiap treknya, mereka mampu menyuguhkan barisan komposisi yang memikat.

“Pada intro singel “Seharusnya” kami suguhkan musik yang easy listening dan menghanyutkan, tetapi pada klimaksnya warna musik rock begitu mendominasi. Bisa dibilang, kami melakukan penipuan.  Keunikan juga terdapat pada lagu “September”, yang menyelipkan puisi kecil sebagai penggoda yang menggelitik gendang telinga,” beber Riyo

Selain piawai di studio, Adenium juga kerap tampil di sejumlah gigs mulai dari yang sekelas pensi hingga festival bertaraf  nasional. Yang terakhir adalah event ‘Djarum Super Rock Fest 2012’ dimana  mereka berbagi hari dengan band-band semisal The Painkiller, RI1, Sinclarity dan Sepultura.

“Gila! Bayangin aja bisa main di salah satu event rock terbesar di Indonesia yang notabene ada Sepultura di situ. Gueudah nggak tau mesti bilang apa. Yang jelas bisa bermain di situ adalah sebuah pengalaman paling yang paling hebat buat gue dan Adenium”, ade mengungkapkan perasaan bahagianya bermain di event rock tahunan yang digelar di Lapangan D Senayan, Jakarta pada 10-11 November 2012 kemarin..

Meski belum merasa menjadi magnet bagi industri musik indonesia, dengan segala bekal yang sudah mereka kantongi Adenium berharap bisa mengubah musik Indonesia yang cenderung seragam dan itu-itu saja. Tugas yang tidak mudah memang, namun bukan tidak mungkin bisa diwujudkan. Dan yang paling penting adalah bagaimana Adenium menjaga konsistensi dan denyut jantung mereka di scene musik rock Tanah Air.

Ide Segar dan Warna Baru Post Blue

Menyuguhkan lirik yang sarat dengan ekspresi kemarahan dan kegelisahan serta bereksperimen dengan kata-kata untuk menyiratkan segala emosi yang dirasakan. Itulah pencitraan Post Blue, band pengusung brit experimental pop yang terbentuk sejak November 2008 silam. Arah musikal band ini terkunci pada musik pop yang dibaluri dengan elemen-elemen musik yang terinspirasi band-band asal Britania Raya seperti Placebo, Radiohead, Manic Street Preachers hingga Coldplay.

Pondasi bangunan band ini bermuara pada satu orang, dialah gitaris Raya Billy yang juga berperan sebagai eksekutor sequencer. Sejak kepergian dua personel orijinal Post Blue,  Abadi Insan (vokal) dan Rio Arnaldo (dram) pada Februari 2011, yang diikuti dengan vakumnya band selama setahun, Raya banting tulang memugar puing-puing band yang runtuh dengan mendatangkan vokalis Irfandika Pratama dan dramer Juan Mahir Muhammad. Hasilnya, ide-ide segar dan warna baru mereka ejawantahkan dalam sebuah singel bertajuk “Hotel Room” yang dirilis sejak September 2012 lalu melalui label Fiasco Records.

Lagu yang mengisahkan tentang perasaan seseorang yang dilanda keresahan yang lantas menuntunnya ke sebuah kamar hotel untuk menenangkan diri ini menghidangkan sound-sound gitar yang clean, chorus serta overdrive dari Raya. Sementara liriknya meski menggunakan bahasa Inggris tetap menyampaikan pesan yang mudah dicerna. “Tidak ada yang salah dengan bahasa Indonesia. Dalam musik, kami memiliki harapan bahwa musik kami akan terdengar sampai seluruh penjuru dunia. Kami harus bisa menggapai peluang yang lebih luas dengan perantara bahasa Inggris, tanpa mengesampingkan bahasa sendiri,” kata Irfan kepada inrocknesia.com.

Lalu perbedaan mencolok apa yang membedakan antara vokalis Irfandika dengan Abadi? “Selama masa perkenalan dengan Irfan, gue menyimpulkan bahwa Irfan memiliki sesuatu yang diinginkan oleh Post Blue. Karakter suara dan kegemarannya pada Placebo adalah nilai plus. Soal skill, nanti bisa diasah seiring jalannya waktu. Sepertinya dia juga memiliki loyalitas yang baik terhadap band,” Raya menimpali.

Keunikan lain dari band ini adalah tidak adanya seorang bassis dan tidak pernah menggunakan jasa additional player saat mereka tampil live. “Awalnya kami memiliki bassis, namun hanya bertahan 2 bulan. Sejak itu, kami putuskan untuk jalan tanpa bassis. Lagipula, di awal terbentuknya Post Blue, yang kami tahu masih belum ada band yang menggunakan format seperti kami. Menurut kami hal ini unik dan beda,” tambah Raya.

Saat ini Post Blue sudah mengantongi sekitar 25 lagu dan 10 lagu di antaranya sudah mereka siapkan untuk album perdana. “Jika tak ada halangan, album pertama kami akan rilis pada 9 November 2013,” kata Raya lagi. “Tema yang kami tawarkan masih berkutat pada area kekecewaan, keputusasaan, sarkasme, kegelisahan jiwa, sampai protes terhadap kemanusiaan. Tapi di balik itu semua selalu ada pesan positif dalam masing-masing lagu.”

Seberapa besar keyakinan Raya dkk untuk bertahan  di industri musik Indonesia?  “Yakin! Bahkan bukan hanya di industri musik Indonesia, tapi juga di industri musik dunia!” mereka serentrak menjawab. Terlalu muluk-mulukkah pernyataan tadi? Bagaimana jika mereka tidak dibutuhkan  industri lagi?  Apa yang akan mereka lakukan? “Gue akan tetap berada di jalur musik. Gue punya rencana untuk menjadi seorang produser musik. Gue juga akan menurunkan darah bermusik gue ke anak gue nanti,” dengan percaya diri Raya menegaskan.

“Kalau tua nanti, saya akan menghabiskan waktu dengan menikmati jerih payah saya di masa muda, sambil memutar kenangan hasil karya yang sudah kami ciptakan. Saya juga akan memperdengarkan karya kami kepada pendatang baru di industri musik, bahwa kami pernah berjuang demi eksistensi dan idealisme kami,” Irfan mengakhiri.

Black Star, Bakal Lebih Gelap di Album Kedua

Mengawali karir musikalnya di panggung-panggung indie di awal tahun 2000an, lalu menjajal berbagai kompetisi seperti “Festival Indie Depok 2006” dan  “LA Lights Indiefest 2008”, hingga akhirnya merilis album perdana “Self-titled” melalui jalur distrubusi Fiasco Records tahun 2009 silam. Itulah perjalanan panjang yang diarungi  Black Star, band berkontur britrock yang digawangi Emir (vokal), Alul (gitar), Yudi  (gitar), Q-nos (bass), Ine (kibord) dan Roby (dram). Kini, mereka tetap konsisten meluncur di jalur indie dan siap kembali ke studio untuk memulai proses rekaman album penuh keduanya.

Sebenarnya, apa sih yang membuat mereka tetap memilih jalur independen? “Musik itu pekerjaan hati, kami hanya memilih jalur yang bisa mendukung karya yang sesuai hati kami, kebetulan di Negara ini yang bisa mengakomodir itu hanyalah jalur indie,”  tutur Emir kepada inrocknesia.com. “Kompetisi band-band indie memang diperlukan untuk mewadahi dan mensupport eksistensi band seperti kami di tengah gempuran band-band berlabel dan bermodal besar.”

Tujuan awal mereka mengikuti kompetisi-kompetisi tersebut sebenarnya cukup sederhana, yakni ingin memperkenalkan musik Black Star ke khalayak luas. “Lagu yang kami ikutkan dalam kompetisi itu sebagian besar adalah lagu yang tidak masuk di dalam album pertama kami. Jadi itu adalah wujud kecintaan kami dengan karya kami sendiri sekaligus mengukur sejauh mana masyarakat bisa menerima musik yang kami buat dengan idealisme kami sendiri,” Emir menambahkan.

Tak sampai di situ, Emir dkk juga kerap kali menyumbangkan lagunya untuk sejumlah album kompilasi amal seperti “We Are All Palestinian” (2001) yang didedikasikan untuk korban perang Palestina dan “Not By Yourself” (2009) untuk korban bencana gempa bumi dan tsunami Jepang. Hal ini mereka lakukan semata-mata sebagai ungkapan rasa perduli terhadap mereka yang sedang tertimpa musibah. “Kami juga ingin menunjukkan bahwa dengan musik kita bisa menghibur dan juga mempersatukan orang-orang untuk memberikan kontribusi dalam bentuk penggalangan dana dengan musik sebagai alat penghibur dan pemersatunya,” timpal Ine.

Mengenai album keduanya, saat ini mereka sudah menyiapkan sekitar 16 lagu dan baru akan memulai proses rekaman di akhir tahun 2012 nanti. Kesibukan kerja para personelnya memang membuat mereka harus pintar-pintar memilih waktu. Sejauh ini mereka telah mendapuk nomor berjudul “Penuh Diksi” sebagi singel andalannya dan sudah menerobos beberapa tangga lagu di stasiun radio.

Untuk urusan tema,  kali ini Black Star berkutat pada hal yang berbeda dengan album pertama. Di samping isu politik dan sedikti tema cinta, fenomena aneh dalam kehidupan sosial lebih mendominasi barisan liriknya. Konsep musik yang ditawarkan juga lebih ringan. Beberapa trek bahkan bernuansa akustik. “Lebih easy listening dan minimalis aransemennya tetapi tetap bernuansa aneh, sakit, gelap dan gloomy,”  Emir kembali berujar. “Benang merahnya masih britrock. Tapi tekstur dan warna lagunya akan berbeda.”

Tapi Ine berkilah, menurutnya, musik yang bersemayam dalam album kedua mereka tidak lagi berpatokan kepada musik-musik luar yang awalnya menjadi kiblat dari masing-masing personel. “Lebih ke suasana hati dan chemistry dari para personelnya. Lagu-lagu tersebut dibuat dengan jati diri Black Star”. Dan melalui album ini Black Star berharap pendengar bisa merasakan kesedihan, kesakitan dan kemarahan yang mereka tuangkan dalam karya-karyanya. “Semoga menjadi sound theme dalam hidup mereka,” pungkas Ine.