Dede Aldrian, “Voice of Ethnic”

“Voice of Ethnic” merupakan bukti absolut dari sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Melalui album perdananya ini, gitaris asal Bogor Dede Aldrian tak hanya merealisasikan bunga-bunga tidurnya, tetapi juga membuktikan kepiawaiannya dalam meramu komposisi instrumental sekaligus menggoreskan stigma ‘etnik’ pada dirinya sendiri. Ya, nuansa etnik Sunda yang dikawinkan dengan polesan rock modern hasil eksekusi Dede benar-benar menghasilkan barisan komposisi unik, identik sekaligus ciamik.

Bagi gitaris yang memiliki tipe permainan shredding seperti Dede, apalagi telah memiliki lebih dari 150 lagu sendiri yang sebagian besar di antaranya bercorak neo-classical metal, berpartisipasi dalam gerakan pengabadian musik etnik tentu merupakan hal yang wajib diapresiasi. Di usia yang masih sangat muda, 20 tahun, Dede tidak berusaha mencari jati diri melalui jalur ‘mainstream’ ala kebanyakan gitaris metal. Sebaliknya, ia fokus menggaungkan musik ‘tak lazim’ asal daerah kelahirannya, Bogor, Jawa Barat, dengan segala tingkat keunikannya yang tinggi.

“Sebetulnya saya ingin eksplor semua musik etnik Indonesia termasuk Sumatera (Padang), Kalimantan, Bali, dan lain-lain. Tetapi dikarenakan banyak dan bermacam-macam jenisnya, akhirnya saya putuskan di album ini hanya fokus ke daerah dimana saya berasal, yakni Jawa Barat. Tapi jangan salah, musik Sunda dan Bali memiliki banyak kesamaan. Sama-sama ada gamelannya, gendangnya, sulingnya, dan lainnya,” ujar Dede.

“Voice of Ethnic” sendiri dirilis pada 3 Mei 2015 atau bertepatan dengan hari ulang tahun Dede yang ke-20 dimana menurut dirinya, kehidupan seseorang akan mengalami banyak perubahan setelah melewati fase usia kepala satu menuju kepala dua. Perubahan itu mencakup pola pikir dan pendewasaan diri dimana semuanya tak akan pernah terwujud tanpa campur tangan Tuhan YME. “Mungkin ini petunjuk dari Allah SWT yang menggerakkan hati kami, entah kenapa berkeinginan menyelesaikan album ini bertepatan dengan hari kelahiran Dede,” Fosil Haris, produser album sekaligus ayah Dede menjelaskan.

Dari 11 trek yang bersemayam di dalamnya, tujuh lagu merupakan lagu lama yang sering dipublikasikan Dede di media sosial maupun di atas panggung. Sedangkan empat lainnya sengaja dibuat di tahun 2015 untuk melengkapi album ini, yakni “Sundanese Funky”, “Gitar Suling”, “Jurig Awewe (Santet)” dan “Sabilulungan Rock II”. Khusus “Jurig Awewe (Santet)”, menampilkan gitaris band Kesna Shena Ariyandi yang kebetulan berada di bawah naungan komunitas gitar yang sama dengan Dede, Bogor Guitar Funatics (BGF). Tipe permainan gitar Shena yang jazzy menjadi alasan utama Dede melibatkan gitaris berkaca mata itu.

Contact (interview, booking, etc): 0813 1976 4080, 0857 1418 7579 (Fosil Haris)
Email: dedealdrian@gmail.com

PLAY, “Indahnya Dunia”

Berawal dari rasa kepedulian dan keprihatinan terhadap berbagai bencana yang disebabkan ulah tangan manusia seperti banjir, abrasi, tanah longsor, atau yang terbaru dan terus berulang – kebakaran hutan – PLAY, unit pop rock pendatang baru berbasis Kota Hujan Bogor tersentuh hatinya untuk berbuat sesuatu.

Bentuk empati band yang beranggotakan Iman (vokal), Shena (gitar, Kesna), Helvi (bass, eks Khabut dan additional Seurieus), dan Satria (dram, eks Juliette) memang bukan berupa penggalangan dana atau pengumpulan donasi bagi para korban. Melainkan dalam bentuk rekaman singel yang disumbangkan kepada Greenpeace untuk dijadikan salah satu penghias kegiatan organisasi lingkungan global tersebut.

