Adnil Faisal

Gitaris kelahiran Bogor ini mengawali karir musikalnya dengan bergabung dengan band pop Base Jam pada tahun 1995 dimana setahun berselang band ini merilis album perdananya, “Bermimpi”, yang menelurkan hits bertajuk sama. Masih bersama Base Jam, Adnil kemudian meluncurkan dua album lagi: “Dua” (1997) dan “Ti3a” (1999) yang kembali melahirkan singel jagoan, “Jatuh Cinta” dan “Bukan Pujangga”. Sayang, setelah album itu dirilis pria yang mengidolakan Nuno Bettencourt ini mengakhiri kebersamaannya dengan Base Jam dan lebih memilih berperan sebagai session player sejumlah artis seperti Audy dan Ada Band.

Pada 2006, bersama Erwin Prasetya (bass), Didiet Saad (gitar), Ronald (dram), dan Angga Tarmizi (kibord), gitaris kelahiran 6 Oktober ini membentuk band Evo. Melalui sebuah program reality show pencarian vokalis mereka mendapatkan Elda Suryani untuk mengisi posisi frontwoman dimana setahun kemudian band ini merilis album pertama dan satu-satunya yang berlabel self-titled.

Selang beberapa tahun, tepatnya di 2012, pengguna gitar Rick Hanes Avenix dan DRX Series ini terpilih untuk mengisi posisi gitaris untuk The Bangor, sebuah band yang dibentuk untuk mendukung comeback-nya lady rocker Nicky Astria ke rimba raya industri musik Indonesia. Band ini sendiri lantas dikenal dengan nama Nicky and The Bangor yang juga diawaki oleh Rere (dram), Ovy /rif (gitar), Billy (kibord), dan Beben (bass).

Selain berperan sebagai gitaris The Bangor, kini Adnil juga menjalani profesi sebagai gitaris band pengiring Bunga Citra Lestari dan music director talenta baru asal Bogor Fianny Agatha yang akan merilis album perdananya dalam waktu dekat. “Di sini gue nggak nonjolin gitar. Gue mikirnya nggak ke situ, tapi lebih kepada kebutuhan lagu dan musiknya,” bebernya mengenai konsep album yang akan bersemayam di album Fianny.

Ei Repvblik

Pria kelahiran 25 April 1985 ini sudah mengenal gitar sejak duduk di bangku SMP, atau saat guru Keseniannya mewajibkan semua murid untuk bisa memainkan alat musik sebagai salah satu syarat lulus ujian mata pelajaran tersebut. Dari situ, hasrat Ei Repvblik pun semakin menggelembung hingga ia pun membentuk sebuah band. “Dengan modal ilmu bergitar gue yang pas-pasan, temen-temen akhirnya meminta gue untuk menjadi gitaris karena di antara mereka nggak ada yang bisa bermain gitar,” kisahnya.

Hanya saja, untuk ukuran keseriusan Ei baru benar-benar bermain gitar dengan band bernama Luck yang dibentuknya pada tahun 2000. Dan 4 tahun berselang, bersama band Repvblik Ei tidak hanya makin mendalami gitar tetapi juga kian menancapkan cakarnya di industri musik Indonesia melalui karya-karyanya seperti “Hanya Ingin Kau Tahu” dan “Sandiwara Cinta”.

Hingga kini hanya ada satu nama yang menjadi sosok inspirasional dan begitu berjasa dalam hidupnya. Siapa dia? “Guru kesenian SMP gue… Selain karena akhirnya gue kepaksa harus bisa main gitar, gue juga ngerasa kalau dia main gitar kayaknya udah fasih banget. Dia gitaris inspirasi gue,” pria bernama lengkap Heri Masrulloh Achmad menegaskan.

Selain mendapat banyak pelajaran dari guru Keseniannya, Ei juga mengaku mendapatkan banyak ilmu dari teman-temannya selama pencarian jati dirinya sebagai sebagai gitaris. “Kalau ada orang yang main gitarnya jago, gue langsung minta diajarin. Nggak satu orang tuh, banyak banget yang ajarin gue. Paling gue kasih rokok doang biar belajarnya asik,”

Saat ini Ei masih aktif berperan sebagai gitaris band pop Repvblik dan belum terpikir untuk membentuk proyek lain di luar band utamanya tersebut. Bersama band ini Ei telah merilis album “Punya Arti” (2007), “Hidupku di JalanMu” (2008), “Aku dan Perasaan Ini” (2009), “Transisi” (2011), dan “Sandiwara Cinta” (2014). Dan selama tampil di atas panggung Ei selalu mempersenjatai diri dengan gitar Fender Stratocaster Tradisional ’96, Peavey T60, dan Parker Nitefly. Lalu ampli Messa Boogie Single Rectifier, serta pedalboard yang berisikan stompbox Boss Delay DD7, PS-6, NS-2, TU-3, AC-3, dan tambahan sebuah booster.

Helvi Eriyanti

Ketertarikan Helvi Eriyanti terhadap bass belum berlangsung terlalu lama. Baru terjadi sejak tahun 2011, setelah ia merampungkan pendidikan formalnya di SMK. “Itu pun masih agak-agak cuek sama bassnya hahaha… Kalau sekarang baru bener-bener ngerasa kalau sebenarnya aku memang bassis,” perempuan kelahiran 3 November 1993 mengungkapkan.

Peristiwa tersebut sebenarnya sedikit ‘dinodai’ kata ‘terpaksa’, dimana kala itu teman-temannya yang notabene para dramer mengajaknya membentuk sebuah band. Helvi, yang juga masih berperan sebagai penggebuk dram akhirnya mengalah dan memilih untuk memainkan bass demi berdetaknya jantung band tersebut. Dan sebagai dramer, Helvi juga pernah membentuk band tanpa nama dengan formasi Ika (vokal), Edi (gitar), Romansyah (bass), Sopian (gitar), dan tentu saja dirinya.

Namun kini, perempuan yang memilih “Pelangi” (Koes Plus) sebagai lagu pertama yang diuliknya sendiri ini, begitu identik dengan instrumen bass dan dikenal memiliki aksi panggung yang atraktif serta eksentrik. Ia nyaris tak bisa diam dan kerap mondar-mandir ke setiap sudut panggung saat tampil bersama bandnya Khabut. “Aku pernah mau ngerobohin panggung karena nggak bisa diem,” kenangnya.

Kini pengagum Flea (Red Hot Chili Peppers) ini telah meninggalkan Khabut dan bergabung dengan band asal Bogor, Play yang telah meluncurkan singel “Indahnya Dunia” sejak Agustus 2015 dan siap merilis album perdananya di awal 2016 mendatang.

Kokow Seurieus

Kali pertama pria bernama lengkap Ramah Handoko ini bersentuhan dengan gitar adalah saat ia duduk di bangku SMP. Awalnya, ia hanya belajar dari teman-temannya yang suka ngamen, namun lantaran adrenalinnya makin memuncak ia pun membeli gitar akustik dan mulai mengulik sejumlah lagu.

Boris Simanjuntak, gitaris band The Flowers, merupakan salah satu inspirasinya dalam bermain gitar dimana saat itu Kokow kerap menyaksikan Boris beraksi di atas panggung dan mengikutinya pulang hanya untuk mempelajari lagu yang dibawakan Boris. Kebetulan, Kokow merupakan adik kelas gitaris jebolan Gang Potlot itu di SMA sehingga tidak menyulitkan dirinya untuk sedikit menimba ilmu kepada Boris.

Selain Boris, gitaris yang juga berprofesi sebagai dosen seni rupa di Universitas Negeri Jakarta ini mengaku sangat mengagumi permainan gitaris BIP Pay. Sedangkan untuk gitaris mancanegara, Koko begitu mendewakan Steve Vai, Joe Satriani, Slash, Nuno Bettencourt, Mick Mars, dan C.C. DeVille.

Gitar elektrik pertama Kokow didapatkan saat ia masuk ke perguruan tinggi. Gitar merk Maison yang merupakan hadiah ulang tahun dari ayahnya. Namun karena masih agak bingung bagaimana memainkan gitar elektrik dengan baik dan benar Koko kemudian belajar kepada rekan kuliahnya dan mulai rutin melatih jemarinya serta membaca tabulatur.

Tak lama, pria kelahiran 6 November ini bergabung dengan band rock asal Bandung Seurieus dimana enam tahun berselang mereka ambil bagian dalam album kompilasi bertajuk “Alternative Plus” dengan lagunya “Tukang Jamu” dan merilis album perdananya “Rocks Bang-Get” secara independen di bawah bendera GeusRieut Records.

Tahun 2012, dengan vokalis baru bernama Boym, Seurieus merilis album kelimanya yang bertajuk “V” dimana di album ini Kokow mempersenjatai diri dengan gitar Ibanez S520EX, Fender Mexico 1992 dan gitar customnya (body Charvel, neck Jackson, tremolo Ibanez Floyd Rose) yang disandingkan dengan ampli Marshall JCM 2000 TSL, plus efek Fox Tonelab LE serta POD HD 500. 10 November 2014, Seurieus yang tinggal menyisakan Koko dan Boym melepas singel baru bertajuk “Untuk Sang Legenda”. (Riki Noviana)

Marcell Hadisaputro

Endorsee Dean Guitars ini merupakan salah satu raja festival di wilayah Jabodetabek. Marcell Hadisaputro – demikian nama lengkapnya – telah berkali-kali menyabet gelar bergengsi, seperti juara kedua Festival Gitar Yamaha tingkat Jabodetabek, juara pertama Festival Gitar Chic’s Brojo Soemantri (2007), juara kedua Festival Ibanez di Score Citos, juara favorit Festival Gitar Taman Topi Bogor, juara kedua Festival Gitar LA Lights, Depok (2009), juara pertama Festival Gitar LA Lights Bogor, dua kali finalis Fender Festival, gitaris terbaik di Festival Malibu Bogor (2001-2004), dan pemenang utama Dean Monster Shredder 2013 yang lantas membuatnya menjadi brand ambassador produk tersebut sekaligus didaulat sebagai gitaris pembuka klinik Michael Angelo Batio (MAB) di Aruba Café, Blok M di tahun yang sama.

Marsell sendiri sudah menjadi pencinta musik rock dan heavy metal sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun hasrat untuk bermain gitar baru mulai mencapai ‘ubun-ubunnya’ setelah ia mendengarkan album “Rising Force” dari Yngwie Malmsteen dan album “Go-off” milik Cacophony. “That’s why I wanna be a guitar hero,” kenangnya. Namun saat itu ia tidak langsung belajar lagu-lagu bertempo cepat seperti yang dimainkan para idolanya tersebut, tetapi lebih memilih mengulik lagu balada seperti “Soldier of Fortune” (Deep Purple) dan “Stairway to Heaven” (Led Zeppelin).

Pria kelahiran 26 April ini merupakan gitaris otodidak yang belajar melalui koleksi kasetnya serta mendalami teori musik melalui video, serta buku-buku Music Institute, Berklee College of Music, Hal Leonard, dan lain-lain. Namun ia juga pernah menuntut ilmu dari sejumlah gitaris lokal Bogor dengan cara yang unik. “Belajarnya lucu. Dari RT ke RT…misalkan gue denger ada gitaris jago dari daerah ‘A’ gue satronin tuh, PDKT gitu. Padahal pengen nyuri-nyuri ilmu. Begitu seterusnya. Dan Puji Tuhan mereka yang gue datengin welcome semua, nggak ada yang sombong,” kisah Marsel.

Kendati saat ini dikenal sebagai gitaris solo yang super cepat, namun sebenarnya Marcell pernah membentuk dan terlibat di sejumlah band. Sebut saja Djuara, Starlight Generation, Mr.Bean, PlusMinus, Spongebob, Grifone, dan Maxima. Dan sebagai gitaris solo Marsel kini telah memiliki sejumlah karya instrumental baik yang menampilkan pola permainan shredding maupun fingerstyle. Di antaranya adalah “Back From The East”, “Balapan Liar”, dan “The Outer Side”. Rencananya dalam waktu dekat lagu-lagu tersebut bakal dirilis dalam sebuah album.

Raka ‘Akhatea’ Herdian

Terlahir pada Oktober 1989, Raka Herdian terlanjur memilih jalan untuk menjadi gitaris solo dan emoh tergabung secara permanen dalam sebuah band. Alasannya cukup jelas, ia merasa sulit menyamakan ego dengan orang lain serta susah mengatur waktu latihan dan manggung dengan jadwal pekerjaan utamanya yang kadang mengharuskannya bekerja di akhir pekan. Namun, ucapnya, gitar tetap lah yang utama.

Karenanya, ia akan selalu menyisihkan waktunya untuk mencumbui alat musik petik itu meskipun hal tersebut dilakukan di malam hari saat ia kesulitan memejamkan kedua bola matanya. Sementara ajakan ngeband dari rekan-rekannya hanya akan ia ambil sesekali saat ia benar-benar memiliki jadwal kosong. Itu pun, tetap dengan status additional. “Saya agak idealis. Selain dalam hal selera juga dalam hal jadwal. Lebih baik menjalani status sebagai gitaris solo aja,” ucap pria yang mengidolakan gitaris Kotak Cella.

Sayangnya, kendati telah memilih untuk menjadi gitaris solo Raka justru belum memiliki stok lagu yang cukup banyak. Selain lagu “Heart, Mind & Soul” yang ia libatkan ke dalam kompetisi gitar online bergengsi garapan Majalah GitarPlus “Supergitar Competition 2014”, gitaris yang jarang mengumbar pola permainan cepat ini mutlak hanya memainkan lagu-lagu dari para gitaris panutannya saat ia tampil di sejumlah acara berorientasi gitar. Lalu hambatan apa saja yang membuatnya menjadi kurang produktif? “Buat saya main musik itu cuma buat hobi, nggak ngejar target. Niat bikin lagu dan album sebenernya ada dan pengen banget. Tapi santai aja lah.”

Raka sendiri sudah mengenal gitar sejak ia masih mengenyam pendidikan di bangku SD dan mulai serius memainkannya setelah masuk SMP. Lagu pertama yang diuliknya sendiri adalah “Begitu Indah” dari Padi yang menurutnya memiliki aransemen asik dan ear-catching. Sepanjang perjalanan bermusiknya, sebagai gitaris, Raka pernah menyabet gelar gitaris terbaik di sebuah festival yang dihelat oleh band Kotak saat mereka merayakan hari jadinya yang ke-8 pada 2012 lalu. Sementara band yang menaungi Raka saat itu, D’Glamours, sukses meraih juara kedua.

Raka juga berhasil mengalahkan dua pesaingnya, Mahesa dan Yonas Prayudhi, setelah terpilih sebagai gitaris yang memiliki jumlah voting terbanyak plus kualitas permainan gitar, komposisi serta video (durasi, terlihat wajah, dan penggunakan satu kamera) yang paling memenuhi syarat di “Supergitar Competition 2014″. Sebagai juara favorit, selain mendapatkan sejumlah hadiah Raka juga dilibatkan ke dalam album kompilasi “Nothing But Guitar Vol. 2″ berbagi tempat dengan barisan gitaris nomor wahid Tanah Air dan gitaris Guns N’ Roses Ron “Bumblefoot” Thal.

Shena Ariyandi

Selain karena melihat sepupunya, alasan Shena Ariyandi memilih gitar sebagai ‘tambatan hatinya’ didasari atas ketertarikannya kepada frontman band grunge Nirvana, Kurt Cobain. Dari situ gairahnya pun memuncak, hingga pada 1996 ia menimba ilmu gitar di Yamaha dan mulai mengulik salah satu lagu kesukaannya, “Radja” dari/rif.

Gitar pertamanya adalah sebuah gitar akustik (nylon) merk Yamaha yang didapatkan dari ibunya, sebelum kemudian ia mendapatkan gitar custom dari salah satu saudaranya dan membeli gitar PRS SE custom hasil dari koceknya sendiri pada tahun 2010.

Saat ini Shena masih tercatat sebagai gitaris Kesna, band pop yang pernah masuk nominasi ‘Anugerah Planet Muzik Award’ (Indonesia, Malaysia, Singapura) untuk kategori ‘Best Group or Duo’. Bersama Kesna, Shena juga telah menghasilkan karya rekam seperti album “Dari Hati ke Hati” (2011) serta sejumlah singel termasuk nomor lama karya Chrisye dan Taufik Ismail “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.

Kendati memainkan genre pop bersama Kesna dan bandnya yang lain, Play – telah merilis singel “Indahnya Dunia” pada Agustus 2015 – namun Shena mengaku sangat mengidolakan Paul Gilbert yang dianggapnya memiliki teknik alternate picking yang begitu menginspirasi. Namun demikian, gitaris kelahiran Bandung, 20 Februari 1986 ini juga mengagumi Brian May, Jimi Hendrix, Jeff Beck dan gitaris band GIGI Dewa Budjana.