Meski tidak 100 persen memulihkan ‘noda’ akibat bencana, namun apa yang dilakukan PLAY ini diharapkan mampu mengingatkan manusia untuk tidak berbuat keji terhadap lingkungan sekitar. Dengan barisan lirik yang berisi ajakan untuk tetap menjaga keindahan alam agar tetap lestari, muatan positif dalam lagu bertajuk “Indahnya Dunia” ini begitu kuat. “Lindungi duniamu, cintai alammu, indahnya dunia, semua sementara… Lindungi duniamu, cintai alammu, indahnya dunia, semua kuasa-Nya….” Apalagi mereka membungkusnya dengan tetesan musik sederhana yang diyakini bisa dengan mudah menembus gendang telinga semua lapisan masyarakat.

Barisan komposisi yang dihidangkan PLAY merupakan menu pop yang terpapar virus berbagai genre dengan guyuran bass dan dram yang tight serta balutan harmonisasi gitar simpel, easy listening tapi well produced. “Kami berusaha memainkan segala macam genre musik sebebas mungkin, tapi kami juga berusaha untuk tetap nge-pop. Alasan kami ingin dikategorikan sebagai band pop karena kami ingin menarik pendengar dari berbagai kalangan,” ucap Shena mewakili rekan-rekannya.

PLAY sendiri baru saja merampungkan proses penggarapan album perdananya yang berlabel self-titled. Dan “Indahnya Dunia”, yang didaulat sebagai gerbang pembuka album tersebut akan dirilis secara komersil dalam format digital melalui iTunes dan Verizon dalam waktu dekat. Setelah merilis empat singel secara bertahap, rencananya album berisi 11 lagu ini bakal mereka luncurkan dalam format fisik di bawah naungan label independen bernama YPL Record dan juga akan disebarkan dalam bentuk aplikasi di Google Play pada awal 2016 mendatang.

PLAY
Contact (interview, booking, etc): Shena Ariyandi (0878 7051 2278)
Email: shena.ariyandi@gmail.com

Richie Rich Band

Segala yang berhubungan dengan vokalis Riki, gitaris Tmon, basis Iwock, dan pemain drum Acel identik dengan suasana rock 80an. Memang bukan mereka band pertama yang sering membawakan lagu-lagu Mr. Big, Guns N’ Roses, Metallica, dan God Bless. Tapi dimanapun mereka tampil, hampir bisa dipastikan jenis musik inilah yang bakal berkumandang.

Inilah yang coba mereka pertahankan pada lagu andalan ‘Cintailah Aku’. Meski terdengar lebih modern dengan sentuhan techno di bagian intro dan outro-nya. Tapi kekuatan gitar solo Tmon yang bernuasa old school glam sangat menggambarkan konsistensi Richie Rich pada genrenya. Bukan plagiat, tapi inilah yang dinamakan inspirasi.

‘Cintailah Aku’ sendiri menceritakan kisah pribadi Riki saat mencintai seorang gadis yang sulit diraih hatinya. Dibantu seorang teman bernama Yanna Tubil dalam membuat lagu, karakter vokal Riki yang low dan berat begitu khas dengan balutan aransemen musik yang enerjik.

Sedangkan ‘Kau’ adalah koleksi lama Riki yang diaransemen ulang oleh Tmon. Lagu ini dibuat dua belas tahun yang lalu dan mengisahkan cinta dalam arti yang universal. Bukan cinta yang melulu ditujukan pada seorang gadis, tetapi cinta yang bisa juga dipersembahkan pada orang tua dan sahabat. Komposisi musik dalam lagu ini begitu ear-catching. Apalagi ditambah dentingan piano dan petikan gitar akustik, hasilnya benar-benar mainstream.

Richie Rich dibentuk April 2008 dengan formasi Riki (vokal), Tmon (gitar), Iwock (bass), dan Acel (drum) di Pamagersari Leuwimekar – Leuwiliang Bogor. Tak ada arti atau filosofi khusus atas pemilihan nama ini. Alasan yang paling tepat, nama Richie Rich diambil dari judul film kartun kesukaan Riki yang diputar TVRI sekitar pertengahan tahun 80an.

Dengan formasi ini, Richie Rich berusaha eksis selama mungkin di tengah invasi band-band yang tak kalah mentereng. Dan lagu ‘Cintailah Aku’ serta ‘Kau’ diharapkan menjadi batu loncatan mereka dalam mengarungi rimba raya musik Bogor barat khususnya dan Tanah Air umumnya.

Richie Rich:
Riki (vokal), Tmon (gitar), Iwock (bass), Acel (dram)

Judul lagu:
1. Cintailah Aku
2. Kau

Rock Fresh Ala Seurieus

Kuintet rock asal Kota Kembang Bandung Seurieus bangkit dari tidur panjangnya dengan melempar album baru bertajuk “V” (Red Music Indonesia) sejak 5 November 2012 lalu. Perubahan terjadi pada sisi vokal, karena sejak ditinggal Candil lima tahun lalu, posisi ini kini diisi oleh pria bernama Boym. Bebunyian kibord juga sudah tak lagi terdengar sejak Ezy keluar. “Kalau sekarang pure rock yang ide awalnya gitar semua. Tapi konsep musiknya tetap sama dengan dulu karena yang main kan masih kami,” gitaris Kokow menjelaskan.

Kendati benang merah musiknya masih sama, namun dalam proses kreatif penggarapan lagu ternyata ada yang berubah. Saat masih ada Candil, Seurieus kerap melakukan jamming meski vokalis bersuara melengking itu sering tak terlibat dalam sesi tersebut. Kini, ada beberapa lagu yang dibuat on the spot oleh Kokow (gitar), Dinar (gitar), Mulki (bass) dan Hayamz (dram). “Hasilnya sangat fresh!” lanjutnya.

Gitaris yang juga berprofesi sebagai dosen seni rupa di Universitas Negeri Jakarta ini menambahkan, saat pertama kali mencari pengganti Candil mereka memang emoh mencari vokalis yang karakter vokalnya sama dengan dia. “Saat itu kan lagi kenceng-kencengnya sakit hati sama Candil jadi sempet ada ucapan ‘gue nggak mau punya vokalis kayak dia lagi’ hahaha…. Terus akhirnya setelah proses audisi nggak dapet, Kang Baron (eks gitaris Gigi) rekomendasiin Boym dan ternyata vokal dia itu lebih bernyanyi, lownya lebih enak dibanding Candil. Di mixingan juga nggak bentrok sama gitar. Kalau dulu kan selalu diotak-atik karena nada tinggi lead gitar gue selalu bentrok sama suaranya Candil. Kalau sekarang nggak…lebih aman. Dan dengan masuknya Boym, musik Seurieus itu gue analogikan begini…. ibarat gulai, dulu gulai ayam sekarang gulai kambing hahaha…”

Untuk aransemen lagu-lagu di album baru ini, Kokow mengaku tak memiliki referensi khusus dan cenderung membiarkan semuanya mengalir. “Kalau urusan aransemen kami udah refleks yah. Apalagi gue… mainin apa yang gue bisa dan gue tahu, kecuali kalau mixing misalnya Dinar ngedirect gue, gitarnya didobelin atau diapain, ditambahin high atau lownya gitu. Tapi sekarang ada tugas-tugas gitar yang harus mengisi frekuensi kibord yang kosong. Dan itu biasanya baru ketauan di hasil recording sama Hayamz (yang juga berperan sebagai engineer) atau Dinar. Kalau gue kan emang orangnya lempeng yah….block yah block aja hahaha…kadang semua part udah jadi tapi gue belum bikin leadnya hahaha…”

Pembagian porsi gitar antara Koko dan Dinar juga lebih bersifat spontan tanpa pendiskusian terlebih dahulu. “Kadang Dinar ngisi semua, karena yang lebih punya visi aransemen itu dia. Dia ngisi ritem, ngisi block, ada beberapa lead juga dia ambil. Jadi kadang sebelum gue ngetake, dia ngetake lead duluan dan ternyata bagus, ya udahlah ngapain lagi diganti hehehe…. Kalau emang gue disisain part lead yah gue ngelead tapi kalau nggak disisain gue nggak mau ngelead hahaha…Tapi kalau block memang harus dua gitar yah karena kan beda strumming.”

Dan secara keseluruhan, Kokow merasa paling kreatif dan eksplor di lagu-lagu yang notabene merupakan ciptaannya sendiri seperti “Piranha Wanita” dan “Izinkanlah”. “Lagu itu (Piranha Wanita) lumayan aneh. Jadi intronya baru gue masukin setelah lagunya udah jadi. Gue pengen masukin intro itu ke lagu lain sebenarnya tapi akhirnya dimasukin ke lagu ini. Ini lebih ke Van Halen deh lagunya. Terus kalau “Izinkahlah” itu kan agak bluesy yah, anak-anak sampai bilang ini kayak lagu Slank jaman dulu hahaha… dan akhirnya leadnya pun gue bikin kayak Pay nuansanya, soundnya pun dapet banget. Buat gue Pay itu bisa dibilang inspirasi lah.”

Seluruh proses rekaman gitar dilakukan Koko di studio Damai 75, Cipete Utara, Jakarta Selatan dengan menggunakan sistem direct dan todong. Kokow memaksimalkan penggunaan gitar banez S520EX, Fender Mexico 1992 dan gitar customnya (body Charvel, neck Jackson, tremolo Ibanez Floyd Rose) saat rekaman yang dipadukan dengan ampli Marshall JCM 2000 TSL, plus efek Fox Tonelab LE serta POD HD 500. Sedangkan Dinar, yang hanya menggunakan sistem todong, mempersenjatai diri dengan gitar Fender Highway dan Ernie Ball Sub-1, ampli Marshal JCM 2000 TSL serta efek POD XT Live.

Gebrakan Alone At Last

Album baru pasukan post hardcore Alone At Last, “Integriti”, memang baru dirilis Oktober 2012 lalu via Lonely End Records. Namun hanya dalam waktu tiga pekan album penuh kedua band asal Bandung ini langsung sold out dan harus dirilis ulang. Sejumlah pemesan dari mancanegara seperti Australia, Jepang dan Uni Emirat Arab kini bahkan rela melakukan pre-order via online demi mendapatkan album tersebut.

“Kami juga nggak nyangka album ini bakal habis secepat itu. Padahal distribusinya hanya via online order. Album ini memang sangat diantisipasi para simpatisan kami. Apalagi proses penggarapannya terhitung lama, sekitar satu setengah tahun. Tak heran 1000 keping langsung ludes,” kata manajer band Ikrar Hasibuan kepada Metalpit.

Materi yang terkandung dalam album ini sendiri memang jauh berbeda dengan dua album sebelumnya, “Sendiri Vs Dunia” (EP, 2004) dan “Jiwa” (album penuh, 2008). “Sebelumnya banyak yang mengira album ini bakal menghadirkan perpaduan dua album itu. Tapi nyatanya nggak,” tambah Ikrar. Barisan nada dan lirik dalam batang tubuh album ini mengalir lebih dewasa, khususnya dalam mengartikukalikan emosi dan kritik terhadap kemapanan sosial yang ada.

“Sebagaimana judul albumnya, pesan utama yang ingin disampaikan dalam album ini menekankan pentingnya integritas sosial: agar masing-masing dari diri kita dapat terus semangat, tetap bersama dan bersatu melawan proses alienasi yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari,” demikan penuturan band menurut siaran pers yang diterima Metalpit.

Salah satu singelnya, “Classis War is a Modern Wars”, bahkan menyuguhkan distorsi berat dan tebal dengan beat dram ganjil, bebunyian efek modul dan penuh dengan vokal scream. Lagu ini sendiri mengisahkan tentang perang, kemerdekaan, kehancuran, dan sejarah. Sementara dalam nomor lainnya seperti “Saat Dunia Tak Menatap Ke Arahmu” dan “Cinta”, nuansa glamrock, rock, pop, emo dan shoegaze bercampur apik hingga melahirkan kekuatan musikal yang elegan.

Sejak terbentuk di Bandung pada 2002 silam band yang digawangi Yas (vokal), Ubey (bass), Athink (dram), Ucay (gitar) dan Papap (gitar) ini memang selalu berada di garda depan genre musik emo. Dan hingga detik ini, Yas dkk bahkan mampu menyedot ribuan simpatisan yang dinamakan Stand Alone Crew (SAC) yang tersebar hampir di seluruh penjuru Tanah Air.

Kendati tak pernah membatasi diri dalam salah satu jeratan genre musik dan hanya mengklaim sebagai band pengusung musik rock yang biasa-biasa saja. Namun, banyak pihak justru menganggap mereka sebagai band pengusung emo atau post-hardcore yang memiliki posisi penting di scene emo Tanah Air. Di setiap penampilan panggungnya, Yas dkk bahkan kerap menghadirkan sing-along dan moshing dari para audiens.

Selama lebih dari satu dekade Alone At Last telah merilis satu EP “Sendiri Vs. Dunia” (2004), dua album penuh “Jiwa” (2008, Absolute Records) dan “Integriti” (2012) serta sejumlah singel; “No More Worries” (2002), “No Feeling” (2003), dan “Takkan Terhenti Disini” (2010). Khusus nomor yang terakhir, bahkan sukses menerbangkan mereka ke posisi puncak tangga lagu PureVolume selama satu pekan berturut-turut di tahun 2010.

Tak sampai di situ. Menurut survey ReverbNation pada 2012 Alone At Last juga menempati posisi terdepan di spektrum lokal dan ke-12 di level nasional, dan tentu saja akan terus merangkak naik. Dengan dirilis ulangnya album “Integriti” ini bukan tidak mungkin Alone At Last bakal menebarkan virus musiknya lebih jauh lagi dan menggebrak lebih sadis lagi.

Album ‘Gila’ Giga Of Spirit

Album penuh perdana pasukan nu metal Semarang Giga Of Spirit, “Listen and Insane”, memang telah dirilis secara independen sejak 1 April 2012 , tapi pada 15 Oktober 2012 kemarin album ini dirilis ulang dalam format digital oleh label berbasis Mexico, Absolute Rockwave, dan tersedia di sejumlah toko online mancanegera semisal amazon.com, vinyl-distribution.co.uk dan rhapsody.com. Apa sih yang menarik dari album ini?

Menurut Kira (vokal), Rae (vokal), Suaz (bass), Hamham (gitar) dan Anton (dram) album ini menawarkan perselingkuhan distorsi gitar heavy, groove dram cepat dan isian bass melodik. Kira dkk juga berani menyentuh berbagai wilayah genre musik demi memberi kesan nyaman kepada para pendengar musik di luar metal. Dengan memadukan elemen-elemen musik metal, rock, punk hingga pop mereka menciptakan barisan komposisi musik yang asik sekaligus menghibur.

Isian-isian gitar yang ditampilkan Hamham juga sangat bertenaga dan galak dimana unsur-unsur musik dari Maximum The Hormone, Slipknot, Iron Maiden dan Trivium begitu kentara. “Isian-isian gitar Hamham di album ini memang lebih mengacu ke lagu-lagu keras, tapi untuk kebutuhan referensi dia juga mengambil lagu-lagu dari genre lain seperti jazz, blues, pop, pop rock dan lainnya. Dia juga banyak mendengarkan lagu-lagu dari Pearl Jam, Guns N Roses, Blink 182, Pink Floyd hingga Led Zeppelin,” jelas Anton mewakili rekan-rekannya kepada Metalpit.

Dari sisi lirik, Kira – sebagai eksekutor utama penulis lirik – berusaha merangkai kata-kata yang bisa melecut semangat sekaligus membuat para pendengar musik menjadi ‘gila’ kala mendengarkan lagu-lagu mereka. “Kami sudah mempertimbangkan lirik yang kami buat. Tidak asal bikin dan sebisa mungkin membuat pendengar tertarik dan penasaran terhadap lirik itu. Lirik itu ibarat bahasa band, konsep band tergantung pada kekuatan lirik itu juga,” kata Anton lagi.

Sisi menarik lain dari band yang terbentuk sejak 19 September 2008 ini adalah konsep dua vokalis yang mampu menghidangkan tiga jenis vokal; soft, rap dan juga growl. “Dengan adanya vokal cewek (soft) kami mempunyai analogi hal itu bisa memperlembut musik keras di telinga penikmat musik secara keseluruhan,” kata Anton. Meski kemudian Kira menimpali dengan mengatakan, “Inilah yang disebut dengan gaya-gayaan yang sesuai kebutuhan. Variasilah biar nggak bosan.”

Kini, mampukah Giga Of Spirit bertahan hidup dengan musik yang tidak tren? “Kami akan menghadapi semua ini dengan berusaha memperkuat tim kami. Kami juga akan terus berkarya, menyuguhkan materi-materi lagu yang menarik pendengar dan memperluas cakupan pendengar. Dan sebisa mungkin kami tetap konsisten dengan konsep kami. Dengan kata lain, mempertahankan karakter adalah kunci untuk tetap dinikmati,” Anton menyimpulkan.

Album Pembuktian Firman Al Hakim

Awal November 2012 kemarin, salah satu shredder terbaik Tanah Air Firman Al Hakim telah meluncurkan album mini perdananya yang bertajuk “ Optimus Neoclassicus Symphonius In A Minor”. Sesuai judulnya, enam trek yang berada di dalamnya dikemas dalam balutan musik neoclassical yang telah mempengaruhinya sejak 16 tahun silam. “Awalnya saya suka Metallica, tapi kemudian dipengaruhin teman supaya dengerin Yngwie Malmsteen sekitar tahun 1997an, dari situ saya memang nggak ada keinginan buat bikin band pop, tapi langsung intrumental kayak Yngwie. Apalagi saya juga mulai dengerin turunan-turunan Yngwie kayak Joe Stump, Paul Gilbert, Jason Becker, Marty Friedman,” jelas gitaris berjanggut yang mulai belajar gitar sejak tahun 1994 ini.

Proses penggarapan album ini terbilang singkat, hanya lima bulan, namun beberapa potongan lick sudah ditabungnya sejak lama. “Semua materi bener-bener digarap serius mulai bulan Maret 2012 kemaren dan selesai bulan Agustus. Kalau trek yang paling pendek ini, “Symphony No. 5”, saya garapnya cuma satu bulan. Memang banyak kekurangan di sana sini karena buru-buru. Sekitar tahun 1999 beberapa lick udah sering nongol pas saya main gitar dan langsung saya simpan. Beberapa lagu bahkan udah saya mainin di panggung-panggung sejak tahun 2008, “Symphony No.6” malah udah saya masukin di album kompilasi “Gitar Klinik 2” (2004), sekarang saya rombak ulang tapi nggak ngerubah temanya.”

Kendati hanya lima bulan, namun bukan berarti Firman tidak mengalami kesulitan saat menjalani proses rekaman. “Nyiptain ritemnya itu yang paling sulit, gimana caranya biar nggak terkesan maksain. Karena di sini kan banyak overtone dan itu harus menuruti keinginan saya sendiri. Ritemnya itu harus ketat banget…rapet. Untuk gitu ngerekam ritem itu kan nggak bisa full gain yah…kering banget, sustainnya harus pendek sementara saya nggak biasa hahaha…susah banget. Ngedirect dram juga agak sulit, karena ketukannya harus gimana mau saya. Kadang saya bayangin harus gimana dulu terus diterjemahin sama dramernya…agak lama memang. Patternnya saya yang buat, improvenya dia.”

Untuk proses rekamannya sendiri Firman menggunakan sistem yang sangat sederhana, “Semuanya plug ini, langsung ke Line 6. Saya cuma edit-edit dikit aja. Saya nggak mau ribet. Kalau saya terpengaruh apa kata orang harus begini begitu jadi nggak selesai-selesai rekamannya. Saya pake dua gitar; buat leadnya Shredder, buat ritemnya Ibanez, dua-duanya 8 senar. Tapi terus terang, untuk gitar ini sebenarnya saya cuma pake 7 senar, untuk ritemnya saya drop A. Senar 8 nya nggak saya pake, belum ada ide sampai sekarang hahaha… Karena saya pikir buat apa… shred-shred, kebut-kebutan kayak gini 7 senar aja udah cukup lah.”

“Saya pernah nyobain pake sistem todong. Aduh… ribet banget, ngusahain suaranya enak aja makan waktu dan cenderung nggak stabil. Ampli-ampli tabung itu kan tergantung listrik yah, kalau listriknya nggak stabil yah jadi beda, mik beda dikit juga jadi beda. Enakan gini aja kan… dari awal sampai akhir konstan. Terus di sini saya juga main bass yah kecuali di trek ke-5. Bassnya saya pake Fender lima senar,” gitaris yang pernah berguru secara singkat kepada Tjahjo Wisanggeni dan Donnie Suhendra ini menambahkan.

Dan yang paling penting, melalui album ini Firman telah membuktian konsistensi sekaligus eksistensi.
“Dengan album ini saya ingin menyampaikan bahwa ‘inilah saya’. Proyek ini untuk nyenengin diri saya sendiri dan nggak niat buat ngikutin pasar. Kalau ngikutin pasar nggak ada selesainya. Apalagi beberapa tahun ini kan saya diendorse sama beberapa produk, di situ orang-orang sering nanya, “Firman mana sih?”, “Karyanya mana?”. Dan sekarang yang penting ada karya dulu, selanjutnya baru dipikirkan lebih matang,” pungkas gitaris yang berniat menghidangkan konsep full akustik di album keduanya